Tentang Pak Husin

(tulisan lama saya; pertama dipublikasikan di notes akun Facebook pada 23 Desember 2009)

ImageMengamatinya sepintas, memang tidak ada yang terlalu istimewa atau menarik perhatian dari tampilan fisik pria itu. Seorang Bapak berusia mendekati 70 tahun, yang keseharian hidupnya di pagi hari dimulai dengan memunguti sampah yang berserakan, apapun itu. Dari kaleng bekas minuman hingga kotoran ternak. Ia berjalan, terkadang juga bersepeda menyusuri tepi pantai dan jalan di seputar kediamannya. Harus diakui, di atas hamparan pasir putih memang seringkali dijumpai 1001 benda, menyaingi kelengkapan sebuah toserba. Sang Bapak kerap juga merambah ke luar rumah, ke jalan raya, bahkan hingga menuju pusat kota. Apapun sampah yang ditemuinya dipungut, dikumpulkan, dengan semangat bagai kanak-kanak yang berlomba memunguti biji cemara di halaman. Fisiknya tampak sudah menua, setidaknya dari foto terakhir beliau yang pernah saya lihat. Namun semangat di balik itu sungguh benar-benar tidak bisa ditutupi. Terlalu kasat mata bagi saya.

Sesampai di rumah, ia kemudian akan memilah sampah. Dengan peralatan sederhana, dibantu kedua putranya yang telah beranjak dewasa, sampah organik diolah Sang Bapak, hingga berubah wujud menjadi kompos. Di pekarangan rumah mereka yang tidak terlalu luas terdapat semacam bengkel kerja, mesin sederhana dan bak penampungan untuk memprosesnya. Mesin itu ia buat sendiri, dimana 12 buah unit serupa sudah dibeli sejumlah instansi setempat.

Memang cukup banyak penduduk lokal yang telah mengenali beliau, melalui apa yang telah dilakukannya untuk mereka. Perhatiannya pada masalah kebersihan dan kesehatan tampak antara lain dari kepeduliannya membiayai (dan membantu langsung pelaksanaan) pembangunan sejumlah MCK di pelosok desa. Di lingkungan terkumuh ia membangun sumur untuk memfasilitasi air bersih kebutuhan harian para warga. Gerobak dan tempat sampah disumbangkannya kepada penduduk di sentra pengrajin gerabah, yang tentunya cukup banyak dikunjungi oleh para wisatawan, termasuk dari mancanegara.

Bapak Husin Abdullah, demikian beliau disapa. Lahir sebagai Gavin Birch, pria asal New Zealand ini sudah sejak sekitar 1985 tinggal di Pulau Lombok dan menikah dengan Ibu Siti Hawa, penduduk asli setempat. Mungkin beberapa orang pernah mengenalnya, antara lain melalui pemberitaan, karena memang sejumlah kiprahnya pernah mendapatkan penghargaan dan dukungan donasi internasional. Sungguh, bukan penghargaan ini dan itu yang membuat saya terkagum menganga. Namun keteguhan sikap dan keikhlasan melakukan apa yang diyakininya, yaitu mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Ia merintisnya di lingkungan masyarakat yang sama sekali belum paham akan pentingnya memprioritaskan dua hal tersebut. Pak Husin mengakui bahwa lebih banyak orang yang menganggapnya gila, di awal kiprahnya.

Mau tidak mau ingatan pun kembali pada sekitar Mei 2002, pada satu kunjungan ke Sengigi bersama sahabat-sahabat terdekat saya. Kami sempat menginap di guest house miliknya. Sayang, saat itu beliau sedang sangat sibuk beraktivitas di luar rumah sehingga kami tidak sempat bertemu dengan Pak Husin. Selama sekitar 3 hari menginap, kami hanya ditemani oleh istri beliau, Ibu Siti Hawa dan kedua putranya, Aziz dan Rizal. Di penginapan sederhana yang begitu alami kami benar-benar merasa rileks, menikmati eloknya pantai Senggigi berikut bonus pemandangan Gunung Agung di Pulau Dewata seberang lautan. Keramahan dan kebaikan hati Ibu Siti Hawa, Aziz dan Rizal membuat kami nyaman dan betah di sana.

Image

Pagi hari, Rizal atau Aziz akan membawakan teh hangat dan sarapan ke teras di depan kamar kami, dengan keceriaan khas mereka. Siang hari, mereka juga kerap menemani kami berbincang, sambil menikmati deburan ombak, duduk menyebar di atas pasir, bale-bale bambu, batang pohon atau ayunan. Rizal yang ekspresif banyak bercerita tentang kiprah Ayah yang mereka banggakan. Sementara Aziz si sulung lebih kerap tersenyum, menyimak dan hanya sesekali berucap menimpali. Di malam hari, Ibu Siti Hawa terkadang membuatkan hidangan sederhana, masakan ala rumah yang bisa kami nikmati bersama dengan sesama pelancong dari berbagai pelosok bumi. Kami semua berkumpul di meja makan yang langsung menghadap ke pantai. Ah, sungguh saat berharga yang begitu indah. Meski hingga waktu cukup lama saya sempat sangat menyesal belum pernah bertemu dan berbincang langsung dengan Pak Husin, pribadi yang kami kagumi melalui penuturan orang-orang terdekatnya.

Masha Allah.. sungguh beliau bukanlah sosok yang berpunya dan sangat mapan sehingga bisa membiayai sedemikian banyak pembangunan sarana kebersihan dan pengolahan sampah, bagi masyarakat di sekitarnya. Dalam kesederhanaan, saya menemukan betapa kaya dan indahnya hidup beliau. Begitu banyak kepedulian, ilmu, keringat, upaya, pemikiran, motivasi, doa dan waktu dalam usianya yang telah diberikan bagi kebaikan banyak orang, tanpa pamrih. Bapak Husin Abdullah berjuang pada rel dan dengan cara yang diyakininya sendiri, demi kebaikan dan peningkatan kualitas hidup banyak orang.

Maka, saya pun menjadi teramat sangat bersyukur ketika beberapa minggu yang lalu tanpa sengaja sempat menyaksikan tayangan televisi mengenai beliau. Saya tercenung ketika pada akhir liputan tersebut si pewawancara menanyakan pada beliau: “Apa sih yang membuat Bapak mau melakukan ini semua?”. Dengan nafas tersengal dari raga yang sudah menua, beliau menjawab: “Allah. Allah-lah yang menuntun saya ke tempat ini. DijadikanNya saya kuat untuk tetap melakukan semua ini.”

(Baiklah, harus diakui bahwa saat itu pandangan saya kabur karena mata yang membasah).

 

 

Sampai saat ini saya belum sempat kembali ke Pondok Siti Hawa. Mohon info bila ada di antara Anda yang mengetahui kabar terakhir dari keluarga Pak Husin. Terima kasih. 🙂

2 thoughts on “Tentang Pak Husin

  1. Kabar keluarga pak Husin (alm), alhamdulillah masih berencana menambah kamar untuk homestaynya, masih menunggu pekerja yang bisa membantu melanjutkan pengolahan kompos (tapi itu saat april 2014), dan saya juga masih ingin mendampingi Rizal melanjutkan dan kalau bisa mengembangkan usaha amanah ayahnya tersebut

    • Halo Mbak/Ibu Keke..
      Anda juga keluarga Alm Bapak/tinggal di Pondok Siti Hawa ya? Wah, saya benar-benar ingin sekali kembali mampir ke sana. Mohon sampaikan salam hormat dan rindu saya untuk Ibu Siti Hawa, Rizal dan Aziz. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian semua.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s