Bertanya

Pengakuan jujur: salah satu kelemahan saya adalah terlalu cepat gusar ketika seseorang (dewasa) bertanya, hal sepele dan detil tanpa berusaha mencarinya terlebih dulu. Misalnya nih, bertanya dimana letak toilet sebelum terlebih dulu melihat ke sekelilingnya situasi yang ada. Atau, –nah, ini yang paling sering: bertanya padahal tangannya memegang smartphone, tablet, laptop, aneka gadget pintar lainnya. Jari-jemari masih berfungsi, penglihatan sempurna dan tidak ada kendala suatu apapun untuk mengetik http://www.google.com, lalu menuliskan kata kunci yang ingin diketahuinya.😛

Di era banjir informasi saat ini, bertanya dan mencari informasi merupakan sejumlah keterampilan belajar yang terpenting. Bahkan sebenarnya sejak dulu, ketika informasi masih berasal hanya dari beberapa sumber tertentu saja. Ketika orang lebih banyak yang cenderung menerima dan menelan, daripada mempertanyakan atau mengunyah. Saya hanya membayangkan, betapa sayangnya apabila kita selalu mengunakan modus serupa dalam mencari jawaban: bertanya dan diam. Lalu alih-alih mempertanyakan untuk memperjelas atau memperdalam pemahaman, justru mudah puas dengan jawaban yang ada. Semoga tidak banyak orangtua atau guru semacam ini, karena dengan antusiasme dan geraknya yang terbatas untuk mencari informasi dikhawatirkan pola serupa juga akan ditularkannya kepada anak-anak yang sebenarnya masih perlu berkembang. Mereka sebaiknya bukan hanya menyerap isi atau materi, namun yang jauh lebih penting lagi adalah mengolah, memetakan dan mengintegrasikannya dengan pemahaman terdahulu. Akan menjadi situasi yang kondusif untuk belajar, apabila si pembelajar secara sadar dan aktif mencari, mengkonstruk kembali pemahamannya, menyelaraskan hal-hal baru yang didapat dengan kumpulan pengetahuan sebelumnya.

Image

Kembali lagi ke soal bertanya, bukannya tidak suka menjawab aneka pertanyaan. Hehe.. tapi menurut hemat saya akan sangat efektif bila sebelum bertanya, kita sama-sama punya kumpulan informasi yang memadai untuk dijadikan bahan diskusi. Jadi tidak sama sekali datang dengan kondisi blank. Percaya deh, kesadaran bahwa sumber pengetahuan itu ada dimana-mana akan sangat membantu kita untuk mencari dan membaca sebelum bertanya, sehingga proses pemahaman selanjutnya adalah mengkonfirmasi apa yang kita tahu dengan narasumber yang memiliki lebih banyak pengalaman empiris. Pembelajaran pun akan berlangsung lebih efektif. Semisal, bila ingin tahu hal-hal yang menarik untuk dikunjungi di suatu tempat, akan sangat membantu bila kita punya pengetahuan sebelumnya (prior knowledge), terlepas apakah hal tersebut akurat atau tidak. Ketika bertemu dengan narasumber, kita bisa mengkonfirmasi informasi tersebut dengan lebih detil dan fokus, tidak  perlu memulainya benar-benar dari awal. Intinya, lebih baik datang dengan sedikit pemahaman atau pengetahuan yang siap dikaitkan dengan pengetahuan baru, daripada sekedar pasif ‘mangap’ dan menelan. Belajar sudah seharusnya menjadi aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran penuh, antusiasme dan kesenangan. Dan, bukankah hal itu juga menghemat waktu? Karena setiap penjelasan tidak perlu dimulai dari awal sekali, dari nol.

Oh, baiklah. Ini sepenuhnya pandangan saya. Hehe.. seorang introvert yang kerap merasa terusik ketika orang bertanya sebelum melihat dan mencari terlebih dulu. Padahal di sisi lain, katanya sih.. tidak ada pertanyaan yang bodoh atau tidak penting dalam proses belajar. Hhm.. menurut saya kurang tepat juga. Justru untuk bisa belajar dengan efektif, kita harus mengasah keterampilan belajar, salah satunya adalah dengan mengajukan pertanyaan yang tepat: pertanyaan yang didasarkan atas pemahaman terdahulu, bukan pertanyaan yang dilontarkan sekedar mengisi waktu. Pengecualian: 1. untuk hal-hal sangat baru, tentu saja semua akan memulai dari nol, dari definisi awal. 2. tidak berlaku untuk anak usia dini.😉

Proses belajar kerap dianalogikan dengan prinsip scaffolding (maaf, buat yang mungkin saja baru dengar: itu lho, penyangga sementara untuk pekerjaan struktur bangunan. atau, googling gambarnya deh😉 ). Belajar akan efektif apabila dikaitkan langsung dengan pemahaman terdahulu, sehingga benar-benar bisa memfasilitasi pemahaman mendalam yang sifatnya lebih personal. Tentu saja scaffolding setiap kita berbeda-beda. Nah, untuk pembelajaran yang efektif komunikasikan kepada narasumber, apa-apa saja yang kita sudah ketahui. Sejauhmana kita sudah membaca, melakukan riset dan komparasi misalnya. Informasikan apa yang sudah kita ketahui, agar narasumber bisa menambahkan secara akurat hal-hal apalagi yang masih perlu diketahui. Di sini baru bisa terjadi diskusi dan pembelajaran yang lebih menyenangkan. Katakan misalnya kita ingin mengunjungi Bhutan, coba untuk mempelajari sekilas peta Bhutan, kondisi terkini, iklim, gambaran singkat kota dan penduduknya. Buat catatan detil mengenai apa yang belum tercakup dan masih ingin diketahui, untuk pertukaran informasi yang lebih optimal.

Yuk, kita bantu diri sendiri untuk lebih efektif dalam belajar dan memahami. Terlebih kita juga berkewajiban untuk menjadi role model yang baik bagi anak-anak.😀

2 thoughts on “Bertanya

  1. nah…ada yang menyuarakan pikiran saya. Kadang kekesalan saya itu berangkat dari pelit. Sering informasi dan kemampuan yang saya miliki adalah hasil browsing berjam-jam, trial error berhari-hari, berlatih berminggu-minggu. Melihat orang yang belum berusaha sudah bertanya (dan biasanya tipe seperti ini, begitu diberitahu, akan lupa dalam waktu singkat. Lalu bertanya lagi) membuat rasa pelit itu muncul…mengapa harus saya bagi hal yang susah payah saya dapat kepada orang yang mencoba sendiri saja belum pernah =P

    • Jelas akan cepat lupa. Karena tidak ada proses belajar yang mendalam (deep learning) seperti mencari, mengintegrasikan dengan pemahaman sebelumnya, komparasi, analisis, dst. Apa yang hanya selintas dilihat (tanpa upaya aktif untuk memahaminya), biasanya akan selintas pula mampir di ingatan. :p Sebenarnya mengibakan orang-orang begitu, karena jalan pintas mereka tidak membantu diri sendiri untuk lebih paham.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s