Hidup ‘Biasa-Biasa Saja’

Mengingat bahwa suatu apapun –penderitaan maupun kesenangan, tidak akan berlangsung lama dan memandangnya sebagai ‘biasa-biasa saja’, MUNGKIN adalah salah satu cara terbaik untuk menjalani hidup. Eiits, mungkin lho. Sekedar menebak sih. Maklum, saya baru sekali ini hidup😉 . Saya merekam kata-kata tersebut dalam benak, lewat tausyiah yang kerap disampaikan salah seorang ulama. Intinya beliau mengingatkan agar kita ‘biasa-biasa saja’ dalam menjalani dan menghadapi hidup dunia, toh semuanya juga akan berakhir, dan yang paling bernilai di ujung usia hanyalah amal ibadah. ‘Biasa-biasa saja’ tentu saja menjadi tidak sesederhana terdengarnya dan hanya biasa-biasa saja. Bahkan mungkin justru perlu niat kuat, proses panjang dan usaha konsisten untuk bisa menjadikannya bagian dari diri dan keseharian kita. Apalagi sifat manusia memang sudah sedemikian diciptakanNya memiliki kecenderungan untuk terbuai pada kehidupan dunia, sesuai dengan Al-Quran Surah Ali Imran ayat 14 (‘Dijadikannya indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingininya, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.  Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah- lah tempat kembali yang baik (surga)’). Menjadikan apa yang dipandang indah sebagai ‘biasa-biasa saja’, tentu merupakan tantangan tersendiri.

Image

Menurut saya, paham ‘biasa-biasa saja’ ini bisa membantu untuk memberi ketenangan di saat kita belum atau tidak mendapatkan keinginan, merasa kecewa. Sebaliknya, juga menjadikan kita tidak terlalu jumawa dan menepuk dada, ketika berhasil atau memperoleh kesenangan. Namun ‘biasa-biasa saja’ tidak lantas membuat emosi kita menjadi datar. Bagaimanapun emosi adalah apa yang kita rasakan, terkadang sifatnya dipengaruhi situasi, tidak selalu bisa diduga atau dikontrol sepenuhnya. Tidak mungkin saya tidak jumpalitan bergembira misalnya, apabila saya masih dipercayakan Allah untuk kembali hamil. Pasti, saya akan sangat bersukacita. Sujud syukur, berbagi dengan keluarga dan sahabat terdekat, menikmati setiap menit kehamilan saya (amiiin..). Lalu sebaliknya, ketika berita duka datang –kepergian seorang kerabat misalnya, adalah mustahil bahwa emosi saya akan tetap bergeming. Di sinilah saya merasakan fungsi nilai (value) ‘biasa-biasa saja’ berperan, untuk membantu meredakan kepedihan di saat saya terpuruk dan mengembalikannya pada kebesaranNya, berlari dan bersimpuh untuk mengadukan apapun tetap pada Sang Maha. Sebaliknya, ketika memperoleh kegembiraan atau keberhasilan yang membungahkan, nilai ‘biasa-biasa saja’ tetap memberi kesejukan dan rasa syukur mendalam. Setidaknya kepala yang mulai membesar tak terkendali bisa ditahan sedikit dengan adanya kesadaran bahwa semua nikmat dan berkah hanya dariNya. Betapa apapun upaya keras dan niat kuat kita tidak akan tercapai, tanpa kehendakNya.  

Dengan ‘biasa-biasa saja’ juga saya merasa tidak terbebani untuk membandingkan hidup ini dengan apa yang dijalani oleh kebanyakan orang. Saya mencoba untuk menikmati, bahagia dan bersyukur pada porsi yang diberikanNya. Tentu saja semua ini masih dalam tahap belajar. Pembelajaran yang terkadang di tengah prosesnya terhenti dengan jeda ketidakpahaman oleh terbatasnya nalar dan tumpulnya rasa. Haha. Namun saya senang dan bahagia bahwa saya berproses. Saya berusaha dan merasa menemukan banyak hal-hal baru, memaknai hidup dengan kacamata yang Allah SWT berikan kepada saya. Berharap setiap nafas membawa saya semakin dekat dengan kebaikan dan kebenaran. Bagaimana dengan Anda? Boleh sharing ya.. 🙂

2 thoughts on “Hidup ‘Biasa-Biasa Saja’

  1. Saya malah belum bisa mampu untuk menganggap hidup ‘biasa-biasa saja’🙂
    Masih lebay dalam menanggapi suatu masalah atau berlebihan dalam menyikapi kejutan. Menurut saya menganggap hidup ‘biasa-biasa saja’ butuh ilmu ikhlas dan sabar tingkat dewi-dewi, yang untuk menuju kesananya masih saya pelajari dengan sekuat tenaga🙂
    Thanks note nya say, sangat membantu menyadari bahwa ternyata hidup saya gak ‘biasa-biasa saja’ dan masih jauh dari itu, walau saya selalu bercita2 untuk selalu ‘biasa-biasa saja’

    • Lenggo, ini kategorinya baru ‘mengarah’. Belum terwujud sempurna, latihannya masih bejibun. Kalo elo lebay, nah.. gw malah kadang masih suka drama. Haha.. fluktuatif lah. Semoga kecenderungan grafiknya membaik, seperti harga emas. Halah! :p
      Makasih masukannya ya, Nggo..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s