Watching the Wheels

Saat menulis lagu Watching the Wheels, John Lennon tengah berada di puncak kebahagiaan hidup atas wujud pencapaiannya yang lain. Merasakan secara intens apa yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Sama sekali bukan terkait ambisinya dalam bermusik atau ketenaran. Ia justru menemukan kedamaian dengan lebih banyak tinggal dalam apartemennya. Ketika itu Lennon coba menjalankan peran sebagai seorang Ayah bagi Sean, yang lahir pada tahun 1975 tepat di hari ulang tahunnya ke-35. Ia berupaya melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah dilakukan terhadap Julian, anak sebelumnya dari pernikahan terdahulu. Lagu dengan iringan instrumen musik sederhana ini terdengar tenang, sekaligus juga matang, mengisyaratkan Lennon tak lagi peduli pada apa yang dikatakan orang atau apa yang terjadi di luar sana. Lewat liriknya ia mengungkapkan kebahagiaan dalam menjalani pilihan hidupnya, meski hal tersebut mungkin kurang lazim atau dipertanyakan kebanyakan orang. Bagaimana mungkin seorang John Lennon justru memilih aktivitas mengganti popok, bermain dengan Sean dan memasak untuk mendominasi kesehariannya. Baginya yang terpenting adalah apa yang secara sadar ia pilih sebagai prioritas saat itu; keluarga. Hanya berselang beberapa bulan kemudian usai merekam lagu ini, Mark David Chapman menembak Lennon hingga tewas. Hidupnya berakhir, sekian. Namun terlihat bahwa pilihan-pilihan yang ia buat di akhir hidupnya tentu saja membingkai nuansa cerita yang jauh berbeda, bila dibandingkan dengan akhir hidup Cobain misalnya. Ada damai di ujung usianya, ketika Lennon merasa bisa menemukan kebahagiaan sesuai dengan kebutuhannya, sejalan dengan apa yang menurutnya penting. Di titik ini penilaian atau tuntutan lingkungan tidak lagi menjadi beban.

Persoalannya bukan pada pilihan apa yang dibuat. Tentu saja itu sangat individual, karena masing-masing orang berangkat dari titik berbeda dan berproses secara unik. Yang terpenting adalah: apakah kita sudah membuat pilihan berdasarkan pertimbangan sendiri? Berdasarkan telaah, pemikiran, kebutuhan, perasaan dan tujuan hidup masing-masing? Keseharian yang melingkupi kita seolah sudah punya pola sendiri, tatanan tertentu yang membuat kita terkadang belum sempat memproses, lebih mengikuti saja apa yang memang ‘terasa’ sudah seharusnya. Di masa lalu, kebanyakan orangtua mungkin belum menyediakan ruang yang luas untuk anak terlatih memproses beragam pilihan dan kemungkinan yang ada. Pertanyaan dan pancingan atas respon anak terbatas pada apa yang masih berada di pakem atau jalur standar. Ada masa-masa dimana hidup saya terasa berjalan dengan kendali auto-pilot. Saya tahu akan sampai ke tujuan, tapi tidak terlalu terlibat apalagi sampai menikmati prosesnya sendiri. Di titik seperti ini sebenarnya menurut saya, manusia bisa jadi masih bernafas namun tidak benar-benar hidup. Terkadang ini yang membuat saya sedikit iri dengan –misalnya sebagian para mualaf, khususnya mereka yang menemukan Islam benar-benar lewat perjuangan untuk mencari dan memaknakan setiap peristiwa hidupnya. Berbeda dengan saya yang terlahir Islam. Bagi saya pribadi, memang tak terbantahkan bahwa hal tersebut merupakan suatu anugerah. Namun di sisi lain harus diakui pula bahwa terkadang saya lebih terkondisi dan didominasi oleh warna ritual yang melekat sejak kecil, lalu menyimpan rapat-rapat pertanyaan-pertanyaan yang beterbangan di kepala saya. Sementara di sisi kegairahan spiritual dan kedekatan denganNya masih dalam proses panjang untuk bisa dikatakan sekedar memadai, apalagi sampai pada taraf berkualitas. Berbahagialah mereka yang menjatuhkan pilihan-pilihan dan menemukan apa yang penting dalam hidup secara sadar, bukan semata karena pengaruh atau tuntutan lingkungan semata. Kalau pun pilihan tersebut adalah sesuatu yang kebetulan sejalan atau sama dengan tuntutan sosial, akan sangat menyenangkan bila yang bersangkutan memang benar-benar menginginkannya. Bukan karena ‘seharusnya’ atau apa kata orang.

Pada setting cerita dimana ada komidi putar, kebanyakan akan berpikir bahwa setiap orang harus ikut menaiki atau setidaknya mencoba. Semua perhatian terfokus pada menunggu giliran untuk menaiki komidi putar. Hanya sebagian yang mungkin bisa melihat bahwa ketika seseorang ternyata lebih menikmati untuk sekedar menonton, itu juga sebuah pilihan yang ia temukan. Lewat caranya sendiri, ia memaknai keberartian hidup. Esensinya adalah bahwa masing-masing orang sebenarnya diminta (olehNya) untuk berpikir, merasa dan mengolah, sebelum memahami apa yang penting dalam hidupnya, menjatuhkan pilihan atau menentukan langkah. Iqra. Hanya dengan berproses seperti itulah kita bisa lebih HIDUP, bukan sekedar bernafas. Termasuk memaknai chaos dan rutinitas di kesibukan sehari-hari (coba ya, ayoo.. bagaimana memaknai macetnya Jakarta yang semangkin semangkin? hehe). Akan selalu ada yang menarik, selama ada kemauan dan kesadaran buat mengolahnya. Mungkin, lho.. saya juga tadi hanya keterusan nulis kok. Awalnya hanya kebetulan dengerin Watching the Wheels, sambil ngunyah tahu sumedang, lontong dan rawitnya.😉

I’m just sitting here watching the wheels go round and round,
I really love to watch them roll,
No longer riding on the merry-go-round,
I just had to let it go

Saya tahu dan sepenuhnya sadar menjalani pilihan-pilihan saya. Saya merasa menang (sudah menaklukkan keterbatasan diri sendiri), senang berproses dan tenang menikmati hidup ini, terutama terkait dengan apa yang saya anggap penting: mendekatiNya. Maunya sih begitu di akhir hidup saya nanti. Kedengerannya enak ya?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s