‘Konspirasi’ untuk Menginspirasi

Baru saja dua hari lalu Allah Maha Baik mengizinkan saya terdampar di sebuah Sekolah Dasar (SD) di bilangan Depok, untuk mencicipi pengalaman menjadi bagian dari Kelas Inspirasi. Meski terundang sebagai relawan yang akan berbagi dan memberi, tetapi saya punya ‘kecurigaan’ bahwa sepertinya justru sayalah yang akan mendapatkan banyak. Di tengah kegiatan rutin, Kelas Inspirasi bagai oase buat saya pribadi. Bukan lantaran aktivitas harian saya terasa ‘terik’, tapi karena kemurnian semangat dan ketulusan memberi yang ada dalam kegiatan ini. Sejak awal, sekedar mulai memikirkan dan merancang rencana kegiatan mengajar untuk anak-anak SD saja sudah membuat saya sumringah dan bersemangat berhari-hari. Setelah menyelesaikan tumpukan pekerjaan wajib dan berupaya memenuhi tenggat waktu yang memburu, beralih sejenak ke persiapan bahan ajar; flip-chart berikut spidol warna, boneka peraga, pernak-pernik iseng lain, benar-benar mendatangkan kesenangan tersendiri. Hal-hal yang tidak bebas saya lakukan dan salurkan di keseharian kerja yang sudah memiliki aturan dan patokan baku tersendiri. Terasa seperti menemukan diri saya sendiri. Gejalanya? Saya bisa mengerjakan hal-hal tersebut dengan semangat dan senyum. Bayangan tentang anak-anak SD yang nanti akan duduk mendengarkan cerita saya pun melintas. Waktu saya tidak banyak, dalam pertemuan singkat tersebut saya ingin membuat mereka bisa memperoleh sesuatu. Kalau boleh berharap, saya ingin sesuatu itu bisa bermanfaat dan memunculkan semangat bagi mereka.😀

Sejak awal briefing, kata-kata Pak Anies Baswedan yang paling terekam oleh ingatan dan menggugah saya adalah (kurang lebih seperti ini);

Sekolah-sekolah kita banyak yang kesepian, karena hampir setiap orang yang meninggalkannya tidak pernah kembali lagi, bahkan untuk sekedar menengok. Sekolah Dasar memberikan dasar pendidikan dan mengantarkan setiap kita ke jenjang lebih tinggi, banyak jenjang berikutnya, hingga kita menjadi seperti saat ini, hari ini. Coba sesekali luangkan waktu untuk sejenak mengunjungi Sekolah Dasar, dimanapun. Lihat apa yang kita bisa berikan untuk mereka, dari yang telah kita capai. Walau sedikit, pasti akan sangat berarti.

Ffiuuh! Penyampaian Pak Anies tidak lama, tapi hampir seluruh kata-kata beliau sarat dengan makna sederhana yang sangat dalam. Di beberapa bagian saya merasa seperti tercolek, tercubit, tertoyor dengan sukses dan juga maluuuuuuu.😦 Siapa sih saya? Sudah berapa lama saya diberikan kesempatan bernafas? Dan sudah berapa lama pula dimampukanNya untuk berjalan di atas kaki sendiri? Apa saja yang selama ini sudah saya lakukan buat orang lain? Jangan-jangan saya hanya individu yang sekedar hadir setiap hari, mengisi absensi kehidupan dan menjalaninya sesuai putaran roda. Saya berupaya berlari ketika putaran roda kencang, lalu lamat-lamat berjalan saat ritme putaran menurun. Jangan-jangan saya tidak banyak berpikir dan melihat lagi apa sebenarnya manfaat usia saya bagi diri dan orang lain. Selesai jadwal kehidupan, titik. Sekian. Hiks!

Saya memahami keterbatasan yang ada pada diri sendiri. Energi saya tidak dahsyat untuk bisa berbuat banyak, apalagi berdampak luas. Tapi selalu ada keinginan terdalam untuk bisa ikut berarti, sesuai kapasitas saya. Ternyata Kelas Inspirasi memungkinkan untuk itu. Sangat bisa. Ini sungguh bukan lagi tentang saya, atau pribadi-pribadi para relawan lain yang terlibat. Tapi tentang gerakan berbuat baik yang luas, bermanfaat dan Insya Allah menular progressif. Hanya sehari, lewat kegiatan ini setiap relawan akan berbagi dan bercerita mengenai profesi yang dijalankan. Tujuannya, agar anak-anak SD mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih kaya, lewat interaksi langsung dengan para pelaku profesi. Menurut Pak Anies, Kelas Inspirasi ingin membangun mimpi anak Indonesia.

Lalu, bagaimana pada pelaksanaannya? Apa yang bisa saya berikan?🙂 Di awal para relawan memang umumnya diskenariokan memberi dan berbagi. Ternyata, apa yang dialami tidak sepenuhnya begitu. Saya dan teman-teman relawan lain justru merasakan hal serupa: kami memberi secuil, tapi ternyata memperoleh sangat banyak. Kami hanya bercerita tentang apa yang dilakukan sehari-hari, mereka menyambutnya dengan belalak mata penuh antusias dan imajinasi untuk menjelajah ke masa depan. Senyum hangat anak-anak, pertanyaan, teriakan, spontanitas, keluguan dan semangat di binar bola mata mereka benar-benar sesuatu yang tak ternilai. Belum lagi suasana sekolah, sambutan kepala sekolah dan para guru yang ramah menerima kami.

Tentu saja, ada cerita lain di balik itu. Bagaimana kami berjibaku mengelola ketenangan diri dan memastikan efektivitas penyampaian materi di tengah kepungan, serbuan dan teriakan desibel tinggi dari mereka, terutama murid-murid di kelas kecil. Mengingat sebagian besar dari kami di keseharian tidak banyak berinteraksi dengan anak-anak secara klasikal. Memiliki anak pun ternyata tidak lantas membuat beberapa dari kami menjadi mudah menguasai kelas. Seru! Ahaa… saya sendiri spontan menyadari bahwa ternyata suara saya punya keterbatasan untuk berteriak. Ada saat-saat dimana terasa sudah maksimal mengeraskan volume, tapi bunyi-bunyian yang keluar justru lebih fals. :p Sempat saya juga merasakan pergesekan pita suara yang berakhir serak di sore harinya. Ternyata teman-teman relawan lain pun merasakan hal serupa. Membahas dan mentertawakan ketololan masing-masing menghadapi anak-anak di kelas sungguh jadi sangat menyenangkan.🙂  Benar sekali apa yang disampaikan salah seorang relawan saat briefing; turun mengajar menghadapi anak-anak SD sehari saja, memunculkan kegembiraan luar biasa sekaligus juga kelelahan fisik yang membuat beberapa orang tiba-tiba merindukan spa dan pijat. :p Coba bayangkan, bagaimana dengan para Guru yang setiap hari memang tugasnya mengajar mereka? Turun langsung ke sekolah ternyata memunculkan kesadaran dan penghargaan lebih mendalam terhadap peran para Guru SD. Betapa tidak, sebelum bisa menjadi sarjana, berhasil di pekerjaan, merekalah yang berperan sebagai perintis di awal kehidupan pendidikan kita. Mereka yang benar-benar tekun dan bersabar membimbing setiap anak untuk mengenal huruf sebelum bisa membaca. Mengeja, sebelum bisa memahami kemudian. Sebelum menjadi seperti masing-masing kita hari ini. :’)

Terima kasih banyak Kelas Inspirasi, sudah menyertakan saya dalam ‘konspirasi’ cantik untuk menginspirasi anak-anak, yang kepada mereka semualah kehidupan bangsa ini kelak kita percayakan. Lewat kegiatan ini selain siswa dan guru, saya juga dipertemukan dengan teman-teman baru yang punya semangat dan idealisme untuk berbuat; Alya, Amar, Anin, Pak Charma, Citra, Mas Dammer, Denok, Mas Irkham, Laras, Pak Leo, Rendy, Mas Ricky, Mbak Rindu, Vendy, Wira dan tentu saja Gilang mentor kelompok yang menggelegar!😀 Sungguh saya tidak menolak untuk kembali ditugaskan, menjadi bagian untuk menyebarkan dan menularkan semangat positif. Senang rasanya bisa jadi bagian keciiiiiiiiil dari yang nimbrung berbuat, ikut menyalakan lilin. Bukan semata mengutuki kegelapan.🙂

One thought on “‘Konspirasi’ untuk Menginspirasi

  1. Ping-balik: Membaca Masa Depan | yaaa... gitu deh :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s