Bismillah – Rumi’s Poem for Eid Al-Adha

Love this one.
Eid mubarak, everyone!

Darvish

BISMILLAH!

It’s a habit of yours to walk slowly.
You hold a grudge for years.
With such heaviness, how can you be modest?
With such attachments, do you expect to arrive anywhere?

Be wide as the air to learn a secret.
Right now you’re equal portions clay
and water, thick mud.

Abraham learned how the sun and moon and the stars all set.
He said, No longer will I try to assign partners for God.

You are so weak. Give up to grace.
The ocean takes care of each wave
till it gets to shore.

You need more help than you know.
You’re trying to live your life in open scaffolding.

Say Bismillah, In the name God,
As the priest does with knife when he offers an animal.

Bismillah your old self
to find your real name.

– Jalaladdin Rumi

Ya Haqq!

Lihat pos aslinya

Bukan Dongeng dari Negeri Dongeng

Cerita yang sama melintas lagi di depan saya lewat suatu forum. ‘Dziiig!’

Konon kabar di awal terbentuknya republik ini, di berbagai pelosok negeri berjuta orang gelisah. Sebegitu intensnya kegundahan mereka. Pada masa itu, ada satu hal yang sama-sama sangat dirindukan dan membuat setiap individu punya kesamaan tujuan. Tanpa banyak kendala, setiap orang merasa orang lain di negara ini adalah sama, satu, sejalan dengan dirinya. Lalu bagaimana dengan perbedaan? Ada. Tentu saja selalu ada. Namun itu terasa tidak terlalu penting. Dalam benak banyak orang ketika itu perbedaan adalah sesuatu yang bisa ditepis, toh ada sasaran lebih besar yang menjadi prioritas bersama. Perbedaan bukan menjadi masalah yang harus dikedepankan, lalu meruncing berubah wujud menjadi onak yang menggores dan melukai. Sebelum kemerdekaan, setiap orang merasakan getaran yang sama dalam aliran darah mereka: merindukan Indonesia yang berdaulat. Menyadari bahwa hal itu tidak mudah, dengan segenap daya yang dimiliki setiap orang pun berupaya untuk berkontribusi semampunya. Bahkan jauh sebelum proklamasi, setiap kalangan sampai-sampai merasa perlu secara eksplisit menyamakan dan menyatukan identitas, sebagai satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Ada kegairahan dan kegembiraan untuk menyatu. Kemerdekaan diraih dengan sumbangan kolektif, iuran dari banyak orang, dari berbagai kalangan yang ada di negeri ini. Begitu banyak urunan pemikiran, curahan perasaan, dana, semangat, peluh, tenaga fisik, waktu, darah, hingga nyawa yang tergadaikan untuk menebus kedaulatan. Bukan semata romantisme sesaat, kesamaan tujuan saat itu terasa begitu luhur dan menjadi cita-cita bersama yang mendasari perjuangan. Perasaan serupa tersebut memberi energi setiap orang pada masa itu, untuk saling sapa dengan aliran semangat dan keharuan yang sama; ‘Merdeka!’. Kita adalah satu. Negeri itu, ada. Dan negeri itu bukan negeri dongeng.

Lalu, apa yang ada di hadapan kita kini? Apa kabar negeri itu? Hampir 69 tahun usia kemerdekaannya. Apa yang kita rasakan? Masihkah tersisa gelegak perasaan dan semangat yang sama bahwa kita semua adalah satu, dan punya cita-cita bersama yang perlu diwujudkan lewat kerja keras bersama?

Saya sebenarnya berharap kita semua bisa menjawab ‘ya’, dengan tegas. Bila perlu ketegasan yang sangat meyakinkan. Namun dalam banyak kesempatan, kejadian dan kenyataan yang terekam di depan mata dan benak ini tak selalu mengisyaratkan hal tersebut. Terkadang kita lebih mudah merasa berbeda, lalu bergegas menjauh dari kebersamaan dan rasa saling menghormati. Adakalanya kita merasa jauh lebih baik dari orang lain yang berbeda pilihan. Tengoklah contoh keriuhan yang terkait dengan pemilu. Berapa banyak dari kita yang merasa tidak sama, berbeda tujuan, berbeda ‘jagoan’, lalu saling umpat, mencela dan menjatuhkan? Pada masa kampanye –bahkan jauh sebelum itu, selalu saja ada beberapa orang yang merasa lebih berhak untuk mencibir, lalu dengan sangat ringan menjelek-jelekkan siapapun yang berbeda pilihan. Sepenuh tenaga bila perlu. Senyinyir mungkin, bila bisa. Sampai pihak lawan terjungkal, lebih bagus bila tidak bisa berkutik lagi. Beberapa orang menyematkan identitas pembeda di dirinya, dengan tegas menyatakan pilihan pribadi. Sampai di sini, tentu tidak ada yang salah dengan menentukan pilihan masing-masing. Tetapi bagaimana kemudian pilihan-pilihan tersebut menggiring kita pada sekat-sekat yang memisahkan, bahkan berhasil menciptakan kebencian luar biasa dan jurang pemisah dalam yang tak terjembatani; inilah racun sesungguhnya. RACUN, menurut saya.

Dengan ketatnya sekat pembatas, tidak banyak yang mampu melihat tujuan bersama; yaitu tujuan bangsa ini untuk jangka waktu panjang. Sekat itu telah mewujudkan semacam kekang yang membatasi kemampuan seseorang untuk bisa mengantisipasi lebih jauh, menyikapi secara bijak dan mengambil tindakan akurat yang lebih bermanfaat luas. Waspada (dan cenderung mengarah pada curiga) menjadi sikap yang terbangun dan respon yang terlatih otomatis adalah siap menyerang. Pertanyaannya, sebegitu berbedanya-kah kita sampai-sampai perlu saling hujat dan menyakiti? Lalu apakah akhir dari semua itu adalah kemenangan yang melegakan? Untuk siapa?

Serupa dengan perjuangan meraih kemerdekaan, begitu banyak urun pemikiran, curahan perasaan, dana, semangat, peluh, tenaga fisik, waktu, darah, hingga nyawa yang mungkin tergadaikan saat pemilu yang baru lalu. Akan tetapi BUKAN untuk menebus kedaulatan, apalagi untuk mewujudkan manfaat yang luas bagi bangsa. Sayangnya saat ini (bagi sebagian orang) target yang dituju justru menjadi lebih sempit: kursi jabatan. Jadi, ketika para pejuang dan rakyat Indonesia di waktu lalu merasakan gelegak haru dan semangat bahu-membahu untuk saling padu dan bantu, di masa kini justru muncul kegundahan dan semangat berbalut kebencian saat berhadapan dengan mereka yang dianggap berbeda, bukan dari ‘kaum’ atau ‘golongan’-nya. Ketika dulu ramai orang mengedepankan apa bisa yang menyatukan mereka di atas aneka perbedaan, kini sebagian orang justru mengumandangkan semangat untuk membela identitas dan kepentingan yang lebih sempit; hanya potongan kecil dari puzzle Indonesia yang sangat besar. Saya melihat beberapa potongan kecil ini bahkan ada yang tidak terkait sama sekali dengan kepentingan bangsa, kepentingan bersama. Energi dan birahi politik yang sedemikian besar rupanya tidak selalu bermuara ke ‘samudera’ bernama Indonesia, namun sudah habis di hulu untuk kepentingan sesaat yang berorientasi pribadi dan golongan.  Hati kecil saya berharap semoga ini hanya satu-dua cuplik gambaran saja, yang sebenarnya tidak mewakili negara ini. Intensitas kehadirannya hanya lebih terasa karena senantiasa digadang-gadangkan lewat corong berbagai media. Semoga.

Berbeda adalah sunatullah, sudah merupakan ketentuanNya. Berbeda sebenarnya tidak terhindarkan, sudah demikian adanya dan sama sekali bukan semacam najis besar yang perlu dijauhi. Selalu ada jalan untuk kita menghindari perpecahan, bila mau. Di sekeliling kita, masih banyak sebenarnya orang-orang yang berpikir positif, tidak berorientasi diri/golongan sendiri dan tetap memprioritaskan kepentingan bersama. Mereka tidak merasa perlu untuk larut dalam hasutan dan mempropagandakan kebencian, terlebih untuk membangun sekat yang tinggi. Beberapa di antaranya secara pribadi menemukan ketenangan batin dengan memilih jalan yang diyakini, lalu menghormati apa yang menjadi keyakinan dan pilihan orang lain. Begitu banyak orang yang tetap bekerja dan memberikan 100% kontribusinya untuk kebaikan dan perbaikan bangsa ini, tanpa perlu sanjungan dan publikasi. Dalam porsi tugasnya masing-masing mereka berupaya untuk tetap amanah, konsisten mengedepankan integritas dalam bekerja. Apakah saat ini kita sudah menjadi bagian dari mereka?

Terbersit ada kerinduan pada kebaikan, hal-hal positif dan optimisme, yang mungkin saja terasa kurang seksi bagi sebagian besar media untuk dikedepankan. Beberapa orang terlanjur menepuk dada, larut dalam ilusi bahwa memaki lawan politik itu sebegitu hebatnya dan telah menaikkan harga dirinya secara signifikan. Perbedaan pendapat atau perdebatan bernas yang konstruktif mungkin tidak terlalu menjual, karena berita dan ulasan mengenai saling cela, perang urat syaraf, bentrokan dan kerusuhan terasa lebih ‘keren’ dan menggugah. Lalu, sampai kapan ini berlanjut? Kumandang pujian dan kebanggaan akan bangsa ini sesekali mungkin terdengar sumbang. Tapi rasanya tidak untuk kemudian menjadi hening, lalu padam sama sekali tak terdengar.

Sebelum kebencian dan perbedaan yang memecah-belah terlanjur menjadi norma umum yang berlaku, kita sebenarnya masih punya waktu dan harapan. Mari sama-sama berupaya. Masih banyak orang-orang baik di sekitar kita yang tetap menebar optimisme dan harapan positif, membuat kita bisa merasakan bahwa belum terlambat untuk tetap mengedepankan kebersamaan dan memelihara semangat sebagai satu bangsa. Kepentingan bersama akan selalu di atas segalanya, untuk membuktikan bahwa cerita lalu tentang persatuan dan kebersamaan itu, bukanlah dongeng dari negeri dongeng –yang hanya berulangkali dikisahkan dalam ritual tahunan setiap Agustus datang.

Tentang Pak Husin

(tulisan lama saya; pertama dipublikasikan di notes akun Facebook pada 23 Desember 2009)

ImageMengamatinya sepintas, memang tidak ada yang terlalu istimewa atau menarik perhatian dari tampilan fisik pria itu. Seorang Bapak berusia mendekati 70 tahun, yang keseharian hidupnya di pagi hari dimulai dengan memunguti sampah yang berserakan, apapun itu. Dari kaleng bekas minuman hingga kotoran ternak. Ia berjalan, terkadang juga bersepeda menyusuri tepi pantai dan jalan di seputar kediamannya. Harus diakui, di atas hamparan pasir putih memang seringkali dijumpai 1001 benda, menyaingi kelengkapan sebuah toserba. Sang Bapak kerap juga merambah ke luar rumah, ke jalan raya, bahkan hingga menuju pusat kota. Apapun sampah yang ditemuinya dipungut, dikumpulkan, dengan semangat bagai kanak-kanak yang berlomba memunguti biji cemara di halaman. Fisiknya tampak sudah menua, setidaknya dari foto terakhir beliau yang pernah saya lihat. Namun semangat di balik itu sungguh benar-benar tidak bisa ditutupi. Terlalu kasat mata bagi saya.

Sesampai di rumah, ia kemudian akan memilah sampah. Dengan peralatan sederhana, dibantu kedua putranya yang telah beranjak dewasa, sampah organik diolah Sang Bapak, hingga berubah wujud menjadi kompos. Di pekarangan rumah mereka yang tidak terlalu luas terdapat semacam bengkel kerja, mesin sederhana dan bak penampungan untuk memprosesnya. Mesin itu ia buat sendiri, dimana 12 buah unit serupa sudah dibeli sejumlah instansi setempat.

Memang cukup banyak penduduk lokal yang telah mengenali beliau, melalui apa yang telah dilakukannya untuk mereka. Perhatiannya pada masalah kebersihan dan kesehatan tampak antara lain dari kepeduliannya membiayai (dan membantu langsung pelaksanaan) pembangunan sejumlah MCK di pelosok desa. Di lingkungan terkumuh ia membangun sumur untuk memfasilitasi air bersih kebutuhan harian para warga. Gerobak dan tempat sampah disumbangkannya kepada penduduk di sentra pengrajin gerabah, yang tentunya cukup banyak dikunjungi oleh para wisatawan, termasuk dari mancanegara.

Bapak Husin Abdullah, demikian beliau disapa. Lahir sebagai Gavin Birch, pria asal New Zealand ini sudah sejak sekitar 1985 tinggal di Pulau Lombok dan menikah dengan Ibu Siti Hawa, penduduk asli setempat. Mungkin beberapa orang pernah mengenalnya, antara lain melalui pemberitaan, karena memang sejumlah kiprahnya pernah mendapatkan penghargaan dan dukungan donasi internasional. Sungguh, bukan penghargaan ini dan itu yang membuat saya terkagum menganga. Namun keteguhan sikap dan keikhlasan melakukan apa yang diyakininya, yaitu mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Ia merintisnya di lingkungan masyarakat yang sama sekali belum paham akan pentingnya memprioritaskan dua hal tersebut. Pak Husin mengakui bahwa lebih banyak orang yang menganggapnya gila, di awal kiprahnya.

Mau tidak mau ingatan pun kembali pada sekitar Mei 2002, pada satu kunjungan ke Sengigi bersama sahabat-sahabat terdekat saya. Kami sempat menginap di guest house miliknya. Sayang, saat itu beliau sedang sangat sibuk beraktivitas di luar rumah sehingga kami tidak sempat bertemu dengan Pak Husin. Selama sekitar 3 hari menginap, kami hanya ditemani oleh istri beliau, Ibu Siti Hawa dan kedua putranya, Aziz dan Rizal. Di penginapan sederhana yang begitu alami kami benar-benar merasa rileks, menikmati eloknya pantai Senggigi berikut bonus pemandangan Gunung Agung di Pulau Dewata seberang lautan. Keramahan dan kebaikan hati Ibu Siti Hawa, Aziz dan Rizal membuat kami nyaman dan betah di sana.

Image

Pagi hari, Rizal atau Aziz akan membawakan teh hangat dan sarapan ke teras di depan kamar kami, dengan keceriaan khas mereka. Siang hari, mereka juga kerap menemani kami berbincang, sambil menikmati deburan ombak, duduk menyebar di atas pasir, bale-bale bambu, batang pohon atau ayunan. Rizal yang ekspresif banyak bercerita tentang kiprah Ayah yang mereka banggakan. Sementara Aziz si sulung lebih kerap tersenyum, menyimak dan hanya sesekali berucap menimpali. Di malam hari, Ibu Siti Hawa terkadang membuatkan hidangan sederhana, masakan ala rumah yang bisa kami nikmati bersama dengan sesama pelancong dari berbagai pelosok bumi. Kami semua berkumpul di meja makan yang langsung menghadap ke pantai. Ah, sungguh saat berharga yang begitu indah. Meski hingga waktu cukup lama saya sempat sangat menyesal belum pernah bertemu dan berbincang langsung dengan Pak Husin, pribadi yang kami kagumi melalui penuturan orang-orang terdekatnya.

Masha Allah.. sungguh beliau bukanlah sosok yang berpunya dan sangat mapan sehingga bisa membiayai sedemikian banyak pembangunan sarana kebersihan dan pengolahan sampah, bagi masyarakat di sekitarnya. Dalam kesederhanaan, saya menemukan betapa kaya dan indahnya hidup beliau. Begitu banyak kepedulian, ilmu, keringat, upaya, pemikiran, motivasi, doa dan waktu dalam usianya yang telah diberikan bagi kebaikan banyak orang, tanpa pamrih. Bapak Husin Abdullah berjuang pada rel dan dengan cara yang diyakininya sendiri, demi kebaikan dan peningkatan kualitas hidup banyak orang.

Maka, saya pun menjadi teramat sangat bersyukur ketika beberapa minggu yang lalu tanpa sengaja sempat menyaksikan tayangan televisi mengenai beliau. Saya tercenung ketika pada akhir liputan tersebut si pewawancara menanyakan pada beliau: “Apa sih yang membuat Bapak mau melakukan ini semua?”. Dengan nafas tersengal dari raga yang sudah menua, beliau menjawab: “Allah. Allah-lah yang menuntun saya ke tempat ini. DijadikanNya saya kuat untuk tetap melakukan semua ini.”

(Baiklah, harus diakui bahwa saat itu pandangan saya kabur karena mata yang membasah).

 

 

Sampai saat ini saya belum sempat kembali ke Pondok Siti Hawa. Mohon info bila ada di antara Anda yang mengetahui kabar terakhir dari keluarga Pak Husin. Terima kasih. 🙂

satu hari lagi

hari ini dimulai
saat raga menuntaskan lelap semalam
kantukku mengalah pada semerbak udara pagi

lalu kutahu
masih ada satu hari lagi
untuk perpanjangan jatah usiaku

182247_10151420836633404_1050153233_n
 

mataku masih mampu kenali hijau rerumputan,
dan kepakan kupu-kupu kitari kelopak bunga
jemariku meresapi sejuknya kebeningan air
masih terasa detak di dadaku
dengan hirupan dan hembusan nafas,
semua pemberianNya

tertatih aku belajar
terseok,
berhenti sejenak,
lalu berjalan lagi
meresapi keindahan dan kasih sayangNya

lamat-lamat merasakan cukup,
cukupku sebagaimana kehendakNya saja

detik ini aku rayakan
hangatnya pelukan hidup
mensyukuri satu hari lagi
hadiah usia dan kehidupan dariNya

cukupkan aku ya Allah,
dengan pelukanMu saja

Ada Apa dengan Dokter?

Hari ini ada ribuan dokter dari berbagai penjuru Indonesia yang turun bergabung dalam aksi solidaritas menolak tindakan kriminalisasi atau tuduhan malpraktik terhadap sejawat mereka. Saya melihat adalah sangat wajar munculnya kekecewaan atas perlakuan (sebagian) aparat penegak hukum terhadap beberapa orang yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Di sisi lain, adalah wajar pula bila muncul kekecewaan terhadap layanan yang (dianggap) kurang optimal dari para dokter, bukan hanya pada kasus dr. Ayu, SpOG namun juga di sejumlah kasus lain, diberitakan maupun tidak. Membaca berita dan siaran pers dari pihak PB POGI mengenai proses penangkapan dr. Hendry S, SpOG Selasa, 26 November 2013, tak ayal memang membuat emosi menggelegak, terlebih bagi sejawat atau mereka yang mengenal dekat beliau. Di beberapa kasus, emosi serupa juga sebenarnya tak kalah menggelegaknya di pihak keluarga, ketika dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa si pasien harus kehilangan nyawa.

Tanpa maksud menunjuk pihak yang salah atau benar, saya melihat bahwa pembahasan mengenai kronologis kejadian untuk mengusut bagaimana duduk perkara sebenarnya seringkali menjadi tidak mudah. Bahkan sangat tidak mudah untuk kemudian malah menjadi lebih kusut ketika mispersepsi, asumsi dan emosi yang berperan dominan, mengesampingkan fakta dan logika. Pada saat itikad dan prasangka baik untuk saling memahami menipis, di sanalah posisinya digantikan oleh kebutuhan kuat untuk mencari siapa yang perlu dipersalahkan. Sayangnya dalam hal ini seringkali justru telunjuk kita mengarah ke luar terlebih dahulu; mencari pihak eksternal yang salah. Sebenarnya dari sudut pandang manusiawi hal ini wajar, karena merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) atau strategi coping masing-masing individu. Tidak pernah mudah menerima hal yang paling logis sekalipun, ketika emosi sudah memenuhi dada, penilaian dan keputusan lalu didasarkan atas asumsi belaka. Ketika pasien (dan keluarganya) menyalahkan dokter, apakah sebelumnya sudah ada upaya untuk mencari penjelasan yang memadai mengenai duduk perkara kejadian? Intinya coba memahami sebelum menyalahkan. Apakah hal tersebut juga sudah dilatarbelakangi oleh upaya memahami (sekilas saja) mengenai mekanisme kerja tubuh? Atau mengenai cara kerja dokter? Atau sudahkah dipahami bahwa dokter juga seorang manusia, sama persis sebagaimana seorang pasien? Tidak ada dewa maha tahu atau robot serba bisa dalam hal ini.

Image

Saya bisa memahami kegelisahan dan kegusaran teman-teman dokter atas peristiwa yang terjadi belakangan ini. Tapi sebenarnya saya juga tidak sepenuhnya bisa mencerna alasan aksi mogok yang dilakukan oleh mereka. Terutama apabila hal tersebut dimaksudkan untuk melakukan pembelaan terhadap satu kasus semata, lalu ribuan bahkan jutaan dokter negeri ini turun ke jalan menolak kriminalisasi apabila terjadi dugaan malpraktik. Apakah itu artinya ada jaminan 100% bahwa setiap dokter pasti melakukan tugasnya dengan baik? Setiap waktu, terhadap siapa pun, dimanapun, dalam kondisi apapun? Apakah artinya dokter tidak pernah salah? Atau tidak akan berbuat kekeliruan? Baiklah, di bawah sumpah profesi semua memang bersaudara. Tapi apakah artinya semua serentak begitu saja membela tanpa kecuali? Bukankah yang dikedepankan adalah kemanusiaan, bukan sekedar membela saudara seprofesi?

Adanya tuntutan terhadap perlindungan profesi ini (yang katanya: dari kriminalisasi), mungkin saja bersumber pada kesenjangan atau belum efektifnya komunikasi antara dokter dengan pasien. Bila dikatakan, dokter telah menjalankan langkah sesuai prosedur, apakah prosedur tersebut memang sudah diinformasikan sebelumnya kepada pasien? Atau apakah prosedur tersebut memang sudah ditetapkan dan berlaku standar? Atau ada hal-hal lain yang menjadi prioritas pertimbangan di situasi tertentu, sehingga kesegeraan tindakan mendahului pemberian informasi kepada pasien? Harus diakui bahwa masih sangat banyak pasien yang belum tahu hak dan kewajibannya, juga terbatas kemampuannya untuk menyerap, menggali dan memahami informasi medis. Namun di sisi lain, tidak sedikit juga dokter yang kurang terampil atau bahkan enggan untuk membangun rapport yang baik dengan pasien. Berapa banyak di antara kita berganti dokter, dengan alasan tidak nyaman dengan dokter sebelumnya yang kurang informatif atau kurang care?

Saya khawatir tuntutan untuk menolak kriminalisasi dokter sebenarnya bisa membawa dampak bukan untuk melindungi profesi, tapi justru semakin menciptakan jurang pemisah antara dokter dan pasien. Bukan membangun komunikasi untuk saling memahami, namun menyuburkan arogansi profesi bahwa ada satu pihak yang tidak pernah salah dan tidak bisa disalahkan. Bukankah yang menjalankan profesi juga seorang manusia yang tetap bisa berbuat keliru, sengaja ataupun tidak? Saya khawatir oknum dokter yang tidak semulia dokter-dokter pada umumnya dan mengabaikan kode etik profesi akan bersorak gembira, mendukung penuh tuntutan ini. Ayolah, tidak ada jaminan kan bahwa seluruh yang berprofesi dokter adalah manusia berintegritas dan sepenuhnya profesional? Melindungi profesi sah-sah saja, tetapi bukan melindungi oknum yang berperilaku melenceng dari profesinya. Bagaimanapun tidak ada satu pun profesi yang steril dari khilaf.

Sebagai orang awam, saya melihat bukan semata pada profesinya. Saya menghargai profesi dokter setara dengan profesi lain. Bagi saya kemuliaan toh bukan terletak pada profesi, tapi pada upaya masing-masing individu untuk menjadi sebaik-baik dirinya dan menebar manfaat bagi sekitar. Kalau ada yang bilang bahwa dokter mengorbankan waktu, tenaga, uang dan bahkan keluarga dalam menjalankan profesinya, saya kira juga setiap manusia yang berusaha amanah dengan profesinya, akan demikian adanya. Saya melihat banyak dokter yang memegang teguh etika profesi dan komitmen kerja, namun ada saja beberapa gelintir yang abai. Tidak ada bedanya dengan profesi psikolog, pengacara, guru, akuntan dan lain sebagainya. Apakah mungkin harapan berlebihan menjadi semakin membumbung ketika persepsi publik menempatkan dokter sebagai profesi ‘mulia’? Saya kira memang kita perlu lebih realistis melihat posisi para dokter, agar bisa menerima dan menghormati profesi mereka secara proporsional. Mereka juga punya batas kelelahan fisik dan mental, yang justru kerap tidak bisa diungkapkan atau diekspresikan secara langsung, di tengah beban tuntutan profesinya. Mereka menjalani pendidikan dasar dan profesi, lalu spesialis, kemudian sub spesialis dan seterusnya, dalam waktu yang mungkin menyita sebagian besar jatah usia mereka. Di saat kita ada di pihak pasien yang tengah diruwetkan oleh kondisi sakit, tak mudah memang menempatkan diri untuk berempati dan memahami dokter. Ada kecenderungan untuk selalu menuntut mereka melakukan yang terbaik bagi pasien, sebisa mungkin tanpa cela. Sudah adilkah kita terhadap para dokter?

Image

Teringat saat beberapa tahun lalu saya sempat mengalami septic shock pasca operasi usus halus, yang kebetulan dilakukan ketika saya tengah hamil 18 minggu. Karena kondisi menurun drastis, janin tidak bisa bertahan dan membahayakan jiwa, hingga sempat saya mengarah pada kegagalan multi-organ. Lalu saya harus ‘dikomakan’ dan menggunakan ventilator selama 10 hari. Ketika kondisi saya terus memburuk, tim dokter pada akhirnya menyatakan angkat tangan dan menyampaikan pada keluarga bahwa saya tidak akan bertahan lama. ‘Hanya keajaiban yang bisa memulihkannya’, demikian kalimat klise-nya sebagaimana tercetus di banyak adegan film ber-setting rumah sakit. Sangat banyak orang yang (bahkan hingga kini) dengan cepat bereaksi, ‘itu bukannya malpraktik, ya?’ Saya melihat ini respon yang sangat wajar dari orang-orang terdekat saya. Saya pun tidak mencerna dan memahami semua yang terjadi dalam waktu singkat. Ketika baru saja pulih, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepala saya, yang tidak bisa dituntaskan hanya dengan googling. Saya sebenarnya sangat butuh untuk berdiskusi dengan sahabat-sahabat saya yang berprofesi sebagai dokter, untuk penjelasan medis lebih detil. Sayang, mereka semua terlalu sibuk. Saya benar-benar hanya mengumpulkan potongan-potongan informasi lewat tumpukan berkas riwayat penanganan, bon tagihan biaya rumah sakit, aneka hasil rontgen, hasil lab dan resep obat, juga cerita dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Apakah saya tidak melihat kemungkinan lain yang mengarah pada maltindakan atau malpraktik misalnya? Secara hipotetis, bisa saja. Ada beberapa hal dan tindakan sembrono (dokter maupun tenaga medis lain) yang memang disesalkan dan cukup memancing kegusaran saya. Misalnya, sempat ada kekeliruan dua orang petugas yang membawa mesin x-ray ke ruang ICU untuk segera melakukan rontgen, padahal waktu itu saya masih dalam kondisi hamil. Dengan kegalakan kesadaran yang masih 70% fully charged, saya tegas menolak dan minta mereka untuk mengecek ulang, karena yakin bukan saya yang dituju. Ternyata memang mereka salah pasien. Di waktu lain, seorang petugas lab juga pernah keliru menempelkan sticker bernama ‘Tn. Thamrin’ pada tabung berisi darah saya. Untungnya suami saya mengetahui dan langsung menegur. Terkait dengan dokter, hal paling menyebalkan yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika seorang spesialis anestesi melakukan prosedur pemasangan CVP (Central Venous Pressure) sambil menerima telpon yang dijepit antara telinga dan pundaknya. (Oh ya, buat teman non-medis yang penasaran bisa lihat sendiri di YouTube tentang prosedur pemasangan CVP. Silahkan dinilai secara obyektif, kira-kira optimal atau tidak kalau tindakan tersebut dilakukan sembari bertelpon-ria). Cukup lama si dokter tersebut berbicara lewat telpon genggamnya, yang sependengaran saya sama sekali bukan pembicaraan urgent terkait kepentingan pasien lain. Saya sangat marah, namun kondisi saya saat itu terlalu lemah untuk sekedar bersuara normal. Dengan mengumpulkan tenaga, separuh berbisik saya ceritakan kejadian tersebut pada suami dan ayah saya. Mereka juga sangat marah dan langsung mengungkapkan kekecewaannya pada tim dokter. Ayah saya langsung menyatakan bahwa beliau tidak ingin melihat dokter tersebut ada di depannya lagi, atau memasuki ruangan tempat saya dirawat. Dokter anestesi tersebut lalu digantikan oleh dokter lain. Dalam perkembangannya, memang alat yang terpasang ternyata berusia jauh lebih pendek dibandingkan kalkulasi awal sehingga harus dilakukan pemindahan dan pemasangan ulang di titik yang berbeda. Hal ini terjadi beberapa saat sebelum saya mengalami penurunan kondisi drastis yang kemudian mengantarkan pada induced coma. Apakah di sini terjadi kelalaian atau malpraktik? Coba kita tanyakan pada rekan-rekan dokter yang terhormat..  :)

Ketika pada akhirnya beberapa tahun kemudian saya berhasil bertemu kembali dengan dokter yang mengepalai Tim Dokter saat menangani kasus saya, benar-benar yang terasa adalah kelegaan luar biasa. Kelegaan yang saya pahami di sini ternyata bukan dalam arti semua pertanyaan saya terjawab sempurna atau semua keinginan saya terpenuhi, namun tepatnya adalah saya bisa memahami lebih utuh apa yang sebenarnya terjadi. Cukup lama juga saya, suami dan seorang teman lain (yang membantu mewujudkan pertemuan tersebut) berbincang dengan sang dokter. Di akhir pertemuan saya sampai pada kesadaran bahwa rangkaian kejadian yang sudah lalu sebenarnya memang sudah demikian adanya. Bukan semata karena skenario besarnya sudah ada yang menentukan, namun saya juga bisa menerima karena memahami keterbatasan-keterbatasan yang ada pada diri para dokter tersebut. 36 hari di rumah sakit memberikan saya gambaran yang jujur mengenai keseharian para dokter, dari sikap ketus atau seenaknya ketika mereka kelelahan, juga perhatian yang tulus dan upaya maksimal dari beberapa dokter yang benar-benar terasa memperjuangkan keselamatan saya. Bener deh, mereka manusia juga kok. Dari sekelompok orang yang berprofesi sama, tentu saja akan sangat naif apabila saya berharap tidak ada sama sekali yang brengsek. Itu bisa terjadi di semua profesi, dan tindakan yang tidak profesional tersebut bisa menimpa pada siapapun. Tidak ada satupun profesi yang rela dikriminalkan. Namun di sisi lain adalah wajar bahwa sebagai manusia, mungkin saja ada satu-dua oknum yang menyalahi etika dan prosedur sebagai profesional di bidangnya –yang sengaja ataupun tidak, lalu berdampak fatal. Saya kira ini yang tidak perlu dibela atau ditutupi secara membabi buta. Kebetulan dalam kasus saya, upaya sebagian besar dokter yang ada dalam tim tersebut sudah optimal, berjuang sekuat tenaga demi kepulihan pasiennya. Saya memaafkan tapi belum bisa melupakan satu oknum dokter yang bekerja tidak profesional. Bisa saja ceritanya akan berbeda kalau nyawa saya tidak terselamatkan, ya?😉

Apa yang terjadi sebenarnya tetap harus ditelaah secara kasus per kasus. Bagaimanapun, setiap kasus melibatkan begitu banyak fakta dan pihak terkait di belakangnya. Sangat dibutuhkan adanya keterbukaan dan kedewasaan dari berbagai pihak, termasuk dari sisi aparat keamanan maupun penegak hukum agar lebih profesional dalam melakukan tugasnya. Tidak sepenuhnya salah, namun rasanya memang terlalu sederhana untuk bisa diselesaikan dengan aksi keprihatinan turun ke jalan atau bahkan mogok kerja massal. Perlu upaya intensif dan komunikasi berkelanjutan agar publik bisa menghargai secara proporsional, sekaligus juga tetap obyektif dan realistis terhadap profesi dokter. Pasti butuh proses, haqqul yakin. Jalan panjang untuk bisa saling menghargai memang tidak pernah mudah. Terlebih profesi dokter memang unik. Dalam bertugas ada beban fisik dan mental yang cukup tinggi, tantangan dan tekanan tinggi, resiko tinggi, sementara tetap dalam melakukan tugasnya kerap terasa ada tuntutan untuk tampil sebagai pribadi yang sempurna. Agak jarang-jarang ya, terdengar seorang dokter mengalami depresi dan merasa perlu berkonsultasi pada psikolog? Eh. Sudah, sudah…  >_<

Oh, ya.. terima kasih, salut dan hormat saya untuk para dokter yang hari ini tetap berusaha profesional menjalankan tugasnya, mengutamakan keselamatan pasien dan kemanusiaan.🙂

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
So verily, with the hardship, there is relief,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا َّ
Verily, with the hardship, there is relief. – with Yuli, iCan, Nieken, Apop, Wiwiek, and Tika

View on Path

Watching the Wheels

Saat menulis lagu Watching the Wheels, John Lennon tengah berada di puncak kebahagiaan hidup atas wujud pencapaiannya yang lain. Merasakan secara intens apa yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Sama sekali bukan terkait ambisinya dalam bermusik atau ketenaran. Ia justru menemukan kedamaian dengan lebih banyak tinggal dalam apartemennya. Ketika itu Lennon coba menjalankan peran sebagai seorang Ayah bagi Sean, yang lahir pada tahun 1975 tepat di hari ulang tahunnya ke-35. Ia berupaya melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah dilakukan terhadap Julian, anak sebelumnya dari pernikahan terdahulu. Lagu dengan iringan instrumen musik sederhana ini terdengar tenang, sekaligus juga matang, mengisyaratkan Lennon tak lagi peduli pada apa yang dikatakan orang atau apa yang terjadi di luar sana. Lewat liriknya ia mengungkapkan kebahagiaan dalam menjalani pilihan hidupnya, meski hal tersebut mungkin kurang lazim atau dipertanyakan kebanyakan orang. Bagaimana mungkin seorang John Lennon justru memilih aktivitas mengganti popok, bermain dengan Sean dan memasak untuk mendominasi kesehariannya. Baginya yang terpenting adalah apa yang secara sadar ia pilih sebagai prioritas saat itu; keluarga. Hanya berselang beberapa bulan kemudian usai merekam lagu ini, Mark David Chapman menembak Lennon hingga tewas. Hidupnya berakhir, sekian. Namun terlihat bahwa pilihan-pilihan yang ia buat di akhir hidupnya tentu saja membingkai nuansa cerita yang jauh berbeda, bila dibandingkan dengan akhir hidup Cobain misalnya. Ada damai di ujung usianya, ketika Lennon merasa bisa menemukan kebahagiaan sesuai dengan kebutuhannya, sejalan dengan apa yang menurutnya penting. Di titik ini penilaian atau tuntutan lingkungan tidak lagi menjadi beban.

Persoalannya bukan pada pilihan apa yang dibuat. Tentu saja itu sangat individual, karena masing-masing orang berangkat dari titik berbeda dan berproses secara unik. Yang terpenting adalah: apakah kita sudah membuat pilihan berdasarkan pertimbangan sendiri? Berdasarkan telaah, pemikiran, kebutuhan, perasaan dan tujuan hidup masing-masing? Keseharian yang melingkupi kita seolah sudah punya pola sendiri, tatanan tertentu yang membuat kita terkadang belum sempat memproses, lebih mengikuti saja apa yang memang ‘terasa’ sudah seharusnya. Di masa lalu, kebanyakan orangtua mungkin belum menyediakan ruang yang luas untuk anak terlatih memproses beragam pilihan dan kemungkinan yang ada. Pertanyaan dan pancingan atas respon anak terbatas pada apa yang masih berada di pakem atau jalur standar. Ada masa-masa dimana hidup saya terasa berjalan dengan kendali auto-pilot. Saya tahu akan sampai ke tujuan, tapi tidak terlalu terlibat apalagi sampai menikmati prosesnya sendiri. Di titik seperti ini sebenarnya menurut saya, manusia bisa jadi masih bernafas namun tidak benar-benar hidup. Terkadang ini yang membuat saya sedikit iri dengan –misalnya sebagian para mualaf, khususnya mereka yang menemukan Islam benar-benar lewat perjuangan untuk mencari dan memaknakan setiap peristiwa hidupnya. Berbeda dengan saya yang terlahir Islam. Bagi saya pribadi, memang tak terbantahkan bahwa hal tersebut merupakan suatu anugerah. Namun di sisi lain harus diakui pula bahwa terkadang saya lebih terkondisi dan didominasi oleh warna ritual yang melekat sejak kecil, lalu menyimpan rapat-rapat pertanyaan-pertanyaan yang beterbangan di kepala saya. Sementara di sisi kegairahan spiritual dan kedekatan denganNya masih dalam proses panjang untuk bisa dikatakan sekedar memadai, apalagi sampai pada taraf berkualitas. Berbahagialah mereka yang menjatuhkan pilihan-pilihan dan menemukan apa yang penting dalam hidup secara sadar, bukan semata karena pengaruh atau tuntutan lingkungan semata. Kalau pun pilihan tersebut adalah sesuatu yang kebetulan sejalan atau sama dengan tuntutan sosial, akan sangat menyenangkan bila yang bersangkutan memang benar-benar menginginkannya. Bukan karena ‘seharusnya’ atau apa kata orang.

Pada setting cerita dimana ada komidi putar, kebanyakan akan berpikir bahwa setiap orang harus ikut menaiki atau setidaknya mencoba. Semua perhatian terfokus pada menunggu giliran untuk menaiki komidi putar. Hanya sebagian yang mungkin bisa melihat bahwa ketika seseorang ternyata lebih menikmati untuk sekedar menonton, itu juga sebuah pilihan yang ia temukan. Lewat caranya sendiri, ia memaknai keberartian hidup. Esensinya adalah bahwa masing-masing orang sebenarnya diminta (olehNya) untuk berpikir, merasa dan mengolah, sebelum memahami apa yang penting dalam hidupnya, menjatuhkan pilihan atau menentukan langkah. Iqra. Hanya dengan berproses seperti itulah kita bisa lebih HIDUP, bukan sekedar bernafas. Termasuk memaknai chaos dan rutinitas di kesibukan sehari-hari (coba ya, ayoo.. bagaimana memaknai macetnya Jakarta yang semangkin semangkin? hehe). Akan selalu ada yang menarik, selama ada kemauan dan kesadaran buat mengolahnya. Mungkin, lho.. saya juga tadi hanya keterusan nulis kok. Awalnya hanya kebetulan dengerin Watching the Wheels, sambil ngunyah tahu sumedang, lontong dan rawitnya.😉

I’m just sitting here watching the wheels go round and round,
I really love to watch them roll,
No longer riding on the merry-go-round,
I just had to let it go

Saya tahu dan sepenuhnya sadar menjalani pilihan-pilihan saya. Saya merasa menang (sudah menaklukkan keterbatasan diri sendiri), senang berproses dan tenang menikmati hidup ini, terutama terkait dengan apa yang saya anggap penting: mendekatiNya. Maunya sih begitu di akhir hidup saya nanti. Kedengerannya enak ya?🙂