Ramadhan: Saatnya Perhatian Beralih?

Ramadhan datang kembali, ke sekian kalinya dalam hidup kita. Ia adalah salah satu dari banyak penanda dalam rentang waktu setahun. Layaknya penanda atau pengingat waktu lain, dunia atau lingkungan sekitar bisa saja menyambutnya sedemikian rupa. Namun keberartian nilainya selalu terpulang kembali pada setiap individu.

Secara umum Ramadhan diidentikkan dengan bulan penuh ibadah. Di dalamnya dijanjikan Allah SWT limpahan rahmat, ampunan dan kebebasan dari api neraka. Di lingkup sosial, ritual komunal bernafaskan ibadah terlihat dari dilakukannya berbagai kegiatan ibadah seperti tadarus bersama, sholat tarawih berjamaah, buka puasa dan sahur bersama dengan berbagai kalangan, kajian-kajian religius, dan sederet aktivitas lainnya. Di bagian lain, ciri khas Ramadhan di Indonesia antara lain ditandai dengan kenaikan berbagai komoditi di pasar, sibuknya para Ibu rumah tangga menyusun menu bulan puasa, bahkan juga sudah mulai persiapan untuk hari raya. Aneka produk pun dijajakan melalui berbagai kanal, penjual ini dan itu begitu marak selama Ramadhan. Memang para pengusaha tanah air kerap melihat Ramadhan sebagai momen penting dalam kegiatan tahunan, untuk mengeruk keuntungan melimpah. Nilai transaksi dan konsumsi masyarakat pun naik berkali-kali lipat. Ramadhan memang banyak sekali disangkutpautkan dengan berjuta hal lain, sedikit relevan, relevan maupun tidak. Saat ini ketika kita menoleh ke kiri dan kanan, banyak hal apapun kerap dikaitkan dengan Ramadhan. Promo di berbagai pusat perbelanjaan, edisi penerbitan majalah, penyesuaian jam kerja beberapa instansi, kebijakan jam buka beberapa pusat hiburan, pilihan busana, aktivitas ibadah harian, perubahan menu di dapur dan sebagainya. Tapi, apa sebenarnya pesan utama yang dibawa oleh Ramadhan?

Saya berpikir bahwa Ramadhan sebagai penanda waktu bisa saja datang membawa beragam wajah, namun segala sesuatunya benar-benar terpulang pada kita masing-masing. Seberapa dahsyatnya citra yang dikesankan oleh lingkungan, tetap bagaimana makna dan dampak Ramadhan terhadap diri merupakan suatu hal yang sangat pribadi. Selain merupakah hidayahNya, sadar atau tidak hal tersebut kerap merupakan pilihan individual. Di Indonesia, lingkungan sosial berikut tekanan yang menyertainya merupakan salah satu faktor yang dianggap signifikan dalam menentukan warna kehidupan, atau setidaknya keseharian seseorang. Benar bahwa secara kolektif terjadi peningkatan kegiatan ibadah dan kegempitaan lain yang bernuansa Ramadhan di sekitar kita. Tapi sejauhmana secara pribadi seseorang benar-benar tersentuh, tergerak dan lalu berdampak pada peningkatan kualitas hubungan denganNya, hanya ia dan Tuhan sajalah yang tahu. Tidak pernah ada yang bisa memastikan bahwa dengan selalu hadirnya seseorang di masjid untuk menunaikan shalat tarawih berjamaah misalnya, ketakwaannya meningkat dan ke depannya ia bisa menjadi manusia yang lebih baik. Karena ada beragam alasan yang mendasari seseorang memilih sikap atau melaksanakan suatu tindakan. Dan sungguh hal tersebut sama sekali bukan porsi kita, manusia untuk menilai.

Bagi sebagian besar orang (khususnya umat Islam), Ramadhan memang mengalihkan perhatian. Tapi kemana arah beralihnya, sungguh bisa menjadi sangat beragam. Menahan lapar di siang hari ketika berpuasa bisa membuat perhatian kita justru tertuju pada makanan, dari tingkatan wajar hingga mungkin saja terobsesi dengan berulangkali membayangkan hidangan apa saja yang akan dimakan pada saat berbuka nanti. Sebagian lagi mungkin tidak menjadikan lapar sebagai kendala, menjalankan aktivitas rutin saja seperti biasa. Sebagian lagi mampu menambahkan kesehariannya dengan ibadah plus, seperti membaca dan mengkaji Al-Quran. Ada pula yang perhatiannya beralih pada kegiatan sosial kemasyarakatan, atau semakin bergiat di bisnisnya yang memang semakin meningkat ketika Ramadhan. Sebagian bisa sudah mulai antusias menyusun rencana untuk mudik, memilih baju lebaran dan hidangan untuk open house nanti. Singkat kata: meriah.🙂

Begitu banyak stimulus di sekitar kita, dengan beraneka tingkatan manfaat dan relevansi. Berkaca pada pengalaman pribadi yang kerap (sok) disibukkan dengan kegiatan rutin, seringkali saya menemukan di tengah atau bahkan baru di akhir Ramadhan, bahwa ternyata saya sama sekali belum memanfaatkan bulan baik ini secara optimal. Selalu disertai dengan menciutnya hati, khawatir tidak akan ada waktu lagi bagi saya untuk menjumpai Ramadhan berikutnya. Lalu menjadi klise dan berulang, tanpa perbaikan berarti. Saya melihat, Ramadhan sebenarnya adalah latihan yang sangat baik agar kita bisa lebih terampil dan mengasah kepekaan dan menentukan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita. Menjalani Ramadhan di tengah kepungan segala predikat dan hal terkait tentangnya, mampukah kita memilah dan memilih mana yang benar-benar ‘panggilan terpenting’? Mampukah kita membedakan mana yang esensial dan mana yang hanya sekedar ornamen pelengkap belaka?

Ramadhan adalah salah satu panggilan terindah untuk menghampiriNya, merasakan kenikmatan untuk dekat dan beribadah lewat berbagai cara, dalam bulan yang dimuliakan. Belajar menemui Allah bukan hanya lewat menahan dahaga dan lapar, menjalankan tarawih atau tadarus, tapi juga ketika bekerja di kantor, berkomunikasi dengan orangtua, melihat hujan, mengalami macet, mengasuh anak, berdagang, melihat pengemis, ketika tengah antri di bank, di dalam angkutan umum, dan seterusnya. Setiap saat berusaha untuk menghadirkanNya di hati, lewat sikap dan perilaku. Ramadhan mungkin saja cara Allah SWT untuk membuat perhatian kita sejenak beralih dan berlatih, setelah 11 bulan lain (sebagian besar aktivitas kita) bergumul dengan keduniawian. Lewat menahan lapar dalam berpuasa Ramadhan, seolah ditutupNya beberapa kanal kebutuhan-kebutuhan mendasar kita, lalu dihadirkanlah dimensi lain kemesraan dengan Sang Maha. Bagai orang yang sejenak memejamkan mata, dengan sendirinya pendengaran dan penginderaan lainnya pun akan lebih tajam. Pertanyaan buat kita (dan terutama ditujukan buat diri saya sendiri tentunya): Mampukah kita hening sejenak di tengah hingar bingar dunia dan kegempitaan Ramadhan, untuk kemudian meresapi kebeningan? Mendengarkan dan benar-benar menemuiNya? Akankah (misalnya) lewat tarawih di mesjid atau bersedekah kita merasakan kehadiranNya, bukan hanya sekedar melakukan gerakan sholat secara fisik atau memberikan sebagian harta karena niat lain? Sebagaimana disampaikan lewat firmanNya, sebenarnya Ia selalu ada, selalu hadir. Lebih dekat dengan masing-masing diri kita daripada apapun dalam kehidupan itu sendiri, walau kita seringkali abai. Mampukah kita secara konsisten menemukan dan merasakan denyut kedekatan itu?

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.  (Al-Quran 50:16)

Segala yang benar hanya datang dariNya, dan Allah SWT semata yang Maha mengetahui sebenar-benarnya. Selamat menjalankan dan menikmati ibadah Ramadhan, teman-teman..  :)

2 thoughts on “Ramadhan: Saatnya Perhatian Beralih?

    • Wah.. maaf nih saya pemalas, baru saja buka-buka blog lagi. :p Terima kasih udah mampir, Mas. Aamiin untuk doanya, semoga amal ibadah kita Ramadhan ini diterima Allah SWT ya.. Selamat menyambut Lebaran.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s