Tokyo Family

Di titik mana Anda berdiri saat ini?

Manusia muda mungkin melihat hidup jauh ke depan, mengisi waktunya dengan mengejar apa yang ingin diraih. Manusia tua bisa jadi merasa telah melalui puncak pencapaian dan melihat hidupnya mendekati akhir. Mereka kerap menengok ke belakang, mengenang apa yang pernah ada. Karena secara nyata sudah pernah melewati masa yang dijalani si muda, si tua bisa saja merasa lebih paham dan tahu, atau bahkan merasa benar dalam banyak hal. Dalam lingkup terdekat pertalian yang terhubung oleh darah -yaitu keluarga, pergesekan justru sering muncul karena adanya perbedaan persepsi ini.

Anak merasa ingin menentukan dan menjalani hidup dengan caranya, sementara orangtua tidak mudah untuk begitu saja melepaskan mereka, terlebih apabila dianggapnya si anak belum memenuhi kriteria ‘keberhasilan’ menurutnya. Anak yang begitu menggemaskan saat dipeluk dan ditimang semasa bayi, bisa menjadi sosok yang asing bagi orangtua ketika mereka beranjak dewasa. Demikian pula sebaliknya, anak bisa saja merasa bahwa sepanjang hidupnya ia selalu dianggap kurang, belum berhasil atau bahkan salah dan gagal oleh orangtua. Banyak yang menggarisbawahi komunikasi sebagai kunci. Kenyataannya tidak semua orang membangun kebiasaan dan memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik. Dan hal tersebut memang bukan sesuatu yang sederhana untuk dilakukan, terlebih bila sekian lama sudah terjebak dalam interaksi (dan komunikasi) yang kurang sehat. Dalam pandangan sederhana, saya menganggap ada yang lebih penting yang terlebih dulu perlu mendasari komunikasi; mencintaimemahami dan memaklumi. Dalam konteks keluarga, ketiga hal tersebut akan mengantarkan si muda dan si tua, anak dan orangtua untuk bertemu di titik tengah; jembatan komunikasi yang menghubungkan keduanya. Apalah artinya berkomunikasi bila tanpa didasari rasa sayang, kesediaan untuk memahami dan memaklumi. Toh, saling berteriak, membentak, bahkan melempar piring pun merupakan bentuk berkomunikasi. :-p

Di titik mana Anda berdiri saat ini?

Sebagai anak, sebagai orangtua, atau keduanya?

Apakah Anda menikmati dan mensyukuri interaksi yang ada?

Film apik berdurasi 146 menit berjudul Tokyo Family yang baru saja saya saksikan minggu lalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mengambil setting Tokyo masa kini, sang sutradara Yoji Yamada mencoba untuk membuat remake dari film garapan Yasujiro Ozu di tahun 1953 berjuluk “Tokyo Story”. Ya, benar. Film aslinya dibuat sekitar 60 tahun yang lalu. Pheeew! Sudah selama itu.🙂 Saya tak hendak membahas komparasi keduanya, toh saya belum menyaksikan film Ozu tersebut, yang konon dianggap mahakarya pada zamannya.

Cerita dimulai dengan kunjungan Ayah dan Ibu yang tinggal jauh di pedesaan suatu pulau, ke Tokyo untuk menemui ketiga anaknya; Koichi (seorang dokter dengan istri dan dua orang anak), Shigeko (membuka salon rumahan bersama suaminya) dan Shoji (seorang pekerja serabutan yang menggarap setting panggung pertunjukan, dekorasi ruang konser dan sebagainya). Karakter Ayah digambarkan sebagai sosok tua yang kaku, dingin dan lebih banyak menggerutu. Baginya apa yang dikerjakan oleh anak-anaknya tidak pernah cukup memuaskan atau dianggap benar, terutama Shoji yang ia lihat tidak memiliki masa depan yang baik. Keberhasilan menjadi dokter sebagaimana yang diraih Koichi pun ia anggap memang sudah sewajarnya. Diam atau berkata pedas adalah dua hal yang paling dikuasainya. Sang Ibu justru sebaliknya, punya sikap dan perangai yang bertolak belakang sekaligus juga melengkapi si Ayah; tenang, hangat, penggembira, cenderung santai dan optimis melihat sekitarnya. Kecemasan atau kekhawatiran yang muncul selalu diimbangi pula dengan prasangka baik terhadap para anak. Ibu yang lebih ringan dan positif melihat segala sesuatunya ini kerap menjadi pintu penghubung komunikasi antara anak-anak dengan Ayah.

Dalam upaya  Ayah dan Ibu untuk mengetahui kabar dan perkembangan ketiga anak (dan keluarga masing-masing), mereka secara bergantian menginap di rumah yang berbeda. Di sinilah muncul gambaran yang kerap terjadi ketika si anak usia dewasa dikunjungi orangtua mereka. Senang menyambut kedatangan mereka, sekaligus juga bingung mengatur waktu dan kegiatan agar tetap bisa menemani mereka tanpa mengganggu jadwal rutin yang telah ada sebelumnya. Di satu titik, ketika semua anak sibuk dan tidak bisa mangkir dari pekerjaan, mereka pun sepakat untuk ‘mengungsikan’ Ayah dan Ibu sementara waktu ke Yokohama (sekitar 30 km dari Tokyo), memberikan keduanya fasilitas untuk bermalam di hotel mewah. Dalam pemikiran Koichi dan Shigeko, daripada bersempit-sempit di rumah mereka di Tokyo, pasti refreshing di hotel akan sangat menyenangkan bagi mereka. Kenyataannya, Ayah dan Ibu justru merasa bingung dan ‘terusir’, mendapati bahwa mereka sebenarnya saat itu tidak punya tempat di tengah kesibukan para anak. Malam menginap  mereka habiskan dengan memandangi gemerlap kincir raksasa dan lampu cantik lain yang menghiasi langit malam Yokohama, dari jendela kamar. Merasa bosan dan sayang membuang waktu di kamar mewah yang dianggap pemborosan, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Tokyo lebih awal. Hal ini ternyata membuat para anak pun terkejut, tidak siap dengan rencana lain. Merasa enggan menyulitkan, kedua orangtua berinisiatif memilih alternatif lain; si Ayah akan menginap di rumah sahabatnya dan si Ibu memilih untuk menginap di apartemen sempit Shoji.

Di titik ini terjadi hal-hal yang menurut saya menarik. Ayah mengisi pertemuan dengan sahabat lamanya, berbincang hingga larut di kedai sake dimana sebagian besar isi pembicaraan adalah keluhan, omelan dan ketidakpuasan akan kondisi dan pencapaian anak-anak mereka saat ini. Keduanya pulang dalam keadaan mabuk berat. Sementara Ibu menikmati malam dengan si bungsu Shoji, yang mengenalkannya pada calon istrinya: Noriko. Terkejut dengan kedatangan Noriko, namun Ibu juga mendapati bahwa gadis tersebut sangat baik dan menyenangkan. Mereka menikmati makan malam bersama. Ketika Noriko pulang, Shoji banyak bercerita tentang Noriko, termasuk pertemuan pertama mereka ketika sama-sama menjadi relawan di Fukushima pasca bencana tsunami. Sutradara cukup apik menggambarkan quality time; kedekatan Ibu dan anak, ketika sebelum tidur Shoji bercerita dengan binar mata mengingat Noriko dan membayangkan masa depan mereka. Si Ibu terus tersenyum dan tidak kalah antusiasnya menanggapi, dengan kehangatan seorang Ibu yang bungah melihat anaknya bahagia.

Di pagi hari ketika Shoji sudah berangkat kerja, Noriko singgah untuk mengantarkan sarapan. Di sini Ibu berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang masih ada di benaknya; apakah Noriko adalah orang yang tepat bagi Shoji? Apakah Shoji cukup layak buat menjadi suami Noriko? Ia menanyakan langsung pada Noriko, terutama apa pendapatnya tentang Shoji yang cenderung santai, belum punya perencanaan jangka panjang dan kehidupan yang mapan. Si Ibu sudah bersiap dengan apapun jawaban yang muncul, ketika di luar dugaan Noriko justru mengutarakan, “Saya tahu Shoji memang seperti itu. Kami banyak berselisih paham di awal hubungan. Tapi hal tersebut juga merupakan kualitas yang terbaik dari dirinya. Ia bersemangat, antusias, menikmati hidup saat ini apa adanya, tidak terpaku pada masa depan.”  Legalah si Ibu, merasa yakin bahwa Noriko dan Shoji memang merupakan pasangan yang serasi.

Dengan sikap yang berbeda, Ayah dan Ibu masing-masing memperoleh kesan dan kesimpulan yang berbeda pula mengenai kehidupan anak-anak mereka. Singkatnya:

‘mengeluhlah, menggerutulah. Anda pun akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal yang menyebalkan.’

‘terimalah, bersyukurlah. Anda akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal yang menyenangkan.’

Rangkaian cerita selanjutnya menggambarkan bagaimana melalui hal dan kejadian tak terduga, ternyata masing-masing anggota keluarga justru ‘dipaksa’ untuk saling mengenal, memahami dan memaklumi. Ada bagian penting yang  kurang seru kalau saya paparkan seluruhnya di sini. :p Yang jelas, film keluaran 2013 ini cukup menarik untuk ditonton karena menggambarkan realita keluarga dan nilai-nilainya secara rapi dan menarik. Tapi buat Anda penyuka film action, mungkin saja berpeluang menjemukan karena tidak ada sama sekali adegan kejar-mengejar, tembakan dan teriakan histeris.😉

Bagi saya pribadi, film ini meninggalkan pesan sederhana yang penting tentang keluarga: hargai dan syukurilah apa adanya, selagi masih ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s