Ada Apa dengan Dokter?

Hari ini ada ribuan dokter dari berbagai penjuru Indonesia yang turun bergabung dalam aksi solidaritas menolak tindakan kriminalisasi atau tuduhan malpraktik terhadap sejawat mereka. Saya melihat adalah sangat wajar munculnya kekecewaan atas perlakuan (sebagian) aparat penegak hukum terhadap beberapa orang yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Di sisi lain, adalah wajar pula bila muncul kekecewaan terhadap layanan yang (dianggap) kurang optimal dari para dokter, bukan hanya pada kasus dr. Ayu, SpOG namun juga di sejumlah kasus lain, diberitakan maupun tidak. Membaca berita dan siaran pers dari pihak PB POGI mengenai proses penangkapan dr. Hendry S, SpOG Selasa, 26 November 2013, tak ayal memang membuat emosi menggelegak, terlebih bagi sejawat atau mereka yang mengenal dekat beliau. Di beberapa kasus, emosi serupa juga sebenarnya tak kalah menggelegaknya di pihak keluarga, ketika dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa si pasien harus kehilangan nyawa.

Tanpa maksud menunjuk pihak yang salah atau benar, saya melihat bahwa pembahasan mengenai kronologis kejadian untuk mengusut bagaimana duduk perkara sebenarnya seringkali menjadi tidak mudah. Bahkan sangat tidak mudah untuk kemudian malah menjadi lebih kusut ketika mispersepsi, asumsi dan emosi yang berperan dominan, mengesampingkan fakta dan logika. Pada saat itikad dan prasangka baik untuk saling memahami menipis, di sanalah posisinya digantikan oleh kebutuhan kuat untuk mencari siapa yang perlu dipersalahkan. Sayangnya dalam hal ini seringkali justru telunjuk kita mengarah ke luar terlebih dahulu; mencari pihak eksternal yang salah. Sebenarnya dari sudut pandang manusiawi hal ini wajar, karena merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) atau strategi coping masing-masing individu. Tidak pernah mudah menerima hal yang paling logis sekalipun, ketika emosi sudah memenuhi dada, penilaian dan keputusan lalu didasarkan atas asumsi belaka. Ketika pasien (dan keluarganya) menyalahkan dokter, apakah sebelumnya sudah ada upaya untuk mencari penjelasan yang memadai mengenai duduk perkara kejadian? Intinya coba memahami sebelum menyalahkan. Apakah hal tersebut juga sudah dilatarbelakangi oleh upaya memahami (sekilas saja) mengenai mekanisme kerja tubuh? Atau mengenai cara kerja dokter? Atau sudahkah dipahami bahwa dokter juga seorang manusia, sama persis sebagaimana seorang pasien? Tidak ada dewa maha tahu atau robot serba bisa dalam hal ini.

Image

Saya bisa memahami kegelisahan dan kegusaran teman-teman dokter atas peristiwa yang terjadi belakangan ini. Tapi sebenarnya saya juga tidak sepenuhnya bisa mencerna alasan aksi mogok yang dilakukan oleh mereka. Terutama apabila hal tersebut dimaksudkan untuk melakukan pembelaan terhadap satu kasus semata, lalu ribuan bahkan jutaan dokter negeri ini turun ke jalan menolak kriminalisasi apabila terjadi dugaan malpraktik. Apakah itu artinya ada jaminan 100% bahwa setiap dokter pasti melakukan tugasnya dengan baik? Setiap waktu, terhadap siapa pun, dimanapun, dalam kondisi apapun? Apakah artinya dokter tidak pernah salah? Atau tidak akan berbuat kekeliruan? Baiklah, di bawah sumpah profesi semua memang bersaudara. Tapi apakah artinya semua serentak begitu saja membela tanpa kecuali? Bukankah yang dikedepankan adalah kemanusiaan, bukan sekedar membela saudara seprofesi?

Adanya tuntutan terhadap perlindungan profesi ini (yang katanya: dari kriminalisasi), mungkin saja bersumber pada kesenjangan atau belum efektifnya komunikasi antara dokter dengan pasien. Bila dikatakan, dokter telah menjalankan langkah sesuai prosedur, apakah prosedur tersebut memang sudah diinformasikan sebelumnya kepada pasien? Atau apakah prosedur tersebut memang sudah ditetapkan dan berlaku standar? Atau ada hal-hal lain yang menjadi prioritas pertimbangan di situasi tertentu, sehingga kesegeraan tindakan mendahului pemberian informasi kepada pasien? Harus diakui bahwa masih sangat banyak pasien yang belum tahu hak dan kewajibannya, juga terbatas kemampuannya untuk menyerap, menggali dan memahami informasi medis. Namun di sisi lain, tidak sedikit juga dokter yang kurang terampil atau bahkan enggan untuk membangun rapport yang baik dengan pasien. Berapa banyak di antara kita berganti dokter, dengan alasan tidak nyaman dengan dokter sebelumnya yang kurang informatif atau kurang care?

Saya khawatir tuntutan untuk menolak kriminalisasi dokter sebenarnya bisa membawa dampak bukan untuk melindungi profesi, tapi justru semakin menciptakan jurang pemisah antara dokter dan pasien. Bukan membangun komunikasi untuk saling memahami, namun menyuburkan arogansi profesi bahwa ada satu pihak yang tidak pernah salah dan tidak bisa disalahkan. Bukankah yang menjalankan profesi juga seorang manusia yang tetap bisa berbuat keliru, sengaja ataupun tidak? Saya khawatir oknum dokter yang tidak semulia dokter-dokter pada umumnya dan mengabaikan kode etik profesi akan bersorak gembira, mendukung penuh tuntutan ini. Ayolah, tidak ada jaminan kan bahwa seluruh yang berprofesi dokter adalah manusia berintegritas dan sepenuhnya profesional? Melindungi profesi sah-sah saja, tetapi bukan melindungi oknum yang berperilaku melenceng dari profesinya. Bagaimanapun tidak ada satu pun profesi yang steril dari khilaf.

Sebagai orang awam, saya melihat bukan semata pada profesinya. Saya menghargai profesi dokter setara dengan profesi lain. Bagi saya kemuliaan toh bukan terletak pada profesi, tapi pada upaya masing-masing individu untuk menjadi sebaik-baik dirinya dan menebar manfaat bagi sekitar. Kalau ada yang bilang bahwa dokter mengorbankan waktu, tenaga, uang dan bahkan keluarga dalam menjalankan profesinya, saya kira juga setiap manusia yang berusaha amanah dengan profesinya, akan demikian adanya. Saya melihat banyak dokter yang memegang teguh etika profesi dan komitmen kerja, namun ada saja beberapa gelintir yang abai. Tidak ada bedanya dengan profesi psikolog, pengacara, guru, akuntan dan lain sebagainya. Apakah mungkin harapan berlebihan menjadi semakin membumbung ketika persepsi publik menempatkan dokter sebagai profesi ‘mulia’? Saya kira memang kita perlu lebih realistis melihat posisi para dokter, agar bisa menerima dan menghormati profesi mereka secara proporsional. Mereka juga punya batas kelelahan fisik dan mental, yang justru kerap tidak bisa diungkapkan atau diekspresikan secara langsung, di tengah beban tuntutan profesinya. Mereka menjalani pendidikan dasar dan profesi, lalu spesialis, kemudian sub spesialis dan seterusnya, dalam waktu yang mungkin menyita sebagian besar jatah usia mereka. Di saat kita ada di pihak pasien yang tengah diruwetkan oleh kondisi sakit, tak mudah memang menempatkan diri untuk berempati dan memahami dokter. Ada kecenderungan untuk selalu menuntut mereka melakukan yang terbaik bagi pasien, sebisa mungkin tanpa cela. Sudah adilkah kita terhadap para dokter?

Image

Teringat saat beberapa tahun lalu saya sempat mengalami septic shock pasca operasi usus halus, yang kebetulan dilakukan ketika saya tengah hamil 18 minggu. Karena kondisi menurun drastis, janin tidak bisa bertahan dan membahayakan jiwa, hingga sempat saya mengarah pada kegagalan multi-organ. Lalu saya harus ‘dikomakan’ dan menggunakan ventilator selama 10 hari. Ketika kondisi saya terus memburuk, tim dokter pada akhirnya menyatakan angkat tangan dan menyampaikan pada keluarga bahwa saya tidak akan bertahan lama. ‘Hanya keajaiban yang bisa memulihkannya’, demikian kalimat klise-nya sebagaimana tercetus di banyak adegan film ber-setting rumah sakit. Sangat banyak orang yang (bahkan hingga kini) dengan cepat bereaksi, ‘itu bukannya malpraktik, ya?’ Saya melihat ini respon yang sangat wajar dari orang-orang terdekat saya. Saya pun tidak mencerna dan memahami semua yang terjadi dalam waktu singkat. Ketika baru saja pulih, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepala saya, yang tidak bisa dituntaskan hanya dengan googling. Saya sebenarnya sangat butuh untuk berdiskusi dengan sahabat-sahabat saya yang berprofesi sebagai dokter, untuk penjelasan medis lebih detil. Sayang, mereka semua terlalu sibuk. Saya benar-benar hanya mengumpulkan potongan-potongan informasi lewat tumpukan berkas riwayat penanganan, bon tagihan biaya rumah sakit, aneka hasil rontgen, hasil lab dan resep obat, juga cerita dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Apakah saya tidak melihat kemungkinan lain yang mengarah pada maltindakan atau malpraktik misalnya? Secara hipotetis, bisa saja. Ada beberapa hal dan tindakan sembrono (dokter maupun tenaga medis lain) yang memang disesalkan dan cukup memancing kegusaran saya. Misalnya, sempat ada kekeliruan dua orang petugas yang membawa mesin x-ray ke ruang ICU untuk segera melakukan rontgen, padahal waktu itu saya masih dalam kondisi hamil. Dengan kegalakan kesadaran yang masih 70% fully charged, saya tegas menolak dan minta mereka untuk mengecek ulang, karena yakin bukan saya yang dituju. Ternyata memang mereka salah pasien. Di waktu lain, seorang petugas lab juga pernah keliru menempelkan sticker bernama ‘Tn. Thamrin’ pada tabung berisi darah saya. Untungnya suami saya mengetahui dan langsung menegur. Terkait dengan dokter, hal paling menyebalkan yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika seorang spesialis anestesi melakukan prosedur pemasangan CVP (Central Venous Pressure) sambil menerima telpon yang dijepit antara telinga dan pundaknya. (Oh ya, buat teman non-medis yang penasaran bisa lihat sendiri di YouTube tentang prosedur pemasangan CVP. Silahkan dinilai secara obyektif, kira-kira optimal atau tidak kalau tindakan tersebut dilakukan sembari bertelpon-ria). Cukup lama si dokter tersebut berbicara lewat telpon genggamnya, yang sependengaran saya sama sekali bukan pembicaraan urgent terkait kepentingan pasien lain. Saya sangat marah, namun kondisi saya saat itu terlalu lemah untuk sekedar bersuara normal. Dengan mengumpulkan tenaga, separuh berbisik saya ceritakan kejadian tersebut pada suami dan ayah saya. Mereka juga sangat marah dan langsung mengungkapkan kekecewaannya pada tim dokter. Ayah saya langsung menyatakan bahwa beliau tidak ingin melihat dokter tersebut ada di depannya lagi, atau memasuki ruangan tempat saya dirawat. Dokter anestesi tersebut lalu digantikan oleh dokter lain. Dalam perkembangannya, memang alat yang terpasang ternyata berusia jauh lebih pendek dibandingkan kalkulasi awal sehingga harus dilakukan pemindahan dan pemasangan ulang di titik yang berbeda. Hal ini terjadi beberapa saat sebelum saya mengalami penurunan kondisi drastis yang kemudian mengantarkan pada induced coma. Apakah di sini terjadi kelalaian atau malpraktik? Coba kita tanyakan pada rekan-rekan dokter yang terhormat..  🙂

Ketika pada akhirnya beberapa tahun kemudian saya berhasil bertemu kembali dengan dokter yang mengepalai Tim Dokter saat menangani kasus saya, benar-benar yang terasa adalah kelegaan luar biasa. Kelegaan yang saya pahami di sini ternyata bukan dalam arti semua pertanyaan saya terjawab sempurna atau semua keinginan saya terpenuhi, namun tepatnya adalah saya bisa memahami lebih utuh apa yang sebenarnya terjadi. Cukup lama juga saya, suami dan seorang teman lain (yang membantu mewujudkan pertemuan tersebut) berbincang dengan sang dokter. Di akhir pertemuan saya sampai pada kesadaran bahwa rangkaian kejadian yang sudah lalu sebenarnya memang sudah demikian adanya. Bukan semata karena skenario besarnya sudah ada yang menentukan, namun saya juga bisa menerima karena memahami keterbatasan-keterbatasan yang ada pada diri para dokter tersebut. 36 hari di rumah sakit memberikan saya gambaran yang jujur mengenai keseharian para dokter, dari sikap ketus atau seenaknya ketika mereka kelelahan, juga perhatian yang tulus dan upaya maksimal dari beberapa dokter yang benar-benar terasa memperjuangkan keselamatan saya. Bener deh, mereka manusia juga kok. Dari sekelompok orang yang berprofesi sama, tentu saja akan sangat naif apabila saya berharap tidak ada sama sekali yang brengsek. Itu bisa terjadi di semua profesi, dan tindakan yang tidak profesional tersebut bisa menimpa pada siapapun. Tidak ada satupun profesi yang rela dikriminalkan. Namun di sisi lain adalah wajar bahwa sebagai manusia, mungkin saja ada satu-dua oknum yang menyalahi etika dan prosedur sebagai profesional di bidangnya –yang sengaja ataupun tidak, lalu berdampak fatal. Saya kira ini yang tidak perlu dibela atau ditutupi secara membabi buta. Kebetulan dalam kasus saya, upaya sebagian besar dokter yang ada dalam tim tersebut sudah optimal, berjuang sekuat tenaga demi kepulihan pasiennya. Saya memaafkan tapi belum bisa melupakan satu oknum dokter yang bekerja tidak profesional. Bisa saja ceritanya akan berbeda kalau nyawa saya tidak terselamatkan, ya? 😉

Apa yang terjadi sebenarnya tetap harus ditelaah secara kasus per kasus. Bagaimanapun, setiap kasus melibatkan begitu banyak fakta dan pihak terkait di belakangnya. Sangat dibutuhkan adanya keterbukaan dan kedewasaan dari berbagai pihak, termasuk dari sisi aparat keamanan maupun penegak hukum agar lebih profesional dalam melakukan tugasnya. Tidak sepenuhnya salah, namun rasanya memang terlalu sederhana untuk bisa diselesaikan dengan aksi keprihatinan turun ke jalan atau bahkan mogok kerja massal. Perlu upaya intensif dan komunikasi berkelanjutan agar publik bisa menghargai secara proporsional, sekaligus juga tetap obyektif dan realistis terhadap profesi dokter. Pasti butuh proses, haqqul yakin. Jalan panjang untuk bisa saling menghargai memang tidak pernah mudah. Terlebih profesi dokter memang unik. Dalam bertugas ada beban fisik dan mental yang cukup tinggi, tantangan dan tekanan tinggi, resiko tinggi, sementara tetap dalam melakukan tugasnya kerap terasa ada tuntutan untuk tampil sebagai pribadi yang sempurna. Agak jarang-jarang ya, terdengar seorang dokter mengalami depresi dan merasa perlu berkonsultasi pada psikolog? Eh. Sudah, sudah…  >_<

Oh, ya.. terima kasih, salut dan hormat saya untuk para dokter yang hari ini tetap berusaha profesional menjalankan tugasnya, mengutamakan keselamatan pasien dan kemanusiaan. 🙂

Tokyo Family

Di titik mana Anda berdiri saat ini?

Manusia muda mungkin melihat hidup jauh ke depan, mengisi waktunya dengan mengejar apa yang ingin diraih. Manusia tua bisa jadi merasa telah melalui puncak pencapaian dan melihat hidupnya mendekati akhir. Mereka kerap menengok ke belakang, mengenang apa yang pernah ada. Karena secara nyata sudah pernah melewati masa yang dijalani si muda, si tua bisa saja merasa lebih paham dan tahu, atau bahkan merasa benar dalam banyak hal. Dalam lingkup terdekat pertalian yang terhubung oleh darah -yaitu keluarga, pergesekan justru sering muncul karena adanya perbedaan persepsi ini.

Anak merasa ingin menentukan dan menjalani hidup dengan caranya, sementara orangtua tidak mudah untuk begitu saja melepaskan mereka, terlebih apabila dianggapnya si anak belum memenuhi kriteria ‘keberhasilan’ menurutnya. Anak yang begitu menggemaskan saat dipeluk dan ditimang semasa bayi, bisa menjadi sosok yang asing bagi orangtua ketika mereka beranjak dewasa. Demikian pula sebaliknya, anak bisa saja merasa bahwa sepanjang hidupnya ia selalu dianggap kurang, belum berhasil atau bahkan salah dan gagal oleh orangtua. Banyak yang menggarisbawahi komunikasi sebagai kunci. Kenyataannya tidak semua orang membangun kebiasaan dan memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik. Dan hal tersebut memang bukan sesuatu yang sederhana untuk dilakukan, terlebih bila sekian lama sudah terjebak dalam interaksi (dan komunikasi) yang kurang sehat. Dalam pandangan sederhana, saya menganggap ada yang lebih penting yang terlebih dulu perlu mendasari komunikasi; mencintaimemahami dan memaklumi. Dalam konteks keluarga, ketiga hal tersebut akan mengantarkan si muda dan si tua, anak dan orangtua untuk bertemu di titik tengah; jembatan komunikasi yang menghubungkan keduanya. Apalah artinya berkomunikasi bila tanpa didasari rasa sayang, kesediaan untuk memahami dan memaklumi. Toh, saling berteriak, membentak, bahkan melempar piring pun merupakan bentuk berkomunikasi. :-p

Di titik mana Anda berdiri saat ini?

Sebagai anak, sebagai orangtua, atau keduanya?

Apakah Anda menikmati dan mensyukuri interaksi yang ada?

Film apik berdurasi 146 menit berjudul Tokyo Family yang baru saja saya saksikan minggu lalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mengambil setting Tokyo masa kini, sang sutradara Yoji Yamada mencoba untuk membuat remake dari film garapan Yasujiro Ozu di tahun 1953 berjuluk “Tokyo Story”. Ya, benar. Film aslinya dibuat sekitar 60 tahun yang lalu. Pheeew! Sudah selama itu. 🙂 Saya tak hendak membahas komparasi keduanya, toh saya belum menyaksikan film Ozu tersebut, yang konon dianggap mahakarya pada zamannya.

Cerita dimulai dengan kunjungan Ayah dan Ibu yang tinggal jauh di pedesaan suatu pulau, ke Tokyo untuk menemui ketiga anaknya; Koichi (seorang dokter dengan istri dan dua orang anak), Shigeko (membuka salon rumahan bersama suaminya) dan Shoji (seorang pekerja serabutan yang menggarap setting panggung pertunjukan, dekorasi ruang konser dan sebagainya). Karakter Ayah digambarkan sebagai sosok tua yang kaku, dingin dan lebih banyak menggerutu. Baginya apa yang dikerjakan oleh anak-anaknya tidak pernah cukup memuaskan atau dianggap benar, terutama Shoji yang ia lihat tidak memiliki masa depan yang baik. Keberhasilan menjadi dokter sebagaimana yang diraih Koichi pun ia anggap memang sudah sewajarnya. Diam atau berkata pedas adalah dua hal yang paling dikuasainya. Sang Ibu justru sebaliknya, punya sikap dan perangai yang bertolak belakang sekaligus juga melengkapi si Ayah; tenang, hangat, penggembira, cenderung santai dan optimis melihat sekitarnya. Kecemasan atau kekhawatiran yang muncul selalu diimbangi pula dengan prasangka baik terhadap para anak. Ibu yang lebih ringan dan positif melihat segala sesuatunya ini kerap menjadi pintu penghubung komunikasi antara anak-anak dengan Ayah.

Dalam upaya  Ayah dan Ibu untuk mengetahui kabar dan perkembangan ketiga anak (dan keluarga masing-masing), mereka secara bergantian menginap di rumah yang berbeda. Di sinilah muncul gambaran yang kerap terjadi ketika si anak usia dewasa dikunjungi orangtua mereka. Senang menyambut kedatangan mereka, sekaligus juga bingung mengatur waktu dan kegiatan agar tetap bisa menemani mereka tanpa mengganggu jadwal rutin yang telah ada sebelumnya. Di satu titik, ketika semua anak sibuk dan tidak bisa mangkir dari pekerjaan, mereka pun sepakat untuk ‘mengungsikan’ Ayah dan Ibu sementara waktu ke Yokohama (sekitar 30 km dari Tokyo), memberikan keduanya fasilitas untuk bermalam di hotel mewah. Dalam pemikiran Koichi dan Shigeko, daripada bersempit-sempit di rumah mereka di Tokyo, pasti refreshing di hotel akan sangat menyenangkan bagi mereka. Kenyataannya, Ayah dan Ibu justru merasa bingung dan ‘terusir’, mendapati bahwa mereka sebenarnya saat itu tidak punya tempat di tengah kesibukan para anak. Malam menginap  mereka habiskan dengan memandangi gemerlap kincir raksasa dan lampu cantik lain yang menghiasi langit malam Yokohama, dari jendela kamar. Merasa bosan dan sayang membuang waktu di kamar mewah yang dianggap pemborosan, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Tokyo lebih awal. Hal ini ternyata membuat para anak pun terkejut, tidak siap dengan rencana lain. Merasa enggan menyulitkan, kedua orangtua berinisiatif memilih alternatif lain; si Ayah akan menginap di rumah sahabatnya dan si Ibu memilih untuk menginap di apartemen sempit Shoji.

Di titik ini terjadi hal-hal yang menurut saya menarik. Ayah mengisi pertemuan dengan sahabat lamanya, berbincang hingga larut di kedai sake dimana sebagian besar isi pembicaraan adalah keluhan, omelan dan ketidakpuasan akan kondisi dan pencapaian anak-anak mereka saat ini. Keduanya pulang dalam keadaan mabuk berat. Sementara Ibu menikmati malam dengan si bungsu Shoji, yang mengenalkannya pada calon istrinya: Noriko. Terkejut dengan kedatangan Noriko, namun Ibu juga mendapati bahwa gadis tersebut sangat baik dan menyenangkan. Mereka menikmati makan malam bersama. Ketika Noriko pulang, Shoji banyak bercerita tentang Noriko, termasuk pertemuan pertama mereka ketika sama-sama menjadi relawan di Fukushima pasca bencana tsunami. Sutradara cukup apik menggambarkan quality time; kedekatan Ibu dan anak, ketika sebelum tidur Shoji bercerita dengan binar mata mengingat Noriko dan membayangkan masa depan mereka. Si Ibu terus tersenyum dan tidak kalah antusiasnya menanggapi, dengan kehangatan seorang Ibu yang bungah melihat anaknya bahagia.

Di pagi hari ketika Shoji sudah berangkat kerja, Noriko singgah untuk mengantarkan sarapan. Di sini Ibu berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang masih ada di benaknya; apakah Noriko adalah orang yang tepat bagi Shoji? Apakah Shoji cukup layak buat menjadi suami Noriko? Ia menanyakan langsung pada Noriko, terutama apa pendapatnya tentang Shoji yang cenderung santai, belum punya perencanaan jangka panjang dan kehidupan yang mapan. Si Ibu sudah bersiap dengan apapun jawaban yang muncul, ketika di luar dugaan Noriko justru mengutarakan, “Saya tahu Shoji memang seperti itu. Kami banyak berselisih paham di awal hubungan. Tapi hal tersebut juga merupakan kualitas yang terbaik dari dirinya. Ia bersemangat, antusias, menikmati hidup saat ini apa adanya, tidak terpaku pada masa depan.”  Legalah si Ibu, merasa yakin bahwa Noriko dan Shoji memang merupakan pasangan yang serasi.

Dengan sikap yang berbeda, Ayah dan Ibu masing-masing memperoleh kesan dan kesimpulan yang berbeda pula mengenai kehidupan anak-anak mereka. Singkatnya:

‘mengeluhlah, menggerutulah. Anda pun akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal yang menyebalkan.’

‘terimalah, bersyukurlah. Anda akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal yang menyenangkan.’

Rangkaian cerita selanjutnya menggambarkan bagaimana melalui hal dan kejadian tak terduga, ternyata masing-masing anggota keluarga justru ‘dipaksa’ untuk saling mengenal, memahami dan memaklumi. Ada bagian penting yang  kurang seru kalau saya paparkan seluruhnya di sini. :p Yang jelas, film keluaran 2013 ini cukup menarik untuk ditonton karena menggambarkan realita keluarga dan nilai-nilainya secara rapi dan menarik. Tapi buat Anda penyuka film action, mungkin saja berpeluang menjemukan karena tidak ada sama sekali adegan kejar-mengejar, tembakan dan teriakan histeris. 😉

Bagi saya pribadi, film ini meninggalkan pesan sederhana yang penting tentang keluarga: hargai dan syukurilah apa adanya, selagi masih ada.