GA 229, SOC-CGK

Akhir pekan lalu, saya dan suami bertolak kembali ke Jakarta dari Solo, melalui Bandara Adi Soemarmo. Saat tengah menunggu giliran masuk pesawat di tengah antrian panjang, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara sedikit gaduh di belakang. Spontan menoleh, beberapa orang pun melakukan hal yang sama. Bahkan tak sedikit yang bergegas menghampiri ke arah kerumunan. Sesosok pria dengan wajah sangat familiar berdiri di tengah-tengah orang yang berebut untuk menyapa dan berfoto bersama. Mengenakan celana jeans, kemeja putih bertangan panjang yang digulung, menyandang ransel hitam di pundak, ia terlihat sedikit lelah, namun secara umum terkesan santai, tenang dan ramah. Pria itu menebar senyuman khasnya. Dia orang nomer satu di DKI, Joko Widodo yang tenar dengan sapaan akrab Jokowi. 

Saya ikut berdegup melihat kehadiran beliau, terutama melihat antusiasme orang-orang di ruang tunggu keberangkatan. Seolah semua merasa ingin mendekat dan menyapa. Sangat tergelitik untuk ikut menghampiri beliau, namun saya pun separuh mengingatkan diri sendiri sebenarnya, jangan sampai proses boarding terganggu. Terlebih, kerumunan berjarak agak jauh dari titik kami berdiri dan terhalang beberapa penumpang lain. Saya berusaha fokus pada antrian, meski sesekali masih juga melihat ke belakang. ‘Dzziig!’ Ada rasa yang sedikit asing, namun membuat saya tiba-tiba dijalari perasaan haru mendalam. Semacam cubitan bercampur pelukan hangat.

Belum tuntas keheranan, berikutnya saya kembali menyaksikan sesuatu yang langka di negeri ini: seorang pejabat publik terkemuka ikut di dalam antrian masuk ke pesawat, untuk kemudian duduk di bangku belakang: kelas ekonomi! Dalam penggambaran bak tokoh kartun, mungkin rahang saya sudah terlepas jatuh ke lantai. Baru kali ini saya duduk lebih depan daripada seorang pejabat. :-P Bukan tanpa alasan. Sudah terlalu sering saya menyaksikan bagaimana pongahnya perangai para penguasa ketika menggunakan fasilitas publik. Jangankan mereka, para asisten dan lingkaran terdekatnya juga kerap bertingkah berlebihan, selalu minta dilayani, diistimewakan dan dimaklumi setiap kali mereka hadir. Tidak banyak yang lebih memuakkan dari hal tersebut.  

Pria itu, datang seorang diri tanpa kawalan. Sikap tubuhnya begitu alami, tenang dan apa adanya. Ia membaur dengan orang lain tanpa rasa canggung atau kedekatan buatan ala pejabat pada umumnya; senyum lebar saat tersorot kamera TV dan kembali basi saat off air. Sikap yang saya yakini hanya bisa muncul lewat adanya keinginan tulus untuk menghargai orang lain, dari hatinya. Tanpa upaya ‘lebay’ atau jumawa berlebihan, saya melihat bagaimana ia disambut reaksi spontan dan sikap hangat yang diperlihatkan oleh orang-orang di sekitar beliau. Sangat mungkin dada saya sesak karena melihat hal yang sangat bertolak belakang dengan pandangan umum, namun merupakan sesuatu yang sangat saya rindukan: pemimpin sebenarnya. Bukan semata pejabat; seorang yang tengah menjabat posisi sebagai pimpinan. Turun dari pesawat, Pak Jokowi mengikuti jalur umum; antri, turun tangga dan menaiki bus bandara yang mengantarkan ke terminal kedatangan; seorang diri. Kepala saya langsung berhitung mengkalkulasi taksiran biaya yang bisa dihemat antara perjalanan beliau dibandingkan dengan para pejabat yang memerlukan antek-antek dan tetek bengek yang lebih ke arah tiada manfaat itu. 

Image

Apa yang baru saja saya saksikan membuat sepanjang penerbangan dan perjalanan saya pun menjadi super cengeng; bukan karena turbulensi atau macet Jakarta. Tapi karena mendapati sesuatu yang sangat langka dan berharga. Rasanya baru kali kemarin selama di udara saya memanjatkan doa yang berbeda tema. ;) Dari dasar hati terdalam saya memohon agar Allah SWT melimpahkan berkah dan kemudahan bagi para pemimpin yang benar-benar ikhlas dan tulus bekerja untuk rakyat. Semoga mereka diberikan kesehatan lahir batin, menghadapi masalah dan tantangan yang begitu banyak di negara ini. Saya tidak berhasil mengingat, kapan terakhir kali saya berdoa hal yang sama. Hhm.. sebegitu parahnya mungkin persepsi saya tentang pemimpin/para pejabat pada umumnya, sehingga hati saya kurang tergerak untuk mendoakan. :-o

Suami saya pun tersenyum menyetujui, ketika saya mendeklarasikan bahwa perjalanan pulang kemarin merupakan ‘goceng paling berharga yang pernah dibayarkan’. Hehe.. kebetulan dengan memanfaatkan akumulasi mileage frequent flyer, masing-masing kami memang hanya membayar Rp. 5000,- untuk penerbangan tersebut. :D 

About these ads

561 gagasan untuk “GA 229, SOC-CGK

  1. politik emang kejam…. dengan elektabilitas seperti jokowi, pejabat mana yg gak keder wkwkwkwk, skrg ini apapun bisa jadi pencitraan, segala cara pasti dilakukan untuk menjatuhkan lawan kan… berdoa saja semoga diberikan pemimpin yg baik dan mata rakyat pun bisa terbuka untuk melihat pemimpin yg benar2 baik :))

  2. Saya bukan seseorang yang peduli politik nor orang yang melek politik, tapi baca artikel ini bikin terharu banget. Semoga beliau tetep istiqomah merakyat :’)
    Cuma yang namanya politik, nanti ada aja yang nyinyir sama sikap jokowi demi kepentingan pribadi. Semoga masyarakat kita cepet sadar

  3. Jokowi Memang Manstab Hidup Jokowi yang seperti ini tidak usah diragukan lagi persetan dengan orang-orang yg menjatuhkan dia kami tetap mendukung kerja nyata Jokowi

  4. Tulisan yang inspiratif. Semoga lebih banyak lagi pejabat-pejabat publik yang meneladan hal serupa, bukan hanya untuk pencitraan tapi melakukannya dengan tulus. Boleh saya re-blog? Terima kasih. Salam.

  5. Artikel BASI …skrg mah JOKOWOW berubah, naik pesawat pribadi….yg beliin siapa ya? Sdh pasti konglo hitam alias antek AMRIK…duh sedih gw dari dulu gak pernah MERDEKA!

  6. Ini yang bisa dibilang fanatisme membabi buta. sudah tau salah tapi dibela. bicara fakta tapi dibilang fitnah. merasa yang paling di zholimi dll. siapapun dia, kalau faktanya demikian, proporsional kita menanggapinya. Pak Jokowi kalau memang merakyat, ya kita bilang merakyat, tanpa ada embel2 pencitraan dll. Tapi kalau uztad faktanya nyolong masa kita bela juga? sesuai dengan fakta jugalah pemberitannya.

  7. saya juga pernah mendapatkan kesan yang sama dengan penulis, kepada mantan walikota Padang F****i B****r., yang mau antre dibelakang saya pas beli hp. beliau juga bertanya ke pemilik counter untuk tukar tambah hp usangnya…. low profile sekali. Tapi yang terjadi setelah beberapa bulan di berkuasa……kota padang berantakan.

    • Kalau semua orang di Indonesia udah berpandangan seperti anda, maka negara ini akan hancur–yang seharusnya menjadi kelakuan terpuji malah anda claim pencitraan, sedangkan kelakuan pejabat spt yang skrg terjadi anda anggap normal. Memang Indonesia sudah sakit…

    • oon.. itu kejadian tahun 2013. kalaupun itu pencitraan.. itu adalah pencitraaan yang sangat baik dan sangat beresiko. Disaat pejabat publik pada umumnya lebay dan pengen disanjung-sanjung. Gue heran sebagai salah satu jokowi haters, bagaimana ente bisa begitu membencinya..? tahu gak salah satu yang bikin negara ini gak maju-maju, karena banyak orang pinter seperti ente tapi gak pinter juga.. cari tahu dong dengan obyektif..

    • Muak melihat dan membaca koment2 dari orang2 seperti anda…..atau anda antek2 amrik yang suka mengacaukan suasana damai dan rasa persatuan… go to hell

    • @Becks: Otak dipakai dong, Jokowi dari dulu juga gitu. Pencitraan, itu kalau dulu ngga gitu sekarang gitu. Ngga kaget kalau negara ngga maju2, otak sampean isinya pecintraan. Otak computer yg sudah defaultnya “Pencintraan”

    • model begini nih yg mentingin ego dan korban black campaign. lu bilang Jokowi haus kekuasaan, trs mau lu siapa yg jd pemimpin lu? yg bisa nyekokin lu pake uang korup? realistis lah, Pak Jokowi udah satu-satu nya harapan buat Indonesia. org baik selalu ada yg ngejatuh2in macem lu ini.Semoga Tuhan mengampuni kita semua. Amin

  8. Terkadang menjadi sedih, ketika orang yang sangat tulus ini dihujat oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhkan nama beliau. Tapi saya yakin, kehendak alam akan berpihak kepada kebaikan, ketulusan dan kebenaran yang dimiliki beliau.

    • Biarkan aja mereka menghujat, mungkin mata hati mereka buta untuk saat ini, mereka cuma iri saja. Buat yang menghujat Jokowi memangnya Anda bisa jadi lebih baik seperti Jokowi ? Tunjukkan kalo bisa bukan cuma menghina orang.Doakan saja agar Indonesia di pimpin oleh orang yang baik seperti Jokowi dan Jokowi seharusnya menjadi panutan untuk kita semua terutama pemerintah. Orang yang cuma bisa menghujat memang tidak pernahor melihat kelebihan orang lainm selalu mencari kekurangan ataupun kesalahan orang lain, menurut Anda adakah pemmimpin yg membawa perubahan secara nyata yang lebih baik dari Jokowi ?

  9. Inilah sosok pimpinan yy sesungguhnya. Seorg teman saya pernah satu pesawat dan bersebelahan duduknya dgn istri Jokowi dan teman saya amat terkejut karena istri Jokowi sepertinya bukan seperti “istri pejabat”. Kenapa? Karena istri Jokowi TIDAK MEMAKAI BARANG2 BRANDED TAPI 1005 PRODUK INDONESIA YG TIDAK BRANDED. Kita tahu hampir seluruh istri2 pejabat kita bahkan istrimuda2 mereka semua memakai BARANG2 BRANDED YG ADUHAI MAHAL HARGANYA. Nah jika dikatakan Jokowi pencitraan, saya rasa susah melakukan pencitraan yg terus menerus dan sangat nature.INILAH SESUNGGUHNYA SOSOSK PEMIMPIN KITA.

  10. Jokowow! Its not easy to be like him. Terserah deh mau pencitraan atau beneran.. Yg penting ngga gampang. I will vote for him, 4 SURE!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s