Membaca Masa Depan Lewat Sekolah

Suatu pagi saya berkesempatan masuk ke sejumlah kelas di sebuah Sekolah Dasar di bilangan Bekasi. Wajah-wajah belia dengan penuh rasa ingin tahu terlihat jelas mendominasi, karena saya memang orang yang sama sekali baru dan bukan guru yang akan mengajarkan pelajaran sebagaimana biasa. Beberapa murid mengesankan diri lebih terbuka dan spontan baik dari sikap tubuh maupun ekspresi verbal, meski hanya satu dua patah kata. Saat saya mulai berbagi cerita mengenai profesi yang saya jalankan sehari-hari, mereka menyimak dengan kekhasan sosok anak di usia sekolah dasar. Kelas kecil lebih banyak dan spontan dalam menjerit, masing-masing anak tak jarang larut dalam apa yang mereka rasakan sendiri. ;) Ada seorang siswi yang tiba-tiba menutup wajahnya dan terisak tanpa sebab jelas. Belakangan baru saya paham bahwa ia sangat kesal dengan temannya yang kebetulan melintas, mentertawakan cita-cita yang ditulisnya. Demi membangun suasana kelas yang tidak monoton, saya ajak mereka untuk maju ke depan kelas dan mengelilingi lembaran flip-chart yang saya siapkan untuk menjelaskan. Di kelas kecil ternyata hal ini bisa saja menciptakan kejutan dan keriuhan baru; beberapa anak laki-laki setengah berlari hingga berbenturan dengan teman lainnya. Spontan mereka sempat saling pukul. Upps! Sementara kelas besar relatif lebih mudah untuk diajak berkomunikasi dua arah, sehingga penyampaian materi bisa berjalan lebih mulus. Pada salah satu kelas, di pojok kiri depan berkumpul 4 siswa yang semuanya kompak menjawab cita-cita mereka ingin menjadi ustadz. Di bagian tengah agak ke depan, sekitar 5 orang siswi dengan suara mereka yang halus (nyaris berbisik) menjawab bahwa mereka ingin menjadi guru. Di deretan bangku belakang dihuni oleh siswa-siswa yang lebih aktif secara suara maupun gerakan fisik, hampir kebanyakan menuliskan ‘pemain sepak bola’ sebagai cita-cita masa depan mereka.

Hari itu –sekitar 2 minggu lalu, saya merasakan semangat dan kegembiraan yang sama dengan apa yang pernah saya rasakan lewat Kelas Inspirasi sebelumnya, di Depok. Dimulai dari menapaki masuk gerbang sekolah, berpapasan dengan beberapa orangtua yang mengantarkan anak-anak mereka, beramah-tamah dengan para guru dan berinteraksi dengan para murid di kelas, ada perasaan nyaman bahwa saya diberi kesempatan untuk bergabung melakukan kegiatan positif ini. Mengajar dari satu kelas ke kelas berikutnya harus diakui sangat menyita energi fisik dan mental. Namun pada saat bersamaan memunculkan kesenangan, bahkan keharuan tersendiri. Fokus perhatian saya tertuju pada upaya agar bisa menyajikan yang terbaik bagi anak-anak, berharap bisa memunculkan semangat dan pemahaman baru pada mereka mengenai masa depan.

Beberapa hari berikutnya, tanpa sadar saya melakukan komparasi dan menemukan gambaran yang cukup unik di masing-masing sekolah, dari kedua pengalaman saya di Kelas Inspirasi. Sejak awal saya memang memperoleh informasi dan gambaran yang berbeda mengenai kedua sekolah dasar tersebut. Saya coba untuk berpikir bahwa anak dimanapun adalah anak, yang dalam skala kelompok atau kelas akan menampilkan keceriaan dan kekhasan perilaku serupa sebagai anak usianya. Namun tidak bisa dipungkiri, sejujurnya saya memang merasakan warna yang berbeda dari keduanya. Di Depok, kebetulan sekolah tersebut merupakan unggulan dan sebagian besar anak berasal dari keluarga menengah yang cukup mapan secara ekonomi. Salah satu yang saya ingat, Kepala Sekolah menceritakan bahwa penjadwalan kegiatan akademik harus sangat diperhatikan dan disampaikan jauh hari, karena banyak orangtua yang ingin segera menyusun rencana liburan sebelumnya. Siswa di sana secara umum sepenangkapan indera dan mata batin saya (duh! yang ini agak bohong ding..) terlihat cerah, terbuka, spontan dan percaya diri. Sebagian besar dari mereka sudah mampu berkomunikasi dua arah dengan kalimat-kalimat yang cukup baik. Bila pun belum menyapa atau mencetuskan pertanyaan secara langsung, mereka memerhatikan dengan semangat dan binar mata yang hidup. Secara non verbal mereka mengisyaratkan keterlibatan yang baik dengan kegiatan kelas.

Sementara itu, di kesempatan kedua saya juga merasakan ada semangat yang hampir serupa dari para bocah-bocah di sekolah. Namun penyampaian dan ekspresinya agak berbeda. Seolah menyodorkan kemasan dengan warna tersendiri, walau rasa ingin tahu tetap menbuncah di raut wajah-wajah yang saya temui, namun mereka terkesan tidak sespontan murid-murid di sekolah pertama. Binar mata belum banyak dilanjutkan dengan cetusan pertanyaan. Menghampiri belum tentu kemudian sungguh-sungguh mengamati atau bertahan memerhatikan di dekat saya. Memang ada satu dua yang cukup percaya diri, tetapi kebanyakan mereka baru berani berbicara atau maju bila beramai-ramai dengan teman lain. Memasuki 5 kelas di hari itu, saya belum berhasil menangkap rasa percaya diri yang kuat dan konsisten muncul dari mereka. Cara mereka menjawab pertanyaan lebih banyak bersahut-sahutan secara bersamaan. Wajar sebenarnya. Namun ketika saya hampiri dan bertanya secara individual, cukup banyak yang enggan atau malu menjawab. Dari setiap kelas, saya bisa memperoleh tak lebih dari 10 profesi yang menjadi cita-cita mereka, dengan penyebaran jumlah yang menumpuk di beberapa pekerjaan saja, seperti guru, polisi, dokter atau ustadz. Variasinya tidak sebanyak apa yang pernah saya temukan di sekolah sebelumnya, dimana pilot, arsitek, pramugari, apoteker, penulis, koki, bahkan ‘ninja’ dan ‘anggota boyband‘ juga muncul.😀 Semuanya disampaikan dengan antusiasme dan keceriaan khas usia sekolah dasar.

Tak hendak membandingkan secara wilayah, sama sekali juga tidak terpikirkan untuk itu. Saya hanya terkesiap dengan potret riil yang cukup unik, ada di lapangan. Bagaimana sebuah sekolah dasar sebenarnya bisa menjadi cerminan, akan bagaimana warna sebuah lingkungan (yang merupakan bagian dari bangsa kita) di masa mendatang. Memahami gambaran keluarga murid-murid di SD kedua, sebagian besar memang datang dari keluarga menengah ke bawah, meski sebenarnya lokasi sekolah tersebut sangat dekat dengan sejumlah kompleks perumahan mewah. Beberapa orang tua merupakan buruh pendatang dari luar Jakarta, yang bekerja berdasarkan kontrak. Ketika kontrak selesai dan tidak diperpanjang, orang tua pun langsung membawa anak mereka kembali ke daerah asal. SD ini memiliki arus keluar masuk siswa yang cukup tinggi. Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya bersekolah secara umum belum sebaik sekolah pertama yang saya kunjungi. Di sini, orang tua bisa sewaktu-waktu mengajak si anak keluar dari sekolah, sekalipun waktunya hampir bertepatan dengan ujian kenaikan kelas. Hal ini lebih karena mereka mempertimbangkan biaya tinggal yang harus ditanggung apabila harus menunggu lebih lama lagi.  Sebagian lain dari orang tua bekerja sebagai pemulung dan pekerja kasar. Kondisi ini membawa pada kenyataan lain di sisi kesadaran akan pentingnya sekolah bagi anak. Ketika hari hujan, sebagian siswa membolos hanya karena mereka menjadi tukang ojek payung. Hal ini bukan sesuatu yang lalu menjadi negatif bagi sebagian orang tua.  Biasa saja, atau justru positif karena anak dianggap bisa memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga. Seorang guru sempat bercerita bahwa pernah ada beberapa orang tua yang coba mendaftarkan anaknya begitu saja, tanpa memiliki satu pun dokumen kependudukan seperti KTP atau KK.

Mau tidak mau ingatan saya ‘mondar-mandir’ mencocokkan antara informasi dari para guru dengan gambaran para murid yang saya temui langsung. Latar belakang keluarga (kondisi ekonomi, sikap terhadap pendidikan dan sekolah, dll) hampir selalu memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kelangsungan pendidikan anak. Gambaran tentang anak-anak yang belum sepenuhnya percaya diri, cenderung peragu, kurang spontan dan kurang antusias bersekolah semoga hanya ilusi yang tertangkap oleh mata kekhawatiran saya, semata karena saya punya pengalaman berbeda di sekolah sebelumnya.

Sekolah itu, hanya sekitar 2 kilometer dari garis perbatasan dengan ibukota negara. Sejujurnya saya tidak menduga bisa menemukan gambaran sedemikian rupa, terkait sikap orang tua tentang pentingnya pendidikan dasar anak. Lagi-lagi itu bukan kesimpulan yang berdasarkan data angka, namun masih sekedar kesan yang tertangkap berdasarkan observasi dan informasi yang ada. Yang ada di kepala saya adalah anak-anak itu tidak boleh kehilangan antusiasme dan kegembiraan mereka untuk tetap bersekolah (dan mengembangkan diri mereka secara optimal), apapun yang dihadapi oleh keluarganya. Sampai menit membuat tulisan ini saya baru menemukan potongan-potongan ide beterbangan di kepala, namun belum sampai pada rencana untuk tindak lanjut yang lebih konkrit. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari masa depan Indonesia.

Ada masukan dan ide yang menarik teman? Ditunggu ya..  terima kasih sebelumnya  :D

One thought on “Membaca Masa Depan Lewat Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s