Al Fatihah

Pikiran-pikiran saya kerap menjelajah acak, entah ini suatu keuntungan atau bukan. :p Mulai menulis lagi di lapak baru ini membuat benak saya tiba-tiba melompat, spontan mengasosiasikannya dengan kata ‘pembukaan’ dan ‘Al-Fatihah’.

Sewaktu SMA saya beberapa kali diminta membantu Ustadz di masjid dekat rumah, untuk mengetikkan lembaran tausiyah yang akan dibagikan pada jamaah. Satu dua kali saya sedikit mengeluh, karena ‘tugas’ tersebut terkadang datang di saat saya sedang banyak PR sekolah. Tapi, lebih banyak saya tanpa sengaja menjadi ikut belajar dengan membaca tulisan tangan beliau dan mengetiknya kembali. Tentu saja baru belakangan saya paham, bahwa dalam banyak hal seringkali apa yang awalnya terpaksa atau tak sengaja dilakukan dalam hidup ternyata sebenarnya merupakan ‘pesan langit’ yang memang ditujukan buat saya.😉

Nah, salah satu yang paling saya ingat adalah ketika mengetikkan kembali tulisan Ustadz mengenai keutamaan membaca surat Al-Fatihah dengan tenang, berjeda dan coba memahami arti dengan baik ketika sholat. Demi menghindar dari kekeliruan yang disebabkan keterbatasan kapasitas otak saya, berikut saya kutipkan sebagaimana pembahasan yang pernah dituliskan oleh Aa Gym lewat akun twitternya pada September 2012;

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah SWT berfirman : “Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk hamba-Ku”. Artinya, tiga ayat di atas Iyyaka Na’budu Wa iyyaka nasta’in adalah hak Allah, dan tiga ayat ke bawahnya adalah urusan hambaNya.

Ketika kita mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”. Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku“.

Ketika kita mengucapkan “Ar-Rahmanir-Rahim”. Allah menjawab: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku“.

Ketika kita mengucapkan “Maliki yaumiddin”. Allah menjawab: “Hamba-Ku memuja-Ku

Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”. Allah menjawab : “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku”.

Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhoolliin.”  Allah menjawab : “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Kupenuhi yang ia minta.”

(H.R. Muslim dan At-Turmudzi)

Pertama kali mengetahuinya, saya begitu tersentuh. Sangat indah. Membayangkan bahwa betapa dekat sebenarnya Allah dengan hambaNya, setiap kita menunaikan sholat. Ibadah menjadi bukan semata sarana penyembahan atau pengagungan mahluk kepada Sang Khalik, namun juga sarana komunikasi interaktif yang indah. :’) Menurut saya yang berpemahaman terbatas ini, hadits tersebut sangat mungkin ada sebagai sarana yang bisa membantu menghadirkan Allah SWT dalam setiap sholat kita. Allah SWT selalu ada dan tidak pernah beranjak. Adalah semata keterbatasan kita sebagai manusia (dalam hal ini saya terutama, hiks!), yang seringkali melakukan ritual sholat tanpa atau minim nyawa sehingga yang tersisa hanya aktivitas fisik; menunduk dan bersujud.  Dialog terstruktur di atas bisa jadi merupakan pengkondisian, untuk dengan sengaja memunculkan kedekatan jiwa kita dengan Sang Maha. Setelah terbangun ‘koneksi’ yang stabil, kedekatan membuat kita merasa lebih nyaman dan bahkan bisa menggiring kita untuk melakukan dialog interaktif secara lebih personal, di akhir ritual sholat.

Apakah dengan tahu kemudian sholat saya menjadi lebih baik? Wah, itu sih seharusnya ya. Idealnya demikian. Satu dua kali memang adakalanya saya bisa merasakan kedekatan dan kekhusyu’an tanpa usaha berlebih. Kenyataannya, bagi saya  pribadi setiap sholat adalah perjuangan untuk bisa benar-benar menghadirkan keterhubungan saya dengan Allah SWT. Seperti koneksi 3G Indonesia yang tidak selalu stabil (hehehe..), saya mengibaratkan keterhubungan pribadi dengan Allah adalah sesuatu yang harus secara aktif diupayakan, termasuk ketika tidak ada sinyal. Dalam kondisi apapun, setiap saat. Berharap dengan mengingat dan menuliskan kembali hadits Qudsi di atas, saya bisa membersihkan debu dan noda di cermin kekhusyu’an saya ketika sholat, mengingat jatah usia yang kian singkat.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

3 thoughts on “Al Fatihah

  1. Bagus mb Des, khas kamu banget.. Mengungkapkan sesuatu yg bernilai dgn sederhana,lancar spt air mengalir (klise banget yak?) Intinya sering2 lah nulis spt ini buat aku share (eehh…), krn terus terang aku rada2 eneg, mabok, sehingga hrs minum antimo..kalo baca ulasan2 religi yg sifatnya ‘mengancam, nakut2in, lantas terasa banget mrk2 menempatkan diri mrk ‘lbh tinggi’ dr kita, seakan mrk lah pemegang kunci surga. Eehh curcol…!! Pokoknya teruskanlah nulis yg bisa jadi petunjuk, membawa angin sejuk..hingga yg baca pingin makin erat memeluk Tuhannya. Begutulah ulasan yg tdk penting ini. Menulislah terus..teruss..terus.. Awas kalo enggak, ntar masuk neraka loh..! *ahahaha… Jangan ding…masuk cafe aja yuukk*

    • Makasih banget Mbak Ade.. udah mau baca.🙂 Hadudu.. tulisan ini beneran hanya ‘kunyahan’-ku yang masih dalam proses belajar. Karena aku mah percaya banget, Allah itu Maha Baik (gak suka nakut2in), menghargai proses individual dalam usaha mendekat dan memelukNya. Boleh jalan, lari, ngesot atau lompat2.. yang penting usaha terus, aktif bergerak. Dan semuanya kembali lagi ke Dia, bukan porsi manusia untuk menilai.

      Jadi, kapan ngafe? *eh :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s