Pagi dan Perasan Jeruk

Tiba-tiba saja tadi saya terkenang pada suatu pagi cantik, akhir pekan dimana saya berkesempatan untuk berjalan kaki menyusuri kota yang menyenangkan: Malang. Dibandingkan Jakarta, cuacanya sedikit lebih sejuk di awal hari.

Dan, apa yang menarik? Kali ini adalah perasan jeruk segar! :D Di salah satu pojok jalan yang mengitari Stadion Gajayana ada van putih yang berhenti dan menggelar dagangannya. Sepasang suami istri saling bantu untuk melayani pembeli. Si Ibu menawarkan dan menjelaskan, bahwa yang diperas adalah jeruk jenis pilihan yang manis dan segar. Sang Bapak sibuk bekerja dengan alat pemeras manual yang dibuatnya sendiri, pisaunya pun berbentuk unik bak pendekar jeruk. Hehe.. mereka terlihat sangat terampil menyajikan dagangannya. Segelas tidak sampai sepuluh ribu rupiah (lupa saya harga persisnya), disarikan dari 4-6 butir jeruk tanpa tambahan air dan gula. Dalam sehari di akhir pekan mereka biasa membawa belasan puluhan kilo jeruk dan selalu habis tidak bersisa. Si Bapak sempat menjelaskan pula bagaimana cara memeras jeruk yang tidak akan menyisakan getir di lidah, yaitu cara memotongnya harus sejajar dengan ruas inti jeruk. Justru bukan melintang seperti kebanyakan terlihat di iklan produk jeruk. Wah, baru tahu saya… :) 

Image

Pagi itu saya bukan hanya menegak manisnya perasan jeruk yang alami menyegarkan. Tapi juga menyaksikan sepasang manusia yang sudah cukup berusia lanjut, bersama-sama menjalankan harinya dengan gembira, tekun dan optimis. Selintas bercerita, bahwa mereka sudah belasan tahun menjual jeruk peras, bahkan sambil tersenyum si Bapak berkata bahwa ia berhasil menguliahkan anak-anaknya ‘dengan jeruk peras’.🙂 Bungah dan kagum hati saya setiap kali bisa menangkap keindahan hubungan pasangan yang sudah berlangsung lama,  bisa tetap saling mendukung secara positif. Sederhana dan konkrit, tapi mereka mencontohkan saya sesuatu yang sangat berharga. 

Cukup lama saya duduk di situ sambil mengobrol santai, menegak perasan jeruk sebelum benda-benda lain masuk ke perut ini. Wah, memang enak sekali! Bukan jeruk sembarangan. Berjanji dalam hati, kapan pun saya punya waktu untuk kembali ke kota itu, Insya Allah akan menyempatkan mencari si Bapak dan si Ibu. Semoga mereka diberikan usia panjang yang penuh rezeki, sehingga saya bisa mencicipi lagi pagi dan perasan jeruk mereka.🙂

5 thoughts on “Pagi dan Perasan Jeruk

  1. huwaa..
    terharu saya membaca blog mbak🙂
    pelajaran memeras jeruk yg sebenarnya..
    bahkan kadang ternyata iklan itu hanya membodohi yg menonton
    hehe

  2. belah mana persisnya Des? rencana mau k Malang Awal Juni. Pingin k Bromo, masa kalah ama Ades yg udah ti zaman iraha boa nginjek Bromo heu3.

    • Secara mereka juga mangkalnya pake van, titik persisnya mgkn bisa aja berubah Nis. Pokoknya cari van putih yang bawa peti2 jeruk, di seputaran stadion Gajayana (belakang Mal Olympic Garden dan Hotel Aria). Ntar fotonya diprint aja, buat petunjuk cari Bapak/Ibunya.. hihi. orang ilang, kali. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s