Membaca Masa Depan Lewat Sekolah

Suatu pagi saya berkesempatan masuk ke sejumlah kelas di sebuah Sekolah Dasar di bilangan Bekasi. Wajah-wajah belia dengan penuh rasa ingin tahu terlihat jelas mendominasi, karena saya memang orang yang sama sekali baru dan bukan guru yang akan mengajarkan pelajaran sebagaimana biasa. Beberapa murid mengesankan diri lebih terbuka dan spontan baik dari sikap tubuh maupun ekspresi verbal, meski hanya satu dua patah kata. Saat saya mulai berbagi cerita mengenai profesi yang saya jalankan sehari-hari, mereka menyimak dengan kekhasan sosok anak di usia sekolah dasar. Kelas kecil lebih banyak dan spontan dalam menjerit, masing-masing anak tak jarang larut dalam apa yang mereka rasakan sendiri. 😉 Ada seorang siswi yang tiba-tiba menutup wajahnya dan terisak tanpa sebab jelas. Belakangan baru saya paham bahwa ia sangat kesal dengan temannya yang kebetulan melintas, mentertawakan cita-cita yang ditulisnya. Demi membangun suasana kelas yang tidak monoton, saya ajak mereka untuk maju ke depan kelas dan mengelilingi lembaran flip-chart yang saya siapkan untuk menjelaskan. Di kelas kecil ternyata hal ini bisa saja menciptakan kejutan dan keriuhan baru; beberapa anak laki-laki setengah berlari hingga berbenturan dengan teman lainnya. Spontan mereka sempat saling pukul. Upps! Sementara kelas besar relatif lebih mudah untuk diajak berkomunikasi dua arah, sehingga penyampaian materi bisa berjalan lebih mulus. Pada salah satu kelas, di pojok kiri depan berkumpul 4 siswa yang semuanya kompak menjawab cita-cita mereka ingin menjadi ustadz. Di bagian tengah agak ke depan, sekitar 5 orang siswi dengan suara mereka yang halus (nyaris berbisik) menjawab bahwa mereka ingin menjadi guru. Di deretan bangku belakang dihuni oleh siswa-siswa yang lebih aktif secara suara maupun gerakan fisik, hampir kebanyakan menuliskan ‘pemain sepak bola’ sebagai cita-cita masa depan mereka.

Hari itu –sekitar 2 minggu lalu, saya merasakan semangat dan kegembiraan yang sama dengan apa yang pernah saya rasakan lewat Kelas Inspirasi sebelumnya, di Depok. Dimulai dari menapaki masuk gerbang sekolah, berpapasan dengan beberapa orangtua yang mengantarkan anak-anak mereka, beramah-tamah dengan para guru dan berinteraksi dengan para murid di kelas, ada perasaan nyaman bahwa saya diberi kesempatan untuk bergabung melakukan kegiatan positif ini. Mengajar dari satu kelas ke kelas berikutnya harus diakui sangat menyita energi fisik dan mental. Namun pada saat bersamaan memunculkan kesenangan, bahkan keharuan tersendiri. Fokus perhatian saya tertuju pada upaya agar bisa menyajikan yang terbaik bagi anak-anak, berharap bisa memunculkan semangat dan pemahaman baru pada mereka mengenai masa depan.

Beberapa hari berikutnya, tanpa sadar saya melakukan komparasi dan menemukan gambaran yang cukup unik di masing-masing sekolah, dari kedua pengalaman saya di Kelas Inspirasi. Sejak awal saya memang memperoleh informasi dan gambaran yang berbeda mengenai kedua sekolah dasar tersebut. Saya coba untuk berpikir bahwa anak dimanapun adalah anak, yang dalam skala kelompok atau kelas akan menampilkan keceriaan dan kekhasan perilaku serupa sebagai anak usianya. Namun tidak bisa dipungkiri, sejujurnya saya memang merasakan warna yang berbeda dari keduanya. Di Depok, kebetulan sekolah tersebut merupakan unggulan dan sebagian besar anak berasal dari keluarga menengah yang cukup mapan secara ekonomi. Salah satu yang saya ingat, Kepala Sekolah menceritakan bahwa penjadwalan kegiatan akademik harus sangat diperhatikan dan disampaikan jauh hari, karena banyak orangtua yang ingin segera menyusun rencana liburan sebelumnya. Siswa di sana secara umum sepenangkapan indera dan mata batin saya (duh! yang ini agak bohong ding..) terlihat cerah, terbuka, spontan dan percaya diri. Sebagian besar dari mereka sudah mampu berkomunikasi dua arah dengan kalimat-kalimat yang cukup baik. Bila pun belum menyapa atau mencetuskan pertanyaan secara langsung, mereka memerhatikan dengan semangat dan binar mata yang hidup. Secara non verbal mereka mengisyaratkan keterlibatan yang baik dengan kegiatan kelas.

Sementara itu, di kesempatan kedua saya juga merasakan ada semangat yang hampir serupa dari para bocah-bocah di sekolah. Namun penyampaian dan ekspresinya agak berbeda. Seolah menyodorkan kemasan dengan warna tersendiri, walau rasa ingin tahu tetap menbuncah di raut wajah-wajah yang saya temui, namun mereka terkesan tidak sespontan murid-murid di sekolah pertama. Binar mata belum banyak dilanjutkan dengan cetusan pertanyaan. Menghampiri belum tentu kemudian sungguh-sungguh mengamati atau bertahan memerhatikan di dekat saya. Memang ada satu dua yang cukup percaya diri, tetapi kebanyakan mereka baru berani berbicara atau maju bila beramai-ramai dengan teman lain. Memasuki 5 kelas di hari itu, saya belum berhasil menangkap rasa percaya diri yang kuat dan konsisten muncul dari mereka. Cara mereka menjawab pertanyaan lebih banyak bersahut-sahutan secara bersamaan. Wajar sebenarnya. Namun ketika saya hampiri dan bertanya secara individual, cukup banyak yang enggan atau malu menjawab. Dari setiap kelas, saya bisa memperoleh tak lebih dari 10 profesi yang menjadi cita-cita mereka, dengan penyebaran jumlah yang menumpuk di beberapa pekerjaan saja, seperti guru, polisi, dokter atau ustadz. Variasinya tidak sebanyak apa yang pernah saya temukan di sekolah sebelumnya, dimana pilot, arsitek, pramugari, apoteker, penulis, koki, bahkan ‘ninja’ dan ‘anggota boyband‘ juga muncul. 😀 Semuanya disampaikan dengan antusiasme dan keceriaan khas usia sekolah dasar.

Tak hendak membandingkan secara wilayah, sama sekali juga tidak terpikirkan untuk itu. Saya hanya terkesiap dengan potret riil yang cukup unik, ada di lapangan. Bagaimana sebuah sekolah dasar sebenarnya bisa menjadi cerminan, akan bagaimana warna sebuah lingkungan (yang merupakan bagian dari bangsa kita) di masa mendatang. Memahami gambaran keluarga murid-murid di SD kedua, sebagian besar memang datang dari keluarga menengah ke bawah, meski sebenarnya lokasi sekolah tersebut sangat dekat dengan sejumlah kompleks perumahan mewah. Beberapa orang tua merupakan buruh pendatang dari luar Jakarta, yang bekerja berdasarkan kontrak. Ketika kontrak selesai dan tidak diperpanjang, orang tua pun langsung membawa anak mereka kembali ke daerah asal. SD ini memiliki arus keluar masuk siswa yang cukup tinggi. Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya bersekolah secara umum belum sebaik sekolah pertama yang saya kunjungi. Di sini, orang tua bisa sewaktu-waktu mengajak si anak keluar dari sekolah, sekalipun waktunya hampir bertepatan dengan ujian kenaikan kelas. Hal ini lebih karena mereka mempertimbangkan biaya tinggal yang harus ditanggung apabila harus menunggu lebih lama lagi.  Sebagian lain dari orang tua bekerja sebagai pemulung dan pekerja kasar. Kondisi ini membawa pada kenyataan lain di sisi kesadaran akan pentingnya sekolah bagi anak. Ketika hari hujan, sebagian siswa membolos hanya karena mereka menjadi tukang ojek payung. Hal ini bukan sesuatu yang lalu menjadi negatif bagi sebagian orang tua.  Biasa saja, atau justru positif karena anak dianggap bisa memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga. Seorang guru sempat bercerita bahwa pernah ada beberapa orang tua yang coba mendaftarkan anaknya begitu saja, tanpa memiliki satu pun dokumen kependudukan seperti KTP atau KK.

Mau tidak mau ingatan saya ‘mondar-mandir’ mencocokkan antara informasi dari para guru dengan gambaran para murid yang saya temui langsung. Latar belakang keluarga (kondisi ekonomi, sikap terhadap pendidikan dan sekolah, dll) hampir selalu memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kelangsungan pendidikan anak. Gambaran tentang anak-anak yang belum sepenuhnya percaya diri, cenderung peragu, kurang spontan dan kurang antusias bersekolah semoga hanya ilusi yang tertangkap oleh mata kekhawatiran saya, semata karena saya punya pengalaman berbeda di sekolah sebelumnya.

Sekolah itu, hanya sekitar 2 kilometer dari garis perbatasan dengan ibukota negara. Sejujurnya saya tidak menduga bisa menemukan gambaran sedemikian rupa, terkait sikap orang tua tentang pentingnya pendidikan dasar anak. Lagi-lagi itu bukan kesimpulan yang berdasarkan data angka, namun masih sekedar kesan yang tertangkap berdasarkan observasi dan informasi yang ada. Yang ada di kepala saya adalah anak-anak itu tidak boleh kehilangan antusiasme dan kegembiraan mereka untuk tetap bersekolah (dan mengembangkan diri mereka secara optimal), apapun yang dihadapi oleh keluarganya. Sampai menit membuat tulisan ini saya baru menemukan potongan-potongan ide beterbangan di kepala, namun belum sampai pada rencana untuk tindak lanjut yang lebih konkrit. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari masa depan Indonesia.

Ada masukan dan ide yang menarik teman? Ditunggu ya..  terima kasih sebelumnya  😀

Iklan

(Memeluk) Ramadhanku

Ramadhan adalah sapaan mesra,

yang tidak setiap saat datang

adalah pelukan hangat,

yang terkadang lebih dirindukan dalam ketiadaan

yang terasa sangat berharga,

begitu menggetarkan hati ketika terpisahkan oleh jarak

 

Ramadhanku masih ada di sini

melesat dengan kecepatan cahaya

hari ke-16 hampir usai *

 

saat mata terpejam,

terasa lebih pasti bahwa aku masih erat dalam semerbak pelukannya

dalam diam dimampukanNya aku untuk meresapi,

memaknai kehadirannya

menikmati detik demi detik

yang begitu bernilai

 

ternyata

sebelas bulan lain hadir

untuk menciptakan rinduku pada Ramadhan

kecintaanku pada keindahannya

walau kerap lebih banyak lalai dan abai dalam diri

kesia-siaan saat melihat, mendengar, berbicara dan melangkah

 

Rabb,

mohon dekatkan hatiku pada kebesaranMu

selalu, Ya Allah

selalu

tiada kemampuan yang melebihi kuasaMu

untuk menyentuh

merekatkan rapuhnya hatiku,

melembutkannya

menjadikannya selalu dalam syukur tak bertepi

membuatnya senantiasa memeluk Ramadhan

sebelum hembusan nafas terakhirku

 

lamat-lamat,

aku tahu Ramadhanku akan segera berlalu

pasti

dan persediaan Ramadhan di sisa usiaku pun kian menipis

 

 

*) ditulis 4 Agustus 2012/Ramadhan 1433

Ramadhan: Saatnya Perhatian Beralih?

Ramadhan datang kembali, ke sekian kalinya dalam hidup kita. Ia adalah salah satu dari banyak penanda dalam rentang waktu setahun. Layaknya penanda atau pengingat waktu lain, dunia atau lingkungan sekitar bisa saja menyambutnya sedemikian rupa. Namun keberartian nilainya selalu terpulang kembali pada setiap individu.

Secara umum Ramadhan diidentikkan dengan bulan penuh ibadah. Di dalamnya dijanjikan Allah SWT limpahan rahmat, ampunan dan kebebasan dari api neraka. Di lingkup sosial, ritual komunal bernafaskan ibadah terlihat dari dilakukannya berbagai kegiatan ibadah seperti tadarus bersama, sholat tarawih berjamaah, buka puasa dan sahur bersama dengan berbagai kalangan, kajian-kajian religius, dan sederet aktivitas lainnya. Di bagian lain, ciri khas Ramadhan di Indonesia antara lain ditandai dengan kenaikan berbagai komoditi di pasar, sibuknya para Ibu rumah tangga menyusun menu bulan puasa, bahkan juga sudah mulai persiapan untuk hari raya. Aneka produk pun dijajakan melalui berbagai kanal, penjual ini dan itu begitu marak selama Ramadhan. Memang para pengusaha tanah air kerap melihat Ramadhan sebagai momen penting dalam kegiatan tahunan, untuk mengeruk keuntungan melimpah. Nilai transaksi dan konsumsi masyarakat pun naik berkali-kali lipat. Ramadhan memang banyak sekali disangkutpautkan dengan berjuta hal lain, sedikit relevan, relevan maupun tidak. Saat ini ketika kita menoleh ke kiri dan kanan, banyak hal apapun kerap dikaitkan dengan Ramadhan. Promo di berbagai pusat perbelanjaan, edisi penerbitan majalah, penyesuaian jam kerja beberapa instansi, kebijakan jam buka beberapa pusat hiburan, pilihan busana, aktivitas ibadah harian, perubahan menu di dapur dan sebagainya. Tapi, apa sebenarnya pesan utama yang dibawa oleh Ramadhan?

Saya berpikir bahwa Ramadhan sebagai penanda waktu bisa saja datang membawa beragam wajah, namun segala sesuatunya benar-benar terpulang pada kita masing-masing. Seberapa dahsyatnya citra yang dikesankan oleh lingkungan, tetap bagaimana makna dan dampak Ramadhan terhadap diri merupakan suatu hal yang sangat pribadi. Selain merupakah hidayahNya, sadar atau tidak hal tersebut kerap merupakan pilihan individual. Di Indonesia, lingkungan sosial berikut tekanan yang menyertainya merupakan salah satu faktor yang dianggap signifikan dalam menentukan warna kehidupan, atau setidaknya keseharian seseorang. Benar bahwa secara kolektif terjadi peningkatan kegiatan ibadah dan kegempitaan lain yang bernuansa Ramadhan di sekitar kita. Tapi sejauhmana secara pribadi seseorang benar-benar tersentuh, tergerak dan lalu berdampak pada peningkatan kualitas hubungan denganNya, hanya ia dan Tuhan sajalah yang tahu. Tidak pernah ada yang bisa memastikan bahwa dengan selalu hadirnya seseorang di masjid untuk menunaikan shalat tarawih berjamaah misalnya, ketakwaannya meningkat dan ke depannya ia bisa menjadi manusia yang lebih baik. Karena ada beragam alasan yang mendasari seseorang memilih sikap atau melaksanakan suatu tindakan. Dan sungguh hal tersebut sama sekali bukan porsi kita, manusia untuk menilai.

Bagi sebagian besar orang (khususnya umat Islam), Ramadhan memang mengalihkan perhatian. Tapi kemana arah beralihnya, sungguh bisa menjadi sangat beragam. Menahan lapar di siang hari ketika berpuasa bisa membuat perhatian kita justru tertuju pada makanan, dari tingkatan wajar hingga mungkin saja terobsesi dengan berulangkali membayangkan hidangan apa saja yang akan dimakan pada saat berbuka nanti. Sebagian lagi mungkin tidak menjadikan lapar sebagai kendala, menjalankan aktivitas rutin saja seperti biasa. Sebagian lagi mampu menambahkan kesehariannya dengan ibadah plus, seperti membaca dan mengkaji Al-Quran. Ada pula yang perhatiannya beralih pada kegiatan sosial kemasyarakatan, atau semakin bergiat di bisnisnya yang memang semakin meningkat ketika Ramadhan. Sebagian bisa sudah mulai antusias menyusun rencana untuk mudik, memilih baju lebaran dan hidangan untuk open house nanti. Singkat kata: meriah. 🙂

Begitu banyak stimulus di sekitar kita, dengan beraneka tingkatan manfaat dan relevansi. Berkaca pada pengalaman pribadi yang kerap (sok) disibukkan dengan kegiatan rutin, seringkali saya menemukan di tengah atau bahkan baru di akhir Ramadhan, bahwa ternyata saya sama sekali belum memanfaatkan bulan baik ini secara optimal. Selalu disertai dengan menciutnya hati, khawatir tidak akan ada waktu lagi bagi saya untuk menjumpai Ramadhan berikutnya. Lalu menjadi klise dan berulang, tanpa perbaikan berarti. Saya melihat, Ramadhan sebenarnya adalah latihan yang sangat baik agar kita bisa lebih terampil dan mengasah kepekaan dan menentukan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita. Menjalani Ramadhan di tengah kepungan segala predikat dan hal terkait tentangnya, mampukah kita memilah dan memilih mana yang benar-benar ‘panggilan terpenting’? Mampukah kita membedakan mana yang esensial dan mana yang hanya sekedar ornamen pelengkap belaka?

Ramadhan adalah salah satu panggilan terindah untuk menghampiriNya, merasakan kenikmatan untuk dekat dan beribadah lewat berbagai cara, dalam bulan yang dimuliakan. Belajar menemui Allah bukan hanya lewat menahan dahaga dan lapar, menjalankan tarawih atau tadarus, tapi juga ketika bekerja di kantor, berkomunikasi dengan orangtua, melihat hujan, mengalami macet, mengasuh anak, berdagang, melihat pengemis, ketika tengah antri di bank, di dalam angkutan umum, dan seterusnya. Setiap saat berusaha untuk menghadirkanNya di hati, lewat sikap dan perilaku. Ramadhan mungkin saja cara Allah SWT untuk membuat perhatian kita sejenak beralih dan berlatih, setelah 11 bulan lain (sebagian besar aktivitas kita) bergumul dengan keduniawian. Lewat menahan lapar dalam berpuasa Ramadhan, seolah ditutupNya beberapa kanal kebutuhan-kebutuhan mendasar kita, lalu dihadirkanlah dimensi lain kemesraan dengan Sang Maha. Bagai orang yang sejenak memejamkan mata, dengan sendirinya pendengaran dan penginderaan lainnya pun akan lebih tajam. Pertanyaan buat kita (dan terutama ditujukan buat diri saya sendiri tentunya): Mampukah kita hening sejenak di tengah hingar bingar dunia dan kegempitaan Ramadhan, untuk kemudian meresapi kebeningan? Mendengarkan dan benar-benar menemuiNya? Akankah (misalnya) lewat tarawih di mesjid atau bersedekah kita merasakan kehadiranNya, bukan hanya sekedar melakukan gerakan sholat secara fisik atau memberikan sebagian harta karena niat lain? Sebagaimana disampaikan lewat firmanNya, sebenarnya Ia selalu ada, selalu hadir. Lebih dekat dengan masing-masing diri kita daripada apapun dalam kehidupan itu sendiri, walau kita seringkali abai. Mampukah kita secara konsisten menemukan dan merasakan denyut kedekatan itu?

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri.  (Al-Quran 50:16)

Segala yang benar hanya datang dariNya, dan Allah SWT semata yang Maha mengetahui sebenar-benarnya. Selamat menjalankan dan menikmati ibadah Ramadhan, teman-teman..  🙂

‘Konspirasi’ untuk Menginspirasi

Baru saja dua hari lalu Allah Maha Baik mengizinkan saya terdampar di sebuah Sekolah Dasar (SD) di bilangan Depok, untuk mencicipi pengalaman menjadi bagian dari Kelas Inspirasi. Meski terundang sebagai relawan yang akan berbagi dan memberi, tetapi saya punya ‘kecurigaan’ bahwa sepertinya justru sayalah yang akan mendapatkan banyak. Di tengah kegiatan rutin, Kelas Inspirasi bagai oase buat saya pribadi. Bukan lantaran aktivitas harian saya terasa ‘terik’, tapi karena kemurnian semangat dan ketulusan memberi yang ada dalam kegiatan ini. Sejak awal, sekedar mulai memikirkan dan merancang rencana kegiatan mengajar untuk anak-anak SD saja sudah membuat saya sumringah dan bersemangat berhari-hari. Setelah menyelesaikan tumpukan pekerjaan wajib dan berupaya memenuhi tenggat waktu yang memburu, beralih sejenak ke persiapan bahan ajar; flip-chart berikut spidol warna, boneka peraga, pernak-pernik iseng lain, benar-benar mendatangkan kesenangan tersendiri. Hal-hal yang tidak bebas saya lakukan dan salurkan di keseharian kerja yang sudah memiliki aturan dan patokan baku tersendiri. Terasa seperti menemukan diri saya sendiri. Gejalanya? Saya bisa mengerjakan hal-hal tersebut dengan semangat dan senyum. Bayangan tentang anak-anak SD yang nanti akan duduk mendengarkan cerita saya pun melintas. Waktu saya tidak banyak, dalam pertemuan singkat tersebut saya ingin membuat mereka bisa memperoleh sesuatu. Kalau boleh berharap, saya ingin sesuatu itu bisa bermanfaat dan memunculkan semangat bagi mereka. 😀

Sejak awal briefing, kata-kata Pak Anies Baswedan yang paling terekam oleh ingatan dan menggugah saya adalah (kurang lebih seperti ini);

Sekolah-sekolah kita banyak yang kesepian, karena hampir setiap orang yang meninggalkannya tidak pernah kembali lagi, bahkan untuk sekedar menengok. Sekolah Dasar memberikan dasar pendidikan dan mengantarkan setiap kita ke jenjang lebih tinggi, banyak jenjang berikutnya, hingga kita menjadi seperti saat ini, hari ini. Coba sesekali luangkan waktu untuk sejenak mengunjungi Sekolah Dasar, dimanapun. Lihat apa yang kita bisa berikan untuk mereka, dari yang telah kita capai. Walau sedikit, pasti akan sangat berarti.

Ffiuuh! Penyampaian Pak Anies tidak lama, tapi hampir seluruh kata-kata beliau sarat dengan makna sederhana yang sangat dalam. Di beberapa bagian saya merasa seperti tercolek, tercubit, tertoyor dengan sukses dan juga maluuuuuuu. 😦 Siapa sih saya? Sudah berapa lama saya diberikan kesempatan bernafas? Dan sudah berapa lama pula dimampukanNya untuk berjalan di atas kaki sendiri? Apa saja yang selama ini sudah saya lakukan buat orang lain? Jangan-jangan saya hanya individu yang sekedar hadir setiap hari, mengisi absensi kehidupan dan menjalaninya sesuai putaran roda. Saya berupaya berlari ketika putaran roda kencang, lalu lamat-lamat berjalan saat ritme putaran menurun. Jangan-jangan saya tidak banyak berpikir dan melihat lagi apa sebenarnya manfaat usia saya bagi diri dan orang lain. Selesai jadwal kehidupan, titik. Sekian. Hiks!

Saya memahami keterbatasan yang ada pada diri sendiri. Energi saya tidak dahsyat untuk bisa berbuat banyak, apalagi berdampak luas. Tapi selalu ada keinginan terdalam untuk bisa ikut berarti, sesuai kapasitas saya. Ternyata Kelas Inspirasi memungkinkan untuk itu. Sangat bisa. Ini sungguh bukan lagi tentang saya, atau pribadi-pribadi para relawan lain yang terlibat. Tapi tentang gerakan berbuat baik yang luas, bermanfaat dan Insya Allah menular progressif. Hanya sehari, lewat kegiatan ini setiap relawan akan berbagi dan bercerita mengenai profesi yang dijalankan. Tujuannya, agar anak-anak SD mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih kaya, lewat interaksi langsung dengan para pelaku profesi. Menurut Pak Anies, Kelas Inspirasi ingin membangun mimpi anak Indonesia.

Lalu, bagaimana pada pelaksanaannya? Apa yang bisa saya berikan? 🙂 Di awal para relawan memang umumnya diskenariokan memberi dan berbagi. Ternyata, apa yang dialami tidak sepenuhnya begitu. Saya dan teman-teman relawan lain justru merasakan hal serupa: kami memberi secuil, tapi ternyata memperoleh sangat banyak. Kami hanya bercerita tentang apa yang dilakukan sehari-hari, mereka menyambutnya dengan belalak mata penuh antusias dan imajinasi untuk menjelajah ke masa depan. Senyum hangat anak-anak, pertanyaan, teriakan, spontanitas, keluguan dan semangat di binar bola mata mereka benar-benar sesuatu yang tak ternilai. Belum lagi suasana sekolah, sambutan kepala sekolah dan para guru yang ramah menerima kami.

Tentu saja, ada cerita lain di balik itu. Bagaimana kami berjibaku mengelola ketenangan diri dan memastikan efektivitas penyampaian materi di tengah kepungan, serbuan dan teriakan desibel tinggi dari mereka, terutama murid-murid di kelas kecil. Mengingat sebagian besar dari kami di keseharian tidak banyak berinteraksi dengan anak-anak secara klasikal. Memiliki anak pun ternyata tidak lantas membuat beberapa dari kami menjadi mudah menguasai kelas. Seru! Ahaa… saya sendiri spontan menyadari bahwa ternyata suara saya punya keterbatasan untuk berteriak. Ada saat-saat dimana terasa sudah maksimal mengeraskan volume, tapi bunyi-bunyian yang keluar justru lebih fals. :p Sempat saya juga merasakan pergesekan pita suara yang berakhir serak di sore harinya. Ternyata teman-teman relawan lain pun merasakan hal serupa. Membahas dan mentertawakan ketololan masing-masing menghadapi anak-anak di kelas sungguh jadi sangat menyenangkan. 🙂  Benar sekali apa yang disampaikan salah seorang relawan saat briefing; turun mengajar menghadapi anak-anak SD sehari saja, memunculkan kegembiraan luar biasa sekaligus juga kelelahan fisik yang membuat beberapa orang tiba-tiba merindukan spa dan pijat. :p Coba bayangkan, bagaimana dengan para Guru yang setiap hari memang tugasnya mengajar mereka? Turun langsung ke sekolah ternyata memunculkan kesadaran dan penghargaan lebih mendalam terhadap peran para Guru SD. Betapa tidak, sebelum bisa menjadi sarjana, berhasil di pekerjaan, merekalah yang berperan sebagai perintis di awal kehidupan pendidikan kita. Mereka yang benar-benar tekun dan bersabar membimbing setiap anak untuk mengenal huruf sebelum bisa membaca. Mengeja, sebelum bisa memahami kemudian. Sebelum menjadi seperti masing-masing kita hari ini. :’)

Terima kasih banyak Kelas Inspirasi, sudah menyertakan saya dalam ‘konspirasi’ cantik untuk menginspirasi anak-anak, yang kepada mereka semualah kehidupan bangsa ini kelak kita percayakan. Lewat kegiatan ini selain siswa dan guru, saya juga dipertemukan dengan teman-teman baru yang punya semangat dan idealisme untuk berbuat; Alya, Amar, Anin, Pak Charma, Citra, Mas Dammer, Denok, Mas Irkham, Laras, Pak Leo, Rendy, Mas Ricky, Mbak Rindu, Vendy, Wira dan tentu saja Gilang mentor kelompok yang menggelegar! 😀 Sungguh saya tidak menolak untuk kembali ditugaskan, menjadi bagian untuk menyebarkan dan menularkan semangat positif. Senang rasanya bisa jadi bagian keciiiiiiiiil dari yang nimbrung berbuat, ikut menyalakan lilin. Bukan semata mengutuki kegelapan. 🙂

Seolah

Saya selalu berpikir bahwa manusia dengan dua mata di depan, sampai kapan pun pasti memiliki keterbatasan dalam memandang. Apa yang cepat dilihat selalu yang ada di depan. Sementara itu, memerlukan upaya lebih agar kita bisa melihat apa yang di samping dan di belakang. Seolah A, padahal AB. Seolah anu, padahal anu dan itu. Pemahaman dan pengalaman ‘seolah’, apabila tidak dicermati dengan lebih dalam. Bukan soal mana yang lebih benar, namun dari sisi ragam sudut pandang yang (seharusnya) bisa lebih kaya. Berdasarkan tebakan asal saya, desain letak mata di kepala manusia diciptakan Tuhan dengan pesan: ‘apapun yang kamu lihat, selalu hanya sebagian.’ Dalam hal ini telunjuk mengarah pada wajah saya sendiri;

Jadi jangan hanya melihat, tapi juga perhatikan.

Jangan hanya mendengar, namun simaklah dengan seksama.

Diam sejenak, rasakan.

Misalnya; benarkah dengan memberi kita akan kehilangan? Atau orang lain yang menerima akan lebih diuntungkan? Sebagian pengalaman justru menunjukkan sebaliknya. Kebahagiaan pemberi seringkali lebih berdampak mendalam dan jangka panjang. Sementara kesenangan penerima kerap hanya terasa intens ketika menikmati pemberian. Jadi ketika berdonasi, seolah kita memberi. Padahal kitalah yang menerima jauh lebih banyak dari yang kita berikan.

Benar begitu? 😉

Tokyo Family

Di titik mana Anda berdiri saat ini?

Manusia muda mungkin melihat hidup jauh ke depan, mengisi waktunya dengan mengejar apa yang ingin diraih. Manusia tua bisa jadi merasa telah melalui puncak pencapaian dan melihat hidupnya mendekati akhir. Mereka kerap menengok ke belakang, mengenang apa yang pernah ada. Karena secara nyata sudah pernah melewati masa yang dijalani si muda, si tua bisa saja merasa lebih paham dan tahu, atau bahkan merasa benar dalam banyak hal. Dalam lingkup terdekat pertalian yang terhubung oleh darah -yaitu keluarga, pergesekan justru sering muncul karena adanya perbedaan persepsi ini.

Anak merasa ingin menentukan dan menjalani hidup dengan caranya, sementara orangtua tidak mudah untuk begitu saja melepaskan mereka, terlebih apabila dianggapnya si anak belum memenuhi kriteria ‘keberhasilan’ menurutnya. Anak yang begitu menggemaskan saat dipeluk dan ditimang semasa bayi, bisa menjadi sosok yang asing bagi orangtua ketika mereka beranjak dewasa. Demikian pula sebaliknya, anak bisa saja merasa bahwa sepanjang hidupnya ia selalu dianggap kurang, belum berhasil atau bahkan salah dan gagal oleh orangtua. Banyak yang menggarisbawahi komunikasi sebagai kunci. Kenyataannya tidak semua orang membangun kebiasaan dan memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik. Dan hal tersebut memang bukan sesuatu yang sederhana untuk dilakukan, terlebih bila sekian lama sudah terjebak dalam interaksi (dan komunikasi) yang kurang sehat. Dalam pandangan sederhana, saya menganggap ada yang lebih penting yang terlebih dulu perlu mendasari komunikasi; mencintaimemahami dan memaklumi. Dalam konteks keluarga, ketiga hal tersebut akan mengantarkan si muda dan si tua, anak dan orangtua untuk bertemu di titik tengah; jembatan komunikasi yang menghubungkan keduanya. Apalah artinya berkomunikasi bila tanpa didasari rasa sayang, kesediaan untuk memahami dan memaklumi. Toh, saling berteriak, membentak, bahkan melempar piring pun merupakan bentuk berkomunikasi. :-p

Di titik mana Anda berdiri saat ini?

Sebagai anak, sebagai orangtua, atau keduanya?

Apakah Anda menikmati dan mensyukuri interaksi yang ada?

Film apik berdurasi 146 menit berjudul Tokyo Family yang baru saja saya saksikan minggu lalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mengambil setting Tokyo masa kini, sang sutradara Yoji Yamada mencoba untuk membuat remake dari film garapan Yasujiro Ozu di tahun 1953 berjuluk “Tokyo Story”. Ya, benar. Film aslinya dibuat sekitar 60 tahun yang lalu. Pheeew! Sudah selama itu. 🙂 Saya tak hendak membahas komparasi keduanya, toh saya belum menyaksikan film Ozu tersebut, yang konon dianggap mahakarya pada zamannya.

Cerita dimulai dengan kunjungan Ayah dan Ibu yang tinggal jauh di pedesaan suatu pulau, ke Tokyo untuk menemui ketiga anaknya; Koichi (seorang dokter dengan istri dan dua orang anak), Shigeko (membuka salon rumahan bersama suaminya) dan Shoji (seorang pekerja serabutan yang menggarap setting panggung pertunjukan, dekorasi ruang konser dan sebagainya). Karakter Ayah digambarkan sebagai sosok tua yang kaku, dingin dan lebih banyak menggerutu. Baginya apa yang dikerjakan oleh anak-anaknya tidak pernah cukup memuaskan atau dianggap benar, terutama Shoji yang ia lihat tidak memiliki masa depan yang baik. Keberhasilan menjadi dokter sebagaimana yang diraih Koichi pun ia anggap memang sudah sewajarnya. Diam atau berkata pedas adalah dua hal yang paling dikuasainya. Sang Ibu justru sebaliknya, punya sikap dan perangai yang bertolak belakang sekaligus juga melengkapi si Ayah; tenang, hangat, penggembira, cenderung santai dan optimis melihat sekitarnya. Kecemasan atau kekhawatiran yang muncul selalu diimbangi pula dengan prasangka baik terhadap para anak. Ibu yang lebih ringan dan positif melihat segala sesuatunya ini kerap menjadi pintu penghubung komunikasi antara anak-anak dengan Ayah.

Dalam upaya  Ayah dan Ibu untuk mengetahui kabar dan perkembangan ketiga anak (dan keluarga masing-masing), mereka secara bergantian menginap di rumah yang berbeda. Di sinilah muncul gambaran yang kerap terjadi ketika si anak usia dewasa dikunjungi orangtua mereka. Senang menyambut kedatangan mereka, sekaligus juga bingung mengatur waktu dan kegiatan agar tetap bisa menemani mereka tanpa mengganggu jadwal rutin yang telah ada sebelumnya. Di satu titik, ketika semua anak sibuk dan tidak bisa mangkir dari pekerjaan, mereka pun sepakat untuk ‘mengungsikan’ Ayah dan Ibu sementara waktu ke Yokohama (sekitar 30 km dari Tokyo), memberikan keduanya fasilitas untuk bermalam di hotel mewah. Dalam pemikiran Koichi dan Shigeko, daripada bersempit-sempit di rumah mereka di Tokyo, pasti refreshing di hotel akan sangat menyenangkan bagi mereka. Kenyataannya, Ayah dan Ibu justru merasa bingung dan ‘terusir’, mendapati bahwa mereka sebenarnya saat itu tidak punya tempat di tengah kesibukan para anak. Malam menginap  mereka habiskan dengan memandangi gemerlap kincir raksasa dan lampu cantik lain yang menghiasi langit malam Yokohama, dari jendela kamar. Merasa bosan dan sayang membuang waktu di kamar mewah yang dianggap pemborosan, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Tokyo lebih awal. Hal ini ternyata membuat para anak pun terkejut, tidak siap dengan rencana lain. Merasa enggan menyulitkan, kedua orangtua berinisiatif memilih alternatif lain; si Ayah akan menginap di rumah sahabatnya dan si Ibu memilih untuk menginap di apartemen sempit Shoji.

Di titik ini terjadi hal-hal yang menurut saya menarik. Ayah mengisi pertemuan dengan sahabat lamanya, berbincang hingga larut di kedai sake dimana sebagian besar isi pembicaraan adalah keluhan, omelan dan ketidakpuasan akan kondisi dan pencapaian anak-anak mereka saat ini. Keduanya pulang dalam keadaan mabuk berat. Sementara Ibu menikmati malam dengan si bungsu Shoji, yang mengenalkannya pada calon istrinya: Noriko. Terkejut dengan kedatangan Noriko, namun Ibu juga mendapati bahwa gadis tersebut sangat baik dan menyenangkan. Mereka menikmati makan malam bersama. Ketika Noriko pulang, Shoji banyak bercerita tentang Noriko, termasuk pertemuan pertama mereka ketika sama-sama menjadi relawan di Fukushima pasca bencana tsunami. Sutradara cukup apik menggambarkan quality time; kedekatan Ibu dan anak, ketika sebelum tidur Shoji bercerita dengan binar mata mengingat Noriko dan membayangkan masa depan mereka. Si Ibu terus tersenyum dan tidak kalah antusiasnya menanggapi, dengan kehangatan seorang Ibu yang bungah melihat anaknya bahagia.

Di pagi hari ketika Shoji sudah berangkat kerja, Noriko singgah untuk mengantarkan sarapan. Di sini Ibu berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang masih ada di benaknya; apakah Noriko adalah orang yang tepat bagi Shoji? Apakah Shoji cukup layak buat menjadi suami Noriko? Ia menanyakan langsung pada Noriko, terutama apa pendapatnya tentang Shoji yang cenderung santai, belum punya perencanaan jangka panjang dan kehidupan yang mapan. Si Ibu sudah bersiap dengan apapun jawaban yang muncul, ketika di luar dugaan Noriko justru mengutarakan, “Saya tahu Shoji memang seperti itu. Kami banyak berselisih paham di awal hubungan. Tapi hal tersebut juga merupakan kualitas yang terbaik dari dirinya. Ia bersemangat, antusias, menikmati hidup saat ini apa adanya, tidak terpaku pada masa depan.”  Legalah si Ibu, merasa yakin bahwa Noriko dan Shoji memang merupakan pasangan yang serasi.

Dengan sikap yang berbeda, Ayah dan Ibu masing-masing memperoleh kesan dan kesimpulan yang berbeda pula mengenai kehidupan anak-anak mereka. Singkatnya:

‘mengeluhlah, menggerutulah. Anda pun akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal yang menyebalkan.’

‘terimalah, bersyukurlah. Anda akan menemukan lebih banyak lagi hal-hal yang menyenangkan.’

Rangkaian cerita selanjutnya menggambarkan bagaimana melalui hal dan kejadian tak terduga, ternyata masing-masing anggota keluarga justru ‘dipaksa’ untuk saling mengenal, memahami dan memaklumi. Ada bagian penting yang  kurang seru kalau saya paparkan seluruhnya di sini. :p Yang jelas, film keluaran 2013 ini cukup menarik untuk ditonton karena menggambarkan realita keluarga dan nilai-nilainya secara rapi dan menarik. Tapi buat Anda penyuka film action, mungkin saja berpeluang menjemukan karena tidak ada sama sekali adegan kejar-mengejar, tembakan dan teriakan histeris. 😉

Bagi saya pribadi, film ini meninggalkan pesan sederhana yang penting tentang keluarga: hargai dan syukurilah apa adanya, selagi masih ada.

GA 229, SOC-CGK

Akhir pekan lalu, saya dan suami bertolak kembali ke Jakarta dari Solo, melalui Bandara Adi Soemarmo. Saat tengah menunggu giliran masuk pesawat di tengah antrian panjang, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara sedikit gaduh di belakang. Spontan menoleh, beberapa orang pun melakukan hal yang sama. Bahkan tak sedikit yang bergegas menghampiri ke arah kerumunan. Sesosok pria dengan wajah sangat familiar berdiri di tengah-tengah orang yang berebut untuk menyapa dan berfoto bersama. Mengenakan celana jeans, kemeja putih bertangan panjang yang digulung, menyandang ransel hitam di pundak, ia terlihat sedikit lelah, namun secara umum terkesan santai, tenang dan ramah. Pria itu menebar senyuman khasnya. Dia orang nomer satu di DKI, Joko Widodo yang tenar dengan sapaan akrab Jokowi. 

Saya ikut berdegup melihat kehadiran beliau, terutama melihat antusiasme orang-orang di ruang tunggu keberangkatan. Seolah semua merasa ingin mendekat dan menyapa. Sangat tergelitik untuk ikut menghampiri beliau, namun saya pun separuh mengingatkan diri sendiri sebenarnya, jangan sampai proses boarding terganggu. Terlebih, kerumunan berjarak agak jauh dari titik kami berdiri dan terhalang beberapa penumpang lain. Saya berusaha fokus pada antrian, meski sesekali masih juga melihat ke belakang. ‘Dzziig!’ Ada rasa yang sedikit asing, namun membuat saya tiba-tiba dijalari perasaan haru mendalam. Semacam cubitan bercampur pelukan hangat.

Belum tuntas keheranan, berikutnya saya kembali menyaksikan sesuatu yang langka di negeri ini: seorang pejabat publik terkemuka ikut di dalam antrian masuk ke pesawat, untuk kemudian duduk di bangku belakang: kelas ekonomi! Dalam penggambaran bak tokoh kartun, mungkin rahang saya sudah terlepas jatuh ke lantai. Baru kali ini saya duduk lebih depan daripada seorang pejabat. 😛 Bukan tanpa alasan. Sudah terlalu sering saya menyaksikan bagaimana pongahnya perangai para penguasa ketika menggunakan fasilitas publik. Jangankan mereka, para asisten dan lingkaran terdekatnya juga kerap bertingkah berlebihan, selalu minta dilayani, diistimewakan dan dimaklumi setiap kali mereka hadir. Tidak banyak yang lebih memuakkan dari hal tersebut.  

Pria itu, datang seorang diri tanpa kawalan. Sikap tubuhnya begitu alami, tenang dan apa adanya. Ia membaur dengan orang lain tanpa rasa canggung atau kedekatan buatan ala pejabat pada umumnya; senyum lebar saat tersorot kamera TV dan kembali basi saat off air. Sikap yang saya yakini hanya bisa muncul lewat adanya keinginan tulus untuk menghargai orang lain, dari hatinya. Tanpa upaya ‘lebay’ atau jumawa berlebihan, saya melihat bagaimana ia disambut reaksi spontan dan sikap hangat yang diperlihatkan oleh orang-orang di sekitar beliau. Sangat mungkin dada saya sesak karena melihat hal yang sangat bertolak belakang dengan pandangan umum, namun merupakan sesuatu yang sangat saya rindukan: pemimpin sebenarnya. Bukan semata pejabat; seorang yang tengah menjabat posisi sebagai pimpinan. Turun dari pesawat, Pak Jokowi mengikuti jalur umum; antri, turun tangga dan menaiki bus bandara yang mengantarkan ke terminal kedatangan; seorang diri. Kepala saya langsung berhitung mengkalkulasi taksiran biaya yang bisa dihemat antara perjalanan beliau dibandingkan dengan para pejabat yang memerlukan antek-antek dan tetek bengek yang lebih ke arah tiada manfaat itu. 

Image

Apa yang baru saja saya saksikan membuat sepanjang penerbangan dan perjalanan saya pun menjadi super cengeng; bukan karena turbulensi atau macet Jakarta. Tapi karena mendapati sesuatu yang sangat langka dan berharga. Rasanya baru kali kemarin selama di udara saya memanjatkan doa yang berbeda tema. 😉 Dari dasar hati terdalam saya memohon agar Allah SWT melimpahkan berkah dan kemudahan bagi para pemimpin yang benar-benar ikhlas dan tulus bekerja untuk rakyat. Semoga mereka diberikan kesehatan lahir batin, menghadapi masalah dan tantangan yang begitu banyak di negara ini. Saya tidak berhasil mengingat, kapan terakhir kali saya berdoa hal yang sama. Hhm.. sebegitu parahnya mungkin persepsi saya tentang pemimpin/para pejabat pada umumnya, sehingga hati saya kurang tergerak untuk mendoakan. 😮

Suami saya pun tersenyum menyetujui, ketika saya mendeklarasikan bahwa perjalanan pulang kemarin merupakan ‘goceng paling berharga yang pernah dibayarkan’. Hehe.. kebetulan dengan memanfaatkan akumulasi mileage frequent flyer, masing-masing kami memang hanya membayar Rp. 5000,- untuk penerbangan tersebut. 😀