satu hari lagi

hari ini dimulai
saat raga menuntaskan lelap semalam
kantukku mengalah pada semerbak udara pagi

lalu kutahu
masih ada satu hari lagi
untuk perpanjangan jatah usiaku

182247_10151420836633404_1050153233_n
 

mataku masih mampu kenali hijau rerumputan,
dan kepakan kupu-kupu kitari kelopak bunga
jemariku meresapi sejuknya kebeningan air
masih terasa detak di dadaku
dengan hirupan dan hembusan nafas,
semua pemberianNya

tertatih aku belajar
terseok,
berhenti sejenak,
lalu berjalan lagi
meresapi keindahan dan kasih sayangNya

lamat-lamat merasakan cukup,
cukupku sebagaimana kehendakNya saja

detik ini aku rayakan
hangatnya pelukan hidup
mensyukuri satu hari lagi
hadiah usia dan kehidupan dariNya

cukupkan aku ya Allah,
dengan pelukanMu saja

Watching the Wheels

Saat menulis lagu Watching the Wheels, John Lennon tengah berada di puncak kebahagiaan hidup atas wujud pencapaiannya yang lain. Merasakan secara intens apa yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Sama sekali bukan terkait ambisinya dalam bermusik atau ketenaran. Ia justru menemukan kedamaian dengan lebih banyak tinggal dalam apartemennya. Ketika itu Lennon coba menjalankan peran sebagai seorang Ayah bagi Sean, yang lahir pada tahun 1975 tepat di hari ulang tahunnya ke-35. Ia berupaya melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah dilakukan terhadap Julian, anak sebelumnya dari pernikahan terdahulu. Lagu dengan iringan instrumen musik sederhana ini terdengar tenang, sekaligus juga matang, mengisyaratkan Lennon tak lagi peduli pada apa yang dikatakan orang atau apa yang terjadi di luar sana. Lewat liriknya ia mengungkapkan kebahagiaan dalam menjalani pilihan hidupnya, meski hal tersebut mungkin kurang lazim atau dipertanyakan kebanyakan orang. Bagaimana mungkin seorang John Lennon justru memilih aktivitas mengganti popok, bermain dengan Sean dan memasak untuk mendominasi kesehariannya. Baginya yang terpenting adalah apa yang secara sadar ia pilih sebagai prioritas saat itu; keluarga. Hanya berselang beberapa bulan kemudian usai merekam lagu ini, Mark David Chapman menembak Lennon hingga tewas. Hidupnya berakhir, sekian. Namun terlihat bahwa pilihan-pilihan yang ia buat di akhir hidupnya tentu saja membingkai nuansa cerita yang jauh berbeda, bila dibandingkan dengan akhir hidup Cobain misalnya. Ada damai di ujung usianya, ketika Lennon merasa bisa menemukan kebahagiaan sesuai dengan kebutuhannya, sejalan dengan apa yang menurutnya penting. Di titik ini penilaian atau tuntutan lingkungan tidak lagi menjadi beban.

Persoalannya bukan pada pilihan apa yang dibuat. Tentu saja itu sangat individual, karena masing-masing orang berangkat dari titik berbeda dan berproses secara unik. Yang terpenting adalah: apakah kita sudah membuat pilihan berdasarkan pertimbangan sendiri? Berdasarkan telaah, pemikiran, kebutuhan, perasaan dan tujuan hidup masing-masing? Keseharian yang melingkupi kita seolah sudah punya pola sendiri, tatanan tertentu yang membuat kita terkadang belum sempat memproses, lebih mengikuti saja apa yang memang ‘terasa’ sudah seharusnya. Di masa lalu, kebanyakan orangtua mungkin belum menyediakan ruang yang luas untuk anak terlatih memproses beragam pilihan dan kemungkinan yang ada. Pertanyaan dan pancingan atas respon anak terbatas pada apa yang masih berada di pakem atau jalur standar. Ada masa-masa dimana hidup saya terasa berjalan dengan kendali auto-pilot. Saya tahu akan sampai ke tujuan, tapi tidak terlalu terlibat apalagi sampai menikmati prosesnya sendiri. Di titik seperti ini sebenarnya menurut saya, manusia bisa jadi masih bernafas namun tidak benar-benar hidup. Terkadang ini yang membuat saya sedikit iri dengan –misalnya sebagian para mualaf, khususnya mereka yang menemukan Islam benar-benar lewat perjuangan untuk mencari dan memaknakan setiap peristiwa hidupnya. Berbeda dengan saya yang terlahir Islam. Bagi saya pribadi, memang tak terbantahkan bahwa hal tersebut merupakan suatu anugerah. Namun di sisi lain harus diakui pula bahwa terkadang saya lebih terkondisi dan didominasi oleh warna ritual yang melekat sejak kecil, lalu menyimpan rapat-rapat pertanyaan-pertanyaan yang beterbangan di kepala saya. Sementara di sisi kegairahan spiritual dan kedekatan denganNya masih dalam proses panjang untuk bisa dikatakan sekedar memadai, apalagi sampai pada taraf berkualitas. Berbahagialah mereka yang menjatuhkan pilihan-pilihan dan menemukan apa yang penting dalam hidup secara sadar, bukan semata karena pengaruh atau tuntutan lingkungan semata. Kalau pun pilihan tersebut adalah sesuatu yang kebetulan sejalan atau sama dengan tuntutan sosial, akan sangat menyenangkan bila yang bersangkutan memang benar-benar menginginkannya. Bukan karena ‘seharusnya’ atau apa kata orang.

Pada setting cerita dimana ada komidi putar, kebanyakan akan berpikir bahwa setiap orang harus ikut menaiki atau setidaknya mencoba. Semua perhatian terfokus pada menunggu giliran untuk menaiki komidi putar. Hanya sebagian yang mungkin bisa melihat bahwa ketika seseorang ternyata lebih menikmati untuk sekedar menonton, itu juga sebuah pilihan yang ia temukan. Lewat caranya sendiri, ia memaknai keberartian hidup. Esensinya adalah bahwa masing-masing orang sebenarnya diminta (olehNya) untuk berpikir, merasa dan mengolah, sebelum memahami apa yang penting dalam hidupnya, menjatuhkan pilihan atau menentukan langkah. Iqra. Hanya dengan berproses seperti itulah kita bisa lebih HIDUP, bukan sekedar bernafas. Termasuk memaknai chaos dan rutinitas di kesibukan sehari-hari (coba ya, ayoo.. bagaimana memaknai macetnya Jakarta yang semangkin semangkin? hehe). Akan selalu ada yang menarik, selama ada kemauan dan kesadaran buat mengolahnya. Mungkin, lho.. saya juga tadi hanya keterusan nulis kok. Awalnya hanya kebetulan dengerin Watching the Wheels, sambil ngunyah tahu sumedang, lontong dan rawitnya. 😉

I’m just sitting here watching the wheels go round and round,
I really love to watch them roll,
No longer riding on the merry-go-round,
I just had to let it go

Saya tahu dan sepenuhnya sadar menjalani pilihan-pilihan saya. Saya merasa menang (sudah menaklukkan keterbatasan diri sendiri), senang berproses dan tenang menikmati hidup ini, terutama terkait dengan apa yang saya anggap penting: mendekatiNya. Maunya sih begitu di akhir hidup saya nanti. Kedengerannya enak ya? 🙂

(Memeluk) Ramadhanku

Ramadhan adalah sapaan mesra,

yang tidak setiap saat datang

adalah pelukan hangat,

yang terkadang lebih dirindukan dalam ketiadaan

yang terasa sangat berharga,

begitu menggetarkan hati ketika terpisahkan oleh jarak

 

Ramadhanku masih ada di sini

melesat dengan kecepatan cahaya

hari ke-16 hampir usai *

 

saat mata terpejam,

terasa lebih pasti bahwa aku masih erat dalam semerbak pelukannya

dalam diam dimampukanNya aku untuk meresapi,

memaknai kehadirannya

menikmati detik demi detik

yang begitu bernilai

 

ternyata

sebelas bulan lain hadir

untuk menciptakan rinduku pada Ramadhan

kecintaanku pada keindahannya

walau kerap lebih banyak lalai dan abai dalam diri

kesia-siaan saat melihat, mendengar, berbicara dan melangkah

 

Rabb,

mohon dekatkan hatiku pada kebesaranMu

selalu, Ya Allah

selalu

tiada kemampuan yang melebihi kuasaMu

untuk menyentuh

merekatkan rapuhnya hatiku,

melembutkannya

menjadikannya selalu dalam syukur tak bertepi

membuatnya senantiasa memeluk Ramadhan

sebelum hembusan nafas terakhirku

 

lamat-lamat,

aku tahu Ramadhanku akan segera berlalu

pasti

dan persediaan Ramadhan di sisa usiaku pun kian menipis

 

 

*) ditulis 4 Agustus 2012/Ramadhan 1433

Ramadhan: Saatnya Perhatian Beralih?

Ramadhan datang kembali, ke sekian kalinya dalam hidup kita. Ia adalah salah satu dari banyak penanda dalam rentang waktu setahun. Layaknya penanda atau pengingat waktu lain, dunia atau lingkungan sekitar bisa saja menyambutnya sedemikian rupa. Namun keberartian nilainya selalu terpulang kembali pada setiap individu.

Secara umum Ramadhan diidentikkan dengan bulan penuh ibadah. Di dalamnya dijanjikan Allah SWT limpahan rahmat, ampunan dan kebebasan dari api neraka. Di lingkup sosial, ritual komunal bernafaskan ibadah terlihat dari dilakukannya berbagai kegiatan ibadah seperti tadarus bersama, sholat tarawih berjamaah, buka puasa dan sahur bersama dengan berbagai kalangan, kajian-kajian religius, dan sederet aktivitas lainnya. Di bagian lain, ciri khas Ramadhan di Indonesia antara lain ditandai dengan kenaikan berbagai komoditi di pasar, sibuknya para Ibu rumah tangga menyusun menu bulan puasa, bahkan juga sudah mulai persiapan untuk hari raya. Aneka produk pun dijajakan melalui berbagai kanal, penjual ini dan itu begitu marak selama Ramadhan. Memang para pengusaha tanah air kerap melihat Ramadhan sebagai momen penting dalam kegiatan tahunan, untuk mengeruk keuntungan melimpah. Nilai transaksi dan konsumsi masyarakat pun naik berkali-kali lipat. Ramadhan memang banyak sekali disangkutpautkan dengan berjuta hal lain, sedikit relevan, relevan maupun tidak. Saat ini ketika kita menoleh ke kiri dan kanan, banyak hal apapun kerap dikaitkan dengan Ramadhan. Promo di berbagai pusat perbelanjaan, edisi penerbitan majalah, penyesuaian jam kerja beberapa instansi, kebijakan jam buka beberapa pusat hiburan, pilihan busana, aktivitas ibadah harian, perubahan menu di dapur dan sebagainya. Tapi, apa sebenarnya pesan utama yang dibawa oleh Ramadhan?

Saya berpikir bahwa Ramadhan sebagai penanda waktu bisa saja datang membawa beragam wajah, namun segala sesuatunya benar-benar terpulang pada kita masing-masing. Seberapa dahsyatnya citra yang dikesankan oleh lingkungan, tetap bagaimana makna dan dampak Ramadhan terhadap diri merupakan suatu hal yang sangat pribadi. Selain merupakah hidayahNya, sadar atau tidak hal tersebut kerap merupakan pilihan individual. Di Indonesia, lingkungan sosial berikut tekanan yang menyertainya merupakan salah satu faktor yang dianggap signifikan dalam menentukan warna kehidupan, atau setidaknya keseharian seseorang. Benar bahwa secara kolektif terjadi peningkatan kegiatan ibadah dan kegempitaan lain yang bernuansa Ramadhan di sekitar kita. Tapi sejauhmana secara pribadi seseorang benar-benar tersentuh, tergerak dan lalu berdampak pada peningkatan kualitas hubungan denganNya, hanya ia dan Tuhan sajalah yang tahu. Tidak pernah ada yang bisa memastikan bahwa dengan selalu hadirnya seseorang di masjid untuk menunaikan shalat tarawih berjamaah misalnya, ketakwaannya meningkat dan ke depannya ia bisa menjadi manusia yang lebih baik. Karena ada beragam alasan yang mendasari seseorang memilih sikap atau melaksanakan suatu tindakan. Dan sungguh hal tersebut sama sekali bukan porsi kita, manusia untuk menilai.

Bagi sebagian besar orang (khususnya umat Islam), Ramadhan memang mengalihkan perhatian. Tapi kemana arah beralihnya, sungguh bisa menjadi sangat beragam. Menahan lapar di siang hari ketika berpuasa bisa membuat perhatian kita justru tertuju pada makanan, dari tingkatan wajar hingga mungkin saja terobsesi dengan berulangkali membayangkan hidangan apa saja yang akan dimakan pada saat berbuka nanti. Sebagian lagi mungkin tidak menjadikan lapar sebagai kendala, menjalankan aktivitas rutin saja seperti biasa. Sebagian lagi mampu menambahkan kesehariannya dengan ibadah plus, seperti membaca dan mengkaji Al-Quran. Ada pula yang perhatiannya beralih pada kegiatan sosial kemasyarakatan, atau semakin bergiat di bisnisnya yang memang semakin meningkat ketika Ramadhan. Sebagian bisa sudah mulai antusias menyusun rencana untuk mudik, memilih baju lebaran dan hidangan untuk open house nanti. Singkat kata: meriah. 🙂

Begitu banyak stimulus di sekitar kita, dengan beraneka tingkatan manfaat dan relevansi. Berkaca pada pengalaman pribadi yang kerap (sok) disibukkan dengan kegiatan rutin, seringkali saya menemukan di tengah atau bahkan baru di akhir Ramadhan, bahwa ternyata saya sama sekali belum memanfaatkan bulan baik ini secara optimal. Selalu disertai dengan menciutnya hati, khawatir tidak akan ada waktu lagi bagi saya untuk menjumpai Ramadhan berikutnya. Lalu menjadi klise dan berulang, tanpa perbaikan berarti. Saya melihat, Ramadhan sebenarnya adalah latihan yang sangat baik agar kita bisa lebih terampil dan mengasah kepekaan dan menentukan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita. Menjalani Ramadhan di tengah kepungan segala predikat dan hal terkait tentangnya, mampukah kita memilah dan memilih mana yang benar-benar ‘panggilan terpenting’? Mampukah kita membedakan mana yang esensial dan mana yang hanya sekedar ornamen pelengkap belaka?

Ramadhan adalah salah satu panggilan terindah untuk menghampiriNya, merasakan kenikmatan untuk dekat dan beribadah lewat berbagai cara, dalam bulan yang dimuliakan. Belajar menemui Allah bukan hanya lewat menahan dahaga dan lapar, menjalankan tarawih atau tadarus, tapi juga ketika bekerja di kantor, berkomunikasi dengan orangtua, melihat hujan, mengalami macet, mengasuh anak, berdagang, melihat pengemis, ketika tengah antri di bank, di dalam angkutan umum, dan seterusnya. Setiap saat berusaha untuk menghadirkanNya di hati, lewat sikap dan perilaku. Ramadhan mungkin saja cara Allah SWT untuk membuat perhatian kita sejenak beralih dan berlatih, setelah 11 bulan lain (sebagian besar aktivitas kita) bergumul dengan keduniawian. Lewat menahan lapar dalam berpuasa Ramadhan, seolah ditutupNya beberapa kanal kebutuhan-kebutuhan mendasar kita, lalu dihadirkanlah dimensi lain kemesraan dengan Sang Maha. Bagai orang yang sejenak memejamkan mata, dengan sendirinya pendengaran dan penginderaan lainnya pun akan lebih tajam. Pertanyaan buat kita (dan terutama ditujukan buat diri saya sendiri tentunya): Mampukah kita hening sejenak di tengah hingar bingar dunia dan kegempitaan Ramadhan, untuk kemudian meresapi kebeningan? Mendengarkan dan benar-benar menemuiNya? Akankah (misalnya) lewat tarawih di mesjid atau bersedekah kita merasakan kehadiranNya, bukan hanya sekedar melakukan gerakan sholat secara fisik atau memberikan sebagian harta karena niat lain? Sebagaimana disampaikan lewat firmanNya, sebenarnya Ia selalu ada, selalu hadir. Lebih dekat dengan masing-masing diri kita daripada apapun dalam kehidupan itu sendiri, walau kita seringkali abai. Mampukah kita secara konsisten menemukan dan merasakan denyut kedekatan itu?

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.  (Al-Quran 50:16)

Segala yang benar hanya datang dariNya, dan Allah SWT semata yang Maha mengetahui sebenar-benarnya. Selamat menjalankan dan menikmati ibadah Ramadhan, teman-teman..  🙂

Hidup ‘Biasa-Biasa Saja’

Mengingat bahwa suatu apapun –penderitaan maupun kesenangan, tidak akan berlangsung lama dan memandangnya sebagai ‘biasa-biasa saja’, MUNGKIN adalah salah satu cara terbaik untuk menjalani hidup. Eiits, mungkin lho. Sekedar menebak sih. Maklum, saya baru sekali ini hidup 😉 . Saya merekam kata-kata tersebut dalam benak, lewat tausyiah yang kerap disampaikan salah seorang ulama. Intinya beliau mengingatkan agar kita ‘biasa-biasa saja’ dalam menjalani dan menghadapi hidup dunia, toh semuanya juga akan berakhir, dan yang paling bernilai di ujung usia hanyalah amal ibadah. ‘Biasa-biasa saja’ tentu saja menjadi tidak sesederhana terdengarnya dan hanya biasa-biasa saja. Bahkan mungkin justru perlu niat kuat, proses panjang dan usaha konsisten untuk bisa menjadikannya bagian dari diri dan keseharian kita. Apalagi sifat manusia memang sudah sedemikian diciptakanNya memiliki kecenderungan untuk terbuai pada kehidupan dunia, sesuai dengan Al-Quran Surah Ali Imran ayat 14 (‘Dijadikannya indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingininya, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.  Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah- lah tempat kembali yang baik (surga)’). Menjadikan apa yang dipandang indah sebagai ‘biasa-biasa saja’, tentu merupakan tantangan tersendiri.

Image

Menurut saya, paham ‘biasa-biasa saja’ ini bisa membantu untuk memberi ketenangan di saat kita belum atau tidak mendapatkan keinginan, merasa kecewa. Sebaliknya, juga menjadikan kita tidak terlalu jumawa dan menepuk dada, ketika berhasil atau memperoleh kesenangan. Namun ‘biasa-biasa saja’ tidak lantas membuat emosi kita menjadi datar. Bagaimanapun emosi adalah apa yang kita rasakan, terkadang sifatnya dipengaruhi situasi, tidak selalu bisa diduga atau dikontrol sepenuhnya. Tidak mungkin saya tidak jumpalitan bergembira misalnya, apabila saya masih dipercayakan Allah untuk kembali hamil. Pasti, saya akan sangat bersukacita. Sujud syukur, berbagi dengan keluarga dan sahabat terdekat, menikmati setiap menit kehamilan saya (amiiin..). Lalu sebaliknya, ketika berita duka datang –kepergian seorang kerabat misalnya, adalah mustahil bahwa emosi saya akan tetap bergeming. Di sinilah saya merasakan fungsi nilai (value) ‘biasa-biasa saja’ berperan, untuk membantu meredakan kepedihan di saat saya terpuruk dan mengembalikannya pada kebesaranNya, berlari dan bersimpuh untuk mengadukan apapun tetap pada Sang Maha. Sebaliknya, ketika memperoleh kegembiraan atau keberhasilan yang membungahkan, nilai ‘biasa-biasa saja’ tetap memberi kesejukan dan rasa syukur mendalam. Setidaknya kepala yang mulai membesar tak terkendali bisa ditahan sedikit dengan adanya kesadaran bahwa semua nikmat dan berkah hanya dariNya. Betapa apapun upaya keras dan niat kuat kita tidak akan tercapai, tanpa kehendakNya.  

Dengan ‘biasa-biasa saja’ juga saya merasa tidak terbebani untuk membandingkan hidup ini dengan apa yang dijalani oleh kebanyakan orang. Saya mencoba untuk menikmati, bahagia dan bersyukur pada porsi yang diberikanNya. Tentu saja semua ini masih dalam tahap belajar. Pembelajaran yang terkadang di tengah prosesnya terhenti dengan jeda ketidakpahaman oleh terbatasnya nalar dan tumpulnya rasa. Haha. Namun saya senang dan bahagia bahwa saya berproses. Saya berusaha dan merasa menemukan banyak hal-hal baru, memaknai hidup dengan kacamata yang Allah SWT berikan kepada saya. Berharap setiap nafas membawa saya semakin dekat dengan kebaikan dan kebenaran. Bagaimana dengan Anda? Boleh sharing ya..  🙂

Al Fatihah

Pikiran-pikiran saya kerap menjelajah acak, entah ini suatu keuntungan atau bukan. :p Mulai menulis lagi di lapak baru ini membuat benak saya tiba-tiba melompat, spontan mengasosiasikannya dengan kata ‘pembukaan’ dan ‘Al-Fatihah’.

Sewaktu SMA saya beberapa kali diminta membantu Ustadz di masjid dekat rumah, untuk mengetikkan lembaran tausiyah yang akan dibagikan pada jamaah. Satu dua kali saya sedikit mengeluh, karena ‘tugas’ tersebut terkadang datang di saat saya sedang banyak PR sekolah. Tapi, lebih banyak saya tanpa sengaja menjadi ikut belajar dengan membaca tulisan tangan beliau dan mengetiknya kembali. Tentu saja baru belakangan saya paham, bahwa dalam banyak hal seringkali apa yang awalnya terpaksa atau tak sengaja dilakukan dalam hidup ternyata sebenarnya merupakan ‘pesan langit’ yang memang ditujukan buat saya. 😉

Nah, salah satu yang paling saya ingat adalah ketika mengetikkan kembali tulisan Ustadz mengenai keutamaan membaca surat Al-Fatihah dengan tenang, berjeda dan coba memahami arti dengan baik ketika sholat. Demi menghindar dari kekeliruan yang disebabkan keterbatasan kapasitas otak saya, berikut saya kutipkan sebagaimana pembahasan yang pernah dituliskan oleh Aa Gym lewat akun twitternya pada September 2012;

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah SWT berfirman : “Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk hamba-Ku”. Artinya, tiga ayat di atas Iyyaka Na’budu Wa iyyaka nasta’in adalah hak Allah, dan tiga ayat ke bawahnya adalah urusan hambaNya.

Ketika kita mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”. Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku“.

Ketika kita mengucapkan “Ar-Rahmanir-Rahim”. Allah menjawab: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku“.

Ketika kita mengucapkan “Maliki yaumiddin”. Allah menjawab: “Hamba-Ku memuja-Ku

Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”. Allah menjawab : “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku”.

Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhoolliin.”  Allah menjawab : “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Kupenuhi yang ia minta.”

(H.R. Muslim dan At-Turmudzi)

Pertama kali mengetahuinya, saya begitu tersentuh. Sangat indah. Membayangkan bahwa betapa dekat sebenarnya Allah dengan hambaNya, setiap kita menunaikan sholat. Ibadah menjadi bukan semata sarana penyembahan atau pengagungan mahluk kepada Sang Khalik, namun juga sarana komunikasi interaktif yang indah. :’) Menurut saya yang berpemahaman terbatas ini, hadits tersebut sangat mungkin ada sebagai sarana yang bisa membantu menghadirkan Allah SWT dalam setiap sholat kita. Allah SWT selalu ada dan tidak pernah beranjak. Adalah semata keterbatasan kita sebagai manusia (dalam hal ini saya terutama, hiks!), yang seringkali melakukan ritual sholat tanpa atau minim nyawa sehingga yang tersisa hanya aktivitas fisik; menunduk dan bersujud.  Dialog terstruktur di atas bisa jadi merupakan pengkondisian, untuk dengan sengaja memunculkan kedekatan jiwa kita dengan Sang Maha. Setelah terbangun ‘koneksi’ yang stabil, kedekatan membuat kita merasa lebih nyaman dan bahkan bisa menggiring kita untuk melakukan dialog interaktif secara lebih personal, di akhir ritual sholat.

Apakah dengan tahu kemudian sholat saya menjadi lebih baik? Wah, itu sih seharusnya ya. Idealnya demikian. Satu dua kali memang adakalanya saya bisa merasakan kedekatan dan kekhusyu’an tanpa usaha berlebih. Kenyataannya, bagi saya  pribadi setiap sholat adalah perjuangan untuk bisa benar-benar menghadirkan keterhubungan saya dengan Allah SWT. Seperti koneksi 3G Indonesia yang tidak selalu stabil (hehehe..), saya mengibaratkan keterhubungan pribadi dengan Allah adalah sesuatu yang harus secara aktif diupayakan, termasuk ketika tidak ada sinyal. Dalam kondisi apapun, setiap saat. Berharap dengan mengingat dan menuliskan kembali hadits Qudsi di atas, saya bisa membersihkan debu dan noda di cermin kekhusyu’an saya ketika sholat, mengingat jatah usia yang kian singkat.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ