Seolah

Saya selalu berpikir bahwa manusia dengan dua mata di depan, sampai kapan pun pasti memiliki keterbatasan dalam memandang. Apa yang cepat dilihat selalu yang ada di depan. Sementara itu, memerlukan upaya lebih agar kita bisa melihat apa yang di samping dan di belakang. Seolah A, padahal AB. Seolah anu, padahal anu dan itu. Pemahaman dan pengalaman ‘seolah’, apabila tidak dicermati dengan lebih dalam. Bukan soal mana yang lebih benar, namun dari sisi ragam sudut pandang yang (seharusnya) bisa lebih kaya. Berdasarkan tebakan asal saya, desain letak mata di kepala manusia diciptakan Tuhan dengan pesan: ‘apapun yang kamu lihat, selalu hanya sebagian.’ Dalam hal ini telunjuk mengarah pada wajah saya sendiri;

Jadi jangan hanya melihat, tapi juga perhatikan.

Jangan hanya mendengar, namun simaklah dengan seksama.

Diam sejenak, rasakan.

Misalnya; benarkah dengan memberi kita akan kehilangan? Atau orang lain yang menerima akan lebih diuntungkan? Sebagian pengalaman justru menunjukkan sebaliknya. Kebahagiaan pemberi seringkali lebih berdampak mendalam dan jangka panjang. Sementara kesenangan penerima kerap hanya terasa intens ketika menikmati pemberian. Jadi ketika berdonasi, seolah kita memberi. Padahal kitalah yang menerima jauh lebih banyak dari yang kita berikan.

Benar begitu?😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s